Scroll to Top
Bila Sang  Waktu Angkat Bicara
Posted by Frans Hebi on 31st Desember 2014
| 1652 views
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans  Wora Hebi
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans Wora Hebi

MaxFM, Waingapu – Iam tempus est, sekarang sudah waktunya, kata orang Romawi. Time is money, kata orang Inggris. Kepada bapa waktu kami persilakan. Ucapan ini hampir selalu kita dengar. Seharusnya, kepada bapa kami beri kesempatan. Atau kepada bapa kami persilakan!  Tetapi sudahlah, karena sudah menjadi umum.

Waktu satu tahun telah kita lewati. Itu berarti kita sudah lewati 356 hari alias 8760 jam, alias 525600 meni. Waktu terus berubah. Sementara kita berbicara pun dari detik ke detik waktu terus berubah tanpa kita sadari. Sekali berlalu tidak bisa diputar kembali.

Terhadap kenyataan ini ada pelajaran berharga seperti dilukiskan  Xavier Quentin Pranata dalam bukunya, 100 Kisah Yang  Mengubah Hidup Anda .Di Yunani kuno ada sebuah patung. Di bawah patung itu terdapat sebuah sanjak dalam bentuk percakapan antara seorang musafir dengan patung itu. Demikian bunyinya:

“Siapa namamu,  hai patung?”

“Aku dipanggil Kesempatan”

“Siapa yang memahatmu?”

“Lysippus”

“Mengapa engkau selalu siap?”

“Untuk menunjukkan betapa  cepatnya aku berlalu”

“Tetapi mengapa rambut didahimu begitu panjang?”

“Agar orang bisa menangkapku  ketika bertemu dengan aku”

“Lalu mengapa kepalamu botak di belakang?”

“Untuk menunjukkan bahwa sekali aku lewat aku tidak dapat ditangkap”

Inti percakapan tadi adalah: kesempatan ( waktu) –  betapa cepatnya berlalu – saat bertemu harus segera menangkapnya – kalau sudah lewat tidak bisa ditangkap lagi.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons