Scroll to Top
Papanggang yang Menimbulkan Kontroversi
Posted by maxfm on 15th Maret 2014
| 6190 views
Frans W. Hebi, Wartawan Senior, Budayawan, Narasumber Tetap Acacra Bengkel Bahasa Radio MaxFM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Sumba mengenal istilah hamba. Sumba Timur menybutnya ata. Sama dengan suku Kodi di Sumba Barat Daya. Di samping ata ada juga kata tau, di Kodi toyo yang artinya orang. Awalnya kata ata sama arti dengan tau. Untuk membedakan orang yang rendah kedudukan, ata digunakan untuk hamba, taau atau toyo untukk orang pada umumnya. Suku Waijewa, Laura, Tana Maringi, Bukambero di Sumba Barat Daya tetap menggunakan kata ata yang berarti orang. Orang yang rendah kedudukan (hamba) disebut ata papatuka, yakni orang yang disuruh-suruh.

Sumba meengenal strata sosial. Di Sumba Timur, pembagiannya adalah sbb: Pertama, ratu. Bertugas mengatur ritual keagamaan berkenaan dengan kepercayaan kepada marapu, agama asli Sumba. Kedua, maramba, golongan ningrat. Ketiga, kabihu bokul, golongan yang berkeluarga besar dan kaya. Keempat, kabihu kudu, golongan yang keluarganya sedikit dan miskin.

Kemiskinan inilah yang mendorong orang memperhambakan diri pada yang kaya, seperti raja, maramba, dan kabihu bokul. Mereka akan bergantung sepenuhnya dalam hal makan, pakaian, dan kebutuhan lain. Untuk yang laki-laki dicarikan isteri, yang perempuan jika ada yang mau kawin dengan dia harus menetap di rumah tuannya. Karena itu seorang maramba akan memiliki banyak hamba. Hamba-hamba ini yang kemudian disebut ata ndai, ata maramba uma. Disebut juga pamawung, pakarahang, yang artinya  orang yang berlindung, nebeng pada orang lain.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons