Scroll to Top
Penilaian Formatif Bukanlah Alat untuk Melabel Siswa
Posted by maxfm on 15th Desember 2020
| 862 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan [Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Materi penilaian formatif diawal pembelajaran sebagai tes diagnostik, yang menjadi pokok tulisan saya dalam dua tulisan sebelumnya, mendapat banyak feedback yang cukup menarik. Diantaranya adalah kekhawatiran bahwa nantinya guru akan melabel siswa dalam level tertentu, dan siswa akan terus berada di kelompok yang sama sampai tahun ajaran berakhir.

Jika kondisinya demikian, tentu ini tidaklah adil bagi siswa. Mengapa? Karena kita akan menghilangkan satu kesempatan bagi siswa untuk belajar dari rekannya (Peer Learning), padahal Peer Learning adalah salah satu cara belajar yang baik. Karenanya, sebagai guru kita juga harus ingat untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk: (1). Belajar konsep/keterampilan baru bersama dengan kita dalam kelompok (2). Belajar bersama dengan teman dalam sebuah kelompok yang beragam kesiapannya (3) Belajar mandiri untuk melatih konsep/keterampilan baru (3). Belajar mandiri (Gradual Release Of Responsibility Framework – dalam Better Learning Through Structured Teaching; Douglas Fisher; 2013)

Lalu bagaimana caranya kita menggunakan hasil penilaian formatif untuk untuk ketiga proses belajar di atas? Kita dapat menggunakan dua pendekatan yakni penilaian formatif sebelum belajar sebuah konsep/keterampilan baru berlangsung dan penilaian formatif di tengah sesi belajar. Dimana keduanya mempunyai fungsi yang berbeda.

Penilaian formatif sebelum pembelajaran dimulai diperuntukkan untuk mengetahui kesiapan siswa terhadap sebuah topik/keterampilan/konsep yang akan diajarkan. Ketika kita mengetahui kesiapan siswa, maka kita akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat diberikan pada mereka sesuai kesiapannya masing-masing. Lalu mengapa harus Match? Ketika siswa belajar sesuai kesiapannya maka siswa akan lebih cepat memahami sebuah konsep/keterampilan/ topik yang akan diajarkan, karena apa yang diketahui siswa sebelum mereka belajar (Prior knowledge) akan membantu mereka belajar lebih baik.

Jikalau guru melihat bahwa siswa belum cukup memiliki Prior knowledge yang cukup untuk mempelajari hal baru maka ini artinya guru perlu memberikannya terlebih dahulu. Lalu bagaimana caranya? Ilustrasinya adalah sebagai berikut:



Guru memilih kompetensi dasar dari kurikulum. Misalnya kurikulum yang akan guru ajarkan adalah matematika K.D 4.2 Menyelesaikan masalah penjumlahan dan pengurangan bilangan yang melibatkan bilangan cacah sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan penjumlahan dan pengurangan. Untuk mengetahui pengetahuan awal (Prior Knowledge) siswa tentang hal ini maka guru dapat melakukan penilaian formatif jenis pra-penilaian (Pre-Assessment) sebagai berikut:

Menggunakan benda-benda riil (contoh: batu, biji-bijian, dll) kemudian meminta siswa membandingkan mana jumlah yang lebih besar dan mana yang lebih kecil. Dengan begini guru akan tahu bahwa siswa faham pada konsep dasar pengurangan adalah ketika jumlah bilangan yang lebih besar dikurangi bilangan yang lebih kecil.

Kegiatan pra-penilaian juga dapat dilakukan dengan memberikan soal sederhana. Guru dapat memberikan soal penjumlahan atau pengurangan. Soal bisa dengan gambar atau dengan lambang bilangan. Dari sini guru akan punya cukup informasi pengetahuan awal yang siswa miliki.




Setelah melakukan kegiatan pra-penilaian di atas, guru membuat catatan tersendiri. Ada berapa siswa yang masih pada tahapan membandingkan dua bilangan cacah? Ada berapa siswa yang sudah faham konsep penjumlahan/pengurangan? Berapa siswa sudah faham konsep namun masih perlu banyak latihan? Catatan ini perlu dibuat agar guru tahu perkembangan dari masing-masing siswa.

Guru perlu mengingat bahwa catatan ini dibuat untuk memantau perkembangan siswa, dan bukan untuk melabel siswa. Catatan ini sifatnya dapat sewaktu-waktu berubah (fluid). Bisa jadi siswa yang awalnya ada di tahapan belum siap belajar penjumlahan/pengurangan namun setelah diberikan pengajaran yang tepat, akan berubah melesat dan pindah ke dalam kelompok yang paling siap.

Pertanyaan selanjutnya adalah menggunakan penilaian formatif di tengah sesi belajar. Bagaimana caranya? Apakah harus selalu diberikan tes atau ulangan harian? Tidak mesti.
Ilustrasinya adalah sebagai berikut:



Setelah guru memiliki data dari pra-penilaian (pre-assessment), guru mengetahui bahwa siswa di kelasnya terbagi ke dalam tiga kelompok kesiapan yang berbeda. Ada siswa yang masih dalam tahap membandingkan besar kecilnya bilangan, ada siswa yang sudah faham konsep penjumlahan dan pengurangan namun masih butuh latihan agar bisa lancar melakukan dua operasi hitung ini, dan ada yang sudah faham konsep dan sudah lancar.

Selanjutnya guru mendisain tiga kegiatan belajar berbeda untuk mereka. Misalnya pada kelompok I yang paling membutuhkan bantuan guru akan menggunakan benda riil untuk terus memperkuat konsep kepekaan bilangan (membandingkan bilangan yang lebih besar/kecil), kelompok II akan bekerja dengan penjumlahan/pengurangan dengan benda riil, dan kelompok III akan bekerja dengan benda riil dan juga beberapa soal.

Guru akan terlebih dahulu membantu kelompok siswa yang paling membutuhkan bantuan, sementara dua kelompok lain akan bekerja secara mandiri. Saat bekerja dengan kelompok satu yang paling membutuhkan bantuan, guru kemudian dapat mengecek pemahaman mereka dengan melakukan penilaian formatif sederhana. Banyak cara untuk melakukan hal ini di antaranya:




(1). Guru meminta siswa menggambar di buku kerja masing-masing emoticon wajah senyum ketika siswa merasa bisa, atau emoticon wajah datar apabila mereka masih belum cukup paham, dan wajah sedih apabila sama sekali belum paham.

(2) Guru bertanya pada siswa bagaimana perasaan mereka setelah mengerjakan 1-2 soal.

(3) Guru meminta mereka mengangkat bendera kecil. Misalnya bendera hijau sebagai tanda siswa faham, bendera kuning tanda untuk kurang begitu mengerti, dan bendera merah untuk tanda bahwa siswa kesulitan.

(4) Guru meminta siswa menunjukkan jempol ke atas sebagai tanda bahwa mereka paham dan jempol ke bawah sebagai tanda bahwa siswa butuh bantuan.

(5) Guru memberikan soal sederhana.

Dengan melakukan penilaian formatif seperti ini guru langsung mendapatkan umpan balik langsung (Immediate Feedback) atas proses pembelajaran. Jika ada siswa yang belum begitu paham, maka guru bisa langsung memberikan bantuan pada siswa yang membutuhkan. Jika siswa sudah paham, maka guru dapat pindah untuk memberikan pengajaran langsung pada kelompok II dan III, karena meskipun siswa dalam kelompok ini sudah paham namun mereka juga tetap memiliki hak untuk diajar oleh guru, dengan cara yang berbeda dengan kelompok I tentunya.

Setelah itu guru dapat mendisain kegiatan kelompok untuk berlatih konsep/keterampilan/topik yang baru saja diajarkan. Guru dapat memasukkan siswa pada sebuah kelompok yang memiliki kesiapan berbeda-beda. Siswa dapat saling membantu dalam kelompok. Beri siswa target agar setiap anggota kelompok dapat menyelesaikan tugas mereka bersama-sama. Sementara itu guru dapat berkeliling kelas dan mengobservasi sambil melakukan penilaian formatif dengan cara-cara yang disebutkan di atas. Karena mencatat perkembangan siswa menjadi hal yang penting untuk dilakukan pada sesi ini. Jika dilihat masih ada siswa yang kesulitan, maka guru akan mencatat. Guru bisa memberikan pengajaran langsung pada siswa-siswa tersebut saat itu juga atau di lain kesempatan.



Berikutnya, guru dapat memberikan tugas mandiri untuk dilakukan siswa secara individual. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana siswa sudah memahami sebuah konsep/ keterampilan/ topik yang sudah diajarkan. Tak perlu banyak soal. Cukup 1-3 rasanya sudah bisa digunakan untuk melihat sejauh mana penyerapan siswa. Jadikan data/hasil dari kegiatan ini sebagai alat untuk memutuskan apakah guru perlu mengulang mengajarkan kembali agar siswa lebih mahir, atau apakah guru bisa pindah pada topik berikutnya. Kegiatan ini sekaligus menjadi tes sumatif dan menjadi titik awal data penilaian formatif untuk memutuskan kegiatan pembelajaran baru.

Perlunya Penilaian Formatif Awal-Tengah-Akhir




Salah satu perusahaan otomotif Jepang Toyota, menerapkan prinsip Kaizen dalam melakukan proses perkembangan berkelanjutan (Continuous Improvement). Dimana proses produksi mobil dihentikan jika disalah satu lini produksi terdapat kesalahan. Lini produksi tersebut dihentikan kemudian dicari akar permasalahannya. Sampai solusi ditemukan kemudian diadakan perbaikan barulah proses produksi dilanjutkan.

Akibatnya, ketika sampai di lini produksi terakhir maka kecil kemungkinan terjadi defect (Kerusakan produk). Jikalau memproduksi benda mati saja dilakukan proses seperti ini, lalu pendidikan yang berurusan dengan manusia seharusnya bisa lebih baik dari proses yang terjadi di perusahaan otomotif dimaksud bukan? Karena yang sedang kita olah adalah manusia-manusia yang nantinya akan berkontribusi terhadap perkembangan setiap lini kehidupan negara kita, Indonesia.



Proses penilaian formatif semata-mata ditujukan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat mengembangkan potensi terbaiknya. Untuk mencapainya, siswa harus diberi kesempatan untuk belajar dengan kita bersama kelompoknya, belajar bersama teman-temannya dari kelompok kesiapan berbeda, dan juga belajar secara mandiri. Di awal mungkin akan terasa berat, namun jika kita berangkat dari pemikiran bahwa yang kita lakukan ini adalah untuk kebaikan anak-anak kita semua, maka pastinya kita akan tergerak untuk melakukan apa yang dirasa perlu dan harus dilakukan. [Oleh: Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan]

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons