Scroll to Top
Budaya Makan Sirih-Pinang
Posted by maxfm on 17th Oktober 2014
| 5069 views
Sirih Pinang Kapur
Sirih Pinang Kapur

MaxFM, Waingapu – Pada suatu hari seorang camat bergurau dengan saya. “Frans kuat makan sirih, ya?”

“Ini kan budaya kita, Pak”, jawab saya. “Ya, tapi sudah kuno, carilah yang modern atau yang agak modern. Sirih pinang tidak cocok buat Frans” “Kalau merokok, bagaimana, Pak?” “Itu yang benar, saya setuju” “Kalau  begitu numpang pesan, Pak. Kalau mencari jodoh buat putera Pak jangan bilang meminang anak orang, itu sudah kuno, tapi merokok anak orang saja”  “Ah, Frans ini ada-ada saja”, katanya mengakhiri gurauan kami.

Belasan tahun kemudian putera Pak Camat menemukan jodohnya. Sebagai orang Sumba tentu saja harus membayar belis, tapi sebelum itu harus melalui tahap-tahap. Mengetuk pintu, meminang, dan membayar belis. Saat bersamaan saya menulis anekdote tadi di majalah yang ada di kabupaten. Pimpinan Redaksi yang paham siapa Pak Camat yang dimaksud dalam anekdote bergurau pada saya. “Frans, tidak tahu lagi Pak Camat (waktu itu sudah dialihkan ke staf) pakai ungkapan yang mana ketika nanti menghadap orang tua calon anak mantu. Meminang atau merokok?”  “Yang pasti meminang”, jawab saya.

Pada tahun 1980, seorang wanita Jerman, Maria Alakoque Renate Knapp mengadakan penelitian tentang budaya makan sirih. Dalam skripsinya ternyata budaya makan sirih pinang itu bukan hanya orang Sumba, melainkan seluruh Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.  Bagaimana dengan kebiasaan makan sirih itu sebenarnya? Ceritanya demikian.  Tersebutlah dua gadis kembar di Malaka Tana Bara asal nenek moyang orang Sumba. Yang kakak mncintai seorang pemuda rupawan. Dan cintanya pun berbalas. Gayumg bersambut, kata berjawab, kata peribahasa.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons