Scroll to Top
Antara yang Tersurat dan yang Tersirat
Posted by Frans Hebi on 11th Januari 2015
| 8919 views
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans  Wora Hebi
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans Wora Hebi

MaxFM, Waingapu – Banyak peribahasa Indonesia yang menggambarkan seperti yang tertera pada judul di atas. Kita ambil beberapa contoh. 1. Besar pasak dari pada tiang. 2. Seperti air di daun talas. 3. Lempar batu sembunyi tangan. 4. Air susu dibalas dengan air tuba.

  1. Arti yang tersurat, pasak atau paku lebih besar dari pada tiang. Seharusnya tianglah yang lebih besar dari paku sehingga tiang tidak dirusak. Arti yang tersirat atau tersembunyi, dikatakan kepada orang yang pengeluarannya, biaya hidupnya lebih besar disbanding dengan gaji atau penghasilannya.
  2. Arti yang tersurat, air kalau dituang ke atas daun keladi tidak akan tinggal atau melekat. Yang tersirat digambarkan pada orang yang tidak tetap pendirian.
  3. Arti tersurat sudah jelas kita pahami. Arti yang tersembunyi dikiaskan kepada orang yang melakukan suatu perbuatan yang menimbulkan masalah, kerugian bagi orang lain tapi tidak berani tampil atau bertanggung jawab.
  4. Arti tersurat sudah jelas. Arti yang tersirat, kebaikan seseorang dibalas dengan perbuatan jahat, perbuatan yang mengkianatinya.

Ada juga peribahasa yang arti tersiratnya sama dengan arti yang tersurat, seperti, Dalamnya laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu. Artinya, kedalaman laut dapat diukur apa lagi di era teknologi canggih seperti sekarang, tapi apa yang ada di dalam hati seseorang tidak akan ada yang tahu.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar ucapan orang yang maknanya tidak seperti yang tersurat. Ini dibutuhkan kepekaan orang yang mendengarnya. Jika tidak, maka timbul kesalahpahaman yang biasanya menimbulkan konfik atau kerugian salah satu pihak atau keduanya.

Jika seseorang mengatakan kain kombumu bagus tapi sayang saya belum punya uang untuk membelinya. Si penjual kain kalau tidak punya kepekaan akan menganggap kainnya betul bagus sehingga satu minggu kemudian persis tanggal muda dia datang lagi menawarkan barangnya. Padahal orang yang ditawari tidak bermakksud membeli karena menurutnya kain itu tidak bagus. Dia hanya menggunakan bahasa pemanis agar pemilik kain tidak kecewa. Itulah makna yang tersirat dalam ucapannya.

Ada keramaian di pasar malam. Ibu-ibu tetangga bersiap-siap untuk pergi menonton. Salah seorang ibu di tetangga sebelah juga tergoda untuk ikut. “Pak, boleh saya ikut teman-teman nonton pasar malam?”  “Terserah”, jawab suaminya. Isteri yang tidak peka itu berangkat. Padahal arti yang terselubung dalam kata “terserah” sebenarnya suami keberatan. Buktinya, kalau isteri terlambat pulang dia akan disemprot dengan kata-kata yang mengandung racun sebagai pelampiasan bahwa suami sebenarnya keberatan.

Ida murid SD kelas V melaporkan kepada ibunya bahwa dia kehilangan uang Rp 50.000 di tasnya saat beristirahat. Ketika itu dia keluar dan meninggalkan tas di kelas. Ibu marah besar. “Dasar anak sial. Mengapa tidak bawa tas waktu istirahat? Mengapa tidak lapor guru? Siapa teman dudukmu? Lain kali saya tidak kasi uang lagi. Mengerti?”

Ibu ini hanya mengerti makna yang tersurat dari laporan anaknya. Andai kata dia mengerti arti yang tersirat dari laporan anaknya dia tidak setega itu memarahinya, karena nasi sudah jadi bubur, kata peribahasa. Atas kehilangan itu Ida sudah menderita batinnya. Dengan laporan itu terkandung maksud (makna tersirat) agar ibu turut merasakan apa yang dialaminya. Jika saja ibu itu memahami makna tersirat dari laporan Ida, dia akan mengatakan, “Sudahlah nak. Ibu juga turut merasakan apa kau alami. Tega benar teman mengambil uang itu yang sedianya kau pakai beli buku-buku dan peralatan sekolah. Sisanya masih bisa pakai jajan. Ya, kan? Nanti kalau ayahmu gajian bisa beli buku dan alat-alat sekolah. Sabar saja”

Jawaban ibu yang pertama akan membuat perasaan Ida tambah terpukul. Terpukul karena kehilangan lalu dimarahi. Ida akan menganggap ibunya tidak memahami apa yang tersirat di batinnya, yakni turut mengambil bagian dalam penderitaannya.

Seandainya ibu menjawab dengan cara yang kedua, Ida akan merasa puas. Kata-kata ibu yang meyatakan turut prihatin menjadi terapi sehingga dia tidak menderita berkepanjangan. Karena yang sudah berlalu tidak ada gunanya diingat-ingat terus menjadi beban dan mengganggu ketenangan dalam belajar.

Memahami yang tersirat dari yang tersurat saja tidak cukup. Misalnya memahami bahwa Ida sangat kecewa, bahwa dia minta tolong untuk mengurangi rasa kecewa. Tapi yang penting adalah bagaimana mengurangi atau menghilangkan rasa kecewa itu dalam formulasi bahasa. “Sudahlah nak, ibu juga turut merasakan…” Itulah kata-kata yang diharapkan sebagai pertanda empati, bersatunya rasa dalam berbagi penderitaan. Dan rasa empati ini tidak sebatas ucapan verbal tapi harus diwujudkan dalam perilaku sehingga anak merasakan adanya penerimaan walaupun dia membuat keteledoran yang tidak disengaja.

Apa pula makna tersirat dari kalimat-kalimat berikut?

  1. Hasil kesepakatan itu tidak terlalu mengecewakan, tapi juga tidak terlalu menguntungkan.
  2. Harga bahan-bahan pokok menjelang lebaran tidak naik tapi hanya disesuaikan.
  3. Rupanya dia kurang memahami maksud saya.
  4. Anak anda sebenarnya tidak bodoh, rupanya dia kurang mempersiapkan diri ketika menghadapi ujian.
  5. Barangkali dia lupa apa yang sudah dia janjikan.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons