Scroll to Top
Bila Sang  Waktu Angkat Bicara
Ditulis oleh Frans Hebi on 31st Desember 2014
| Dilihat 564 kali
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans  Wora Hebi
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans Wora Hebi

MaxFM, Waingapu – Iam tempus est, sekarang sudah waktunya, kata orang Romawi. Time is money, kata orang Inggris. Kepada bapa waktu kami persilakan. Ucapan ini hampir selalu kita dengar. Seharusnya, kepada bapa kami beri kesempatan. Atau kepada bapa kami persilakan!  Tetapi sudahlah, karena sudah menjadi umum.

Waktu satu tahun telah kita lewati. Itu berarti kita sudah lewati 356 hari alias 8760 jam, alias 525600 meni. Waktu terus berubah. Sementara kita berbicara pun dari detik ke detik waktu terus berubah tanpa kita sadari. Sekali berlalu tidak bisa diputar kembali.

Terhadap kenyataan ini ada pelajaran berharga seperti dilukiskan  Xavier Quentin Pranata dalam bukunya, 100 Kisah Yang  Mengubah Hidup Anda .Di Yunani kuno ada sebuah patung. Di bawah patung itu terdapat sebuah sanjak dalam bentuk percakapan antara seorang musafir dengan patung itu. Demikian bunyinya:

“Siapa namamu,  hai patung?”

“Aku dipanggil Kesempatan”

“Siapa yang memahatmu?”

“Lysippus”

“Mengapa engkau selalu siap?”

“Untuk menunjukkan betapa  cepatnya aku berlalu”

“Tetapi mengapa rambut didahimu begitu panjang?”

“Agar orang bisa menangkapku  ketika bertemu dengan aku”

“Lalu mengapa kepalamu botak di belakang?”

“Untuk menunjukkan bahwa sekali aku lewat aku tidak dapat ditangkap”

Inti percakapan tadi adalah: kesempatan ( waktu) –  betapa cepatnya berlalu – saat bertemu harus segera menangkapnya – kalau sudah lewat tidak bisa ditangkap lagi.

Apa yang terungkap dalam dialog tadi tepatlah apa yang dikatakan dalam peribahasa inggris Don’t Put Off Untill To Morrow what you  can do to day. Jangan menunda sampai besok apa yang anda kerjakan hari ini. Biasanya kalau ada tugas, kewajiban, pekerjaan yang bisa kita lakukan hari ini kita berlindung pada ungkapan, “ Kan masih ada waktu biar besok baru dikerjakan” . Akhirnya menjadi esok terus sehingga tidak bisa terlaksana. Dan bilamana dipertanyakan kitapun tidak kehilangaan akal untuk mengkuinya sebagai kelengahan. Kita akan berdalil sakit, tidak ada waktu,dan macam-macam alasan untuk pembenaran diri.

Termasuk waktu untuk menikmati atau menghayati hidup secara intens,  kita akan mengatakan, nanti kalau sudah berrumah tangga  atau nanti kalau sudah punya pekerjaan. Mungkin kalau sudah berrumah tangga atau punya pekerjaan kita akan tetap mengatakan tidak ada waktu karena tugas yang baru itu juga harus disiapkan porsi waktu.

Menghayati hidup di sini mengandung arti pergaulan dengan siapa saja, menjalin persahabatan secara meluas tanpa membedakan umur, pendidikan, srata, agama, status, suku, golongan dll. Menghayati hidup juga berarti menikmati keindahan alam panorama, dan segala ciptaanNya. Keindahan alam tidak harus dicari ditempat-tempat yang terkenal yang memakan biaya. Karena keindahan alam itu ada disekitar kita. Yang disebut terakhir orang-orang masa kini menggapnya kuno. Yang  modern adalah duduk nongkrong berjam-jam menghadapi dunia maya lewat televisi/ vidio.

Suatu penelitian  membuktikan bahwa siswa tamatan SMA  telah mengunakan waktunya selama 15000 jam  untuk  menonton simata siklops. Itu berarti lebih banyak waktu yng digunakan untuk menonton daripada kegiatan lain, seperti, membaca, bercerita, berdiskusi, berjalan-jalan keluar rumah menikmati keindahan alam, berpikir,berkomunikasi dengan keluarga atau teman-teman sebaya. Televisi telah mengeser banyak kegiatan untuk berinteraksi dengan sesama yang sebenarnya sangat ensensial demi pengembangan diri.

Jika hampir separuh hidup kita, kita hanya mengabdikanya pada nonton, maka sudah jelas banyak kegiatan lain yang tersita padahal umur manusia termasuk makluk lain dibatasi waktunya.

Umur manusia menurut Kitab Suci 70 tahun kalau umur panjang 80 tahun. Beberapa makluk lain semisal, lebah 90 hari, tikus 3 tahun,anjing 15 tahun, ayam? Di Kambaniru ada seekor ayam betina yang sudah berumur 14 tahun  dan masih hidup. Kucing 20 tahun kera 30 tahun, buaya 50 tahun, gajah 70 tahun, nuri 100 tahun, kura-kura raksasa 150 tahun sequola raksasa (jenis pohon) 3000 tahun, pinus bristlecone 4700 tahun dan kelelawar 20-30 tahun.

Apa yang dikatakan oleh orang Inggris waktu adalah uang,  tidak dimaksudkan seluruh aktivitas kita hanya mengumpulkan uang. Tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa waktu itu sangat berguna dan tidak boleh disia-siakan demi mengembangkan pribadi serta kebahagian.

Apa kata Gibran sastrawan Lebanon tentang waktu? Dalam buku Sang  Nabi Gibran berucap. Waktu itu tidak ada ukurannya dan tidak dapat diukur. Manusia hanya dapat menyesuiakan tingkah laku mengikuti peredaran waktu. Yang perlu diketahui ialah, bahwa hari kemarin tinggal kenangaan hari ini dan hari esok adalah impian hari ini. Artinya, kita tidak bisa kembali lagi pada masa lalu, dan juga tidak bisa meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang.

Waktu yang tidak ada ukurannya sebenarya d maksudkan oleh Gibran tentang Cinta Kasih Tuhan yang tidak terukur dan tidak ada batasnya. Tuhan mencintai semua manusia dan semua ciptaanNya  yang lain. Karena Tuhan menciptakan dunia ini dalam keadaan baik.

Gibran pun memberi wanti-wanti dalam ucapannya: Tapi kalau di dalam pikiranmu engkau harus mengukur waktu menjadi musim, biarlah setiap musim melingkupi musim lainnya, dan biarlah hari ini merangkul masa lalu dengan  kenangan dan masa depan dengan kenangan.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close