Scroll to Top
El Nino, Gagal Tanam, Gagal Panen dan Ancaman Rawan Pangan di Sumba Timur
Posted by maxfm on 5th Februari 2016
| 1257 views


Keluarga Ibu Karanja Atajawa Sedang Porak Jagung di Desa Kalamba [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Jagung yang ada tinggal satu karandi ( ikat jagung ) yang digantung di bagian atas dalam rumah, kami sekeluarga tidak punya lagi persediaan makan selain sisa jagung yang digantung itu kata Karanja Atajawa ( 48 th. ) di rumahnya di Desa Kalamba, Kecamatan Haharu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur NTT.

Siang itu saya menjumpai Karanja Atajawa yang sedang duduk bersama keluarga lain di rumah panggunggnya, keluarga lain sedang memporak jagung ( mengeluar jagung dari tongkolnya ), kata Karanja Atajawa warga di desanya mengalami situasi yang hampir sama yakni sudah tidak ada lagi persediaan makanan di rumah karena jagung yang mereka tanam dan jadi harapan untuk dipanen semuanya kerdil karena kurang hujan.

“Macam saya ini, hanya tidak sampai juga 5 ikat kalau dia isi, kita bakar habis memang dia ini, kan dia tidak hujan waktu kita tanam, tumbuh tidak baik, kita tanam ulang lagi tidak tumbuh juga, habis sudah bibit mau apa lagi,” kata warga Kalamba Karanja Atajawa.

Karanja Atajawa melanjutkan karena hujan yang tidak menentu dirinya dan warga desa lainnya alami gagal panen.

Ukuran Jagung Yang Akan di Masak di Keluarga Karanja Atajawa [Foto: Heinrich Dengi]

“Gagal panen kita masuk di hutan sudah Umbu, kita pigi gali gadung ambil itu sudah untuk kita makan, hanya itu saja ubi gadung selain makan ini (jagung), banyak sudah orang, kita masuk semua sudah, ini bapa desa juga masuk, kalau tidak masuk ( hutan ) mau harap apa lagi.”

Sambil keluarga yang lain memporak jagung Ibu Karanja Atajawa menunjukkan kepada saya jumlah jagung yang akan diambil untuk sekali masak dengan kedua tangannya yang terbuka, kata dia cucunya yang kecil juga makan bubur jagung yang ditambah dengan daun labu atau daun lainnya yang bisa dibuat campuran bubur.

Selain ancaman gagal tanam dan gagal panen akibat kurang curah hujan, ancaman lain yang bisa menyebabkan gagal panen adalah angin kencang, kalau sudah dang angin kecang kata dia, bunga jagung akan berguguran dan sudah pasti akan sedikit panennya.

Sememtara itu di dusun Wunga Timur Desa Wunga Kecamatan Haharu ancaman gagal tanam dan gagal panen juga terlihat jelas. Hingga akhir Januari 2016 belum banyak warga yang menanan di lahannya, terlihat hamparan kebun yang masih kosong, padahal biasanya di bulan Januari sudah mulai terlihat tanaman jagung yang tinggi, selain itu juga biasanya ubi dan kacang tanah sudah ditanam, saat saya mengunjungi Wunga mingu terakhir Januari 2016 terihat sebaian besar lahan warga belum ditanami.

Matius Turanjanji warga Dusun Wunga Timur mengatakan, baru jagung yang ditanamnya, ubi kayu dan kacang tanah belum ditanam, karena sudah lama sekali tidak turun hujan, hujan terakhir yang diingat Matius pada 29 Desember 2015, setelah kami tanam jagung, tidak hujan lagi seterusnya.

Dalam perjalan saya ke Wunga Timur terlihat jagung yang ditanam di kebun Matius Turajanji kerdil dan daunya tergulung pertanda panen gagal, dan belum terlihat ubi kayu dan kacang tanah yang ditanam.

Di dusun Bidihunga, Desa Kadahang, jagung masih kecil dan terlihat tidak segar, tokoh masyarakat setempat Welem mengatakan banyak warga Dusun Bidihunga yang belum tanam jagung.

Kebun Pak Welem di Bidihunga, Desa Kadahang, Haharu [Foto: Heinrich Dengi]

Banyak juga yang sudah mati kembali jagungnya, sebagian besarlah, orang di sini umumnya makan jagung dan ubi -ubian,” kata tokoh masyarakat Bidihunga Welem.

Situasi di Kecamatan Hahar juga sama seperti yang terjadi di Waingapu dan sekitarnya, ini artinya situasi kekeringan hampir merata terjadi Sumba Timur.

Salah satu warga Kampung Kalu Kelurahan Prailiu Kecamatan Kambera Sumba Timur Dodi Wohangara bilang jagung yang ditanamnya pada layu.

Salah Satu Kebun Warga di Padadita, Kelurahan Prailiu, Kambera [Foto: Heinrich Dengi]

“Waii sedih sekali, sumur pada kering semua ni, jagung pada layu semua, ini tidak ada harapan, mau siram sayur juga tidak bisa, sumur sudah kering sayur sudah tidak bisa, ini sudah mau sebar bibit tapi karena maslah air akhirnya kendalah sudah tidak bisa tanam sayur,” ujar Dodi Wohangara.

Sementara itu Penjabat Bupati Sumba Timur Yohanis L. Hawula di ruang kerjanya mengakui situasi kemarau panjang yang menyiksa para petani, kata Yohanis pada umumnya di Indonesia mengalami El Nino sampai Februari.

Penjabat Bupati Sumba Timur, Yohanis L. Hawula [Foto: Heinrich Dengi]

“Kalau Februari berarti masyarakat baru mulai menanama terutama padi, terjadi pergeseran musim panen, dari januar sampai april mesti ada alanglah-langkah yang dimbil pemerintah, kemarin saya baru tandantangan penetapan sebagai kondisi darurat, terhitung dari 13 Januari sampai 13 maret 2016 selama 2 bulan, nanti bisa diperpanjang,” ujar Penjabat Bupati Sumba Timur Yohanis L. Hawula.

Tambah Penjabat Bupati Sumba Timur Yohanis L. Hawula pemerintah harus fokus untuk mengatasi mengatasi ini dengan berbgai program bantuan jangka pendek.

Kebun Matius Turajanji di Dusun Wunga Timur, Haharu [Foto: Heinrich Dengi]

“Juga sebagai dasar kita mengusulkan ke Pemerintah Propinsi juga ke Pemerintah Pusat, termasuk penggunaan Cadangan Beras Pemerintah 100 ton, tapi memang kita hati-hati karena hanya 100 ton, tentu kita hati hati antara Oktober sampai Desember tahun ini,” jelas Penjabat Bupati Sumba Timur Yohanis L. Hawula.

Data dari Stasiun Meteorologi Waingapu memperjelas situasi El Nino yang membawa angin kering melewati daratan Sumba yang mengakibatkan musim bergeser dan kekeringan panjang.

Kepala Station Meteorolgi Waingapu Elias Himahelu menjelaskan, seharusnya pada Januari 2016 Sumba Timur sudah masuk musim penghujan, tetapi karena ada anomali maka musim hujannya bergeser dan disebut dengan musim hujan kering.

Kebun Salah Satu Warga di Dusun Wunga Timur, Haharu [Foto: Heinrich Dengi]

“Karena El Nino, penyimpangan suhu permukaan laut sebelah barat Peru masih tinggi, sedangkan suhu permukan laut kita, cenderung di bawah normal sehingga pembentukan awan masih susah, jadi pada pembentukan awan pada siang hari biasanya terjadi hujan, tetapi sekarang ini bila awan terbentuk tiba-tiba hilang juga akarena angin tumaran masih kuat,” kata Elias Himahelu Kepala Stasion Meteorolgi Waingapu.

Lanjut Kepala Stasiun Meteorolgi Waingapu Elias Himahelu, anomali musim karena El Nino diperkirakan akan melemah pada Februari hingga April, akibatnya diprakirakan curah hujan akan berkurang hingga pertengahan Februari dan hujan mulai normal lagi seperti musim penghujan di pertengahan Ferburari hingga April.

Pergeseran musim akibat El Nino memang belum bisa diantisipasi masyarakat, informasi prakiraan cuaca yang disampaikan Stasiun Meteorologi Waingapu belum dijadikan rujukan utama oleh semua pihak. Akibatnya warga berspekulasi memulai musim tanam, ketika hujan di Desember lalu datang, warga langsung menanam, setelah jagung ditanam hujan tidak datang lagi beberapa minggu, tentu saja bibit jagung tidak bisa tumbuh. Langkah lain yang diambil warga, siapkan lagi bibit jagung dari persediaan jagung terakhir yang masih ada di rumah untuk ditaman bila hujan datang.

Awal Januari tahun ini beberapa kali hujan turun dan warga langsung menanam bibit jagungnya, setelah jagung ditaman hujan tidak turun lagi sampai akhir bulan. Mau tanam berikutnya sudah tidak ada lagi bibit jagung yang tersedia. Memang ada juga jagung yang tumbuh di beberapa wilayah Haharu juga di Waingapu dan sekitarnya, tetapi kondisinya memprihatinkan, jagung masih pendek sudah berbunga, atau daun jagung tergulung, entahlah apa masih bisa dipanen? Tetapi dari wawancara saya kepada banyak warga yang saya jumpai, nada pesisimis bahwa panen akan gagal tahun ini paling sering muncul dari mulut mereka, juga bisa tergambar dari situasi tanaman disekitar warga. [Heinrich Dengi]

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons