
MaxFM Waingapu, SUMBA – Memasuki puncak musim hujan, masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.
Himbauan ini disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, Rabu 28 Januari 2026. Kata dia berdasarkan analisis kondisi atmosfer terkini puncak musim hujan yang berlangsung sejak pertengahan Januari 2026 ini diprediksi akan bertahan hingga akhir Februari 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot’ek menjelaskan, saat ini BMKG mengidentifikasi lima fenomena atmosfer utama yang menjadi pemicu potensi cuaca ekstrem di wilayah NTT, yakni, aktifnya Monsun Asia yang menyebabkan aliran massa udara basah dari Asia memperkuat pembentukan awan hujan memanjang, mencakup wilayah Nusa Tenggara.
Disamping itu masih penjelasan Sti Nenot’ek, terjadi pusat tekanan rendah di Selatan NTT, dampaknya bisa menyebabkan pusat tekanan rendah yang berpotensi berkembang menjadi bibit siklon tropis di selatan NTT, situasi ini bisa meningkatkan curah hujan, kilat, dan angin kencang secara signifikan.
Lanjut Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, fenomena atmosfer lainnya di NTT akan terja gelombang atmosfer tropis aktif berakibat aktivitas gelombang atmosfer seperti MJO, Rossby, dan Kelvin mendorong pertemuan udara lembap yang memicu pembentukan awan hujan.
Situasi lain kata dia, Indeks IOD Negatif dan La Nina Lemah, kondis Indian Ocean Dipole (IOD) negatif dan La Niña lemah meningkatkan aliran udara basah dari Samudera Hindia ke Indonesia, termasuk NTT, serta kelembapan udara tinggi, mengakibatkan kelembapan udara di lapisan atmosfer yang tinggi, didukung suhu muka laut hangat, menyediakan suplai uap air yang melimpah untuk pertumbuhan awan hujan. [HD]








