Scroll to Top
Merawat Tradisi Pangan Lokal di Lereng Kendeng
Posted by maxfm on 13th Juni 2020
| 1123 views
Pegunungan Kendeng yang membentang di pesisir utara Jawa. Kawasan karst ini memiliki sumber alam yang melimpah berupa; sumber mata air, sungai bawah tanah dan gua-gua yang menjadi tempat habitat alami kelelawar dan spesies-spesies binatang liar lainnya. [Foto: Farida Indriastuti]

MaxFM, Waingapu – Angin bergerak menerpa ranting-ranting pohon yang menimbulkan suara “Kraaaak.” Suara “cicit cuit” burung-burung menghasilkan komposisi bunyi yang ritmik– mewarnai pagi di Pegunungan Kendeng yang hijau bak permadani. Tebing karst dikejauhan. Tampak awan berarak melintasi langit biru. Alam Pegunungan Kendeng masih terjaga lestari.

Para petani bergerak melewati parit sempit, menuju lahan siap tanam. Beberapa petani menyunggi bakul berisi benih kacang, pupuk kompos organik hingga makanan-minuman. “Warga Kendeng punya tradisi ketahanan pangan sejak dulu. Sekarang pangan tidak gampang dijual. Pangan lebih banyak disimpan daripada dijual. Apalagi selama Pandemi Corona ini, harus hemat uang dan pangan lokal, “ujar Gun Retno, warga Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Para petani Kendeng membuat lubang dengan batang kayu kering untuk menanam benih kacang. [Foto: Farida Indriastuti]




Bagi Masyarakat Adat Samin di Pegunungan Kendeng, atau yang akrab disapa Sedulur Sikep, menyimpan pangan lokal menjadi tradisi yang turun-temurun. Di tengah mewabahnya virus Corona, beragam pangan lokal seperti gabah, jagung putih, kacang, kedelai, singkong dan panen lain– menjadi lumbung pangan. Tidak cuma itu, Sedulur Sikep memenuhi kebutuhan gizi protein hewani dari ternak unggas, kambing, sapi dan budidaya ikan sendiri.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons