Scroll to Top
RSUD URM Waingapu Butuh Mesin Apharesis
Posted by maxfm on 15th Maret 2021
| 339 views
Penanggung Jawab UDD RSUD Umbu Rara Meha – dr. Maria Hera, Sp.PK., M. Erg. [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha (RSUD URM) Waingapu membutuhkan mesin apharesis untuk pemilahan plasma darah konvalesen yang disumbangkan penyintas Covid-19 untuk membantu pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat. Dengan mesin apharesis, plasma konvalesen dari seorang penyintas dapat disuntikkan kepada lima pasien positif Covid-19.



Dokter Spesialis Patologi Klinik pada RSUD URM Waingapu, dr. Maria Yosefina Mau Hera, Sp. PK., M. Erg. mengatakan saat ini UDD RSUD URM Waingapu dapat melakukan proses untuk menyaring plasma saat ditemui di Unit Donor Darah (UDD) RSUD URM belum lama ini.

“UDD RSUD URM Waingapu dapat melakukan proses untuk menyaring plasma konvalesen dari penyintas untuk diberikan kepada penderita Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat, kata Dokter Spesialis Patologi Klinik pada RSUD URM Waingapu, dr. Maria Yosefina Mau Hera, Sp. PK., M. Erg.

Namun karena saat ini RSUD URM belum memiliki mesin apharesis ini, maka saat ini pihaknya hanya bisa memberikan plasma konvalesen kepada satu pasien Covid-19 dari setiap penyintas. Padahal jika ada mesin apharesis setiap penyintas dapat membantu lima pasien positif Covid-19 dari satu kali donor plasma konvalesen.




Menurutnya mesin apharesis ini sendiri tidak hanya berguna untuk membantu pasien Covid-19 melainkan juga bisa digunakan untuk memproses darah dalam penanganan pasien yang membutuhkan komponen darah tertentu, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), dan penyakit lainnya yang membutuhkan darah.

“Kalau untuk demam berdarah, satu orang pendonor kita bisa memberikan trombositnya hingga ke 10 pasien,” jelasnya.

Karena itu diharapkannya ke depan pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan mengadakan mesin apharesis sehingga pelayanan kesehatan kepada pasien yang membutuhkan darah dapat dimaksimalkan dari setiap kantong darah yang disumbangkan pendonor.



“Pendonor kita masih cukup terbatas, sehingga kalau ada mesin apharesis akan sangat membantu,” tegasnya.

Penanggung jawab UDD RSUD URM Waingapu ini menambahkan darah yang didonorkan oleh setiap pendonor itu terdiri dari sejumlah komponen darah dan pasien yang membutuhkan transfusi darah tidak membutuhkan semua komponen darah tersebut. Karenanya setelah mendapatkan darah dari pendonor, pihaknya terlebih dahulu harus melakukan pemilahan komponen darah, agar nantinya komponen darah yang diberikan kepada pasien sesuai dengan kebutuhan.

Untuk penyintas Covid-19 yang sudah bersedia menjadi pendonor plasma konvalesen di UDD RSUD URM Waingapu, dokter yang akrab disapa dr. Maria Hera ini menguraikan jumlahnya masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penyintas Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur.

Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan penyintas Covid-19 belum bisa menjadi pendonor darah covalensen, antara lain karena penyintasnya masih berumur dibawah 17 tahun juga karena penyintas memiliki penyakit penyerta, serta ada penyintas yang belum bersedia menjadi pendonor plasma konvalesen karena masih ada trauma dengan kondisi saat menjadi pasien Covid-19.



“Kita harapkan teman-teman kita penyintas bisa mau menyumbangkan plasma konvalesen nya bagi saudara-saudara kita yang bergejala sedang hingga berat saat terpapar Covid-19,” ungkapnya.(ONI)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons