
MaxFM, Waingapu – Program pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang pertanian yang dikenal dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) diyakini akan mampu mengeluarkan masyarakat dari bawah garis kemiskinan.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi NTT, Ir. Lecky F. Koli menyampaikan hal ini dalam wawancara live di Radio Max 96.9 FM, Senin (7/2/2022).
Dijelaskannya sesuai dengan perhitungan harga beli jagung yang ada saat ini jika nantinya lembaga penjamin atau obstaker membelinya dengan harga Rp 4.000 per kilo gram, itu sudah menempatkan masyarakat petani berada diatas garis kemiskinan.
“Angka kemiskinan itu jika pendapatan masyarakat dibawah Rp 450 ribu/orang/bulan, sedangkan dengan TJPS ini kalau ada satu keluarga dengan empat anggota keluarga menanam satu hekta are lahan saja hasilnya dalam 100 hari masing-masing sudah dapat Rp 4,5 juta,” tegasnya.
Karenanya Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappeda Provinsi NTT ini menegaskan program TJPS dengan pola kemitraan ini adalah salah satu cara pemerintah Provinsi NTT untuk membawa masyarakat keluar dari kemiskinan.
Diuraikannya modal untuk petani mengambil bagian dalam program TJPS pola kemitraan ini hanyalah kemauan, tenaga dan memiliki lahan yang siap diolah untuk ditanami jagung.
Sebab semua kebutuhan untuk program ini mulai dari bibit, pupuk hingga pestisida sudah dikerjasamakan pemerintah dengan lembaga perbankan sehingga masyarakat tinggal menanam dan merawat saja jagungnya.
“Hasil jagungnya sudah ada obstaker yang akan membelinya langsung dari petani sehingga petani tidak perlu pikir harus jual jagungnya kemana,” tegasnya.
Bahkan kerja sama yang dibangun pemerintah Provinsi NTT dengan lembaga penjamin ini juga sudah sampai pada penentuan harga beli terendah sehingga jagung petani paling rendah akan dibeli dengan harga Rp 3.200/kilo gram.

Untuk wilayah Pulau Sumba sendiri Lecky menjelaskan saat ini pihaknya sudah menanam jagung bersama petani di wilayah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya dan diperkirakan akan siap dipanen pada bulan Maret 2022 mendatang.
“Nanti bisa kita sama-sama ke lokasi saat panen agar dapat cerita dari petani, dan lihat bagaimana cara jual-beli jagungnya,” ungkapnya.
Bahkan Lecky menegaskan saat ini pihaknya terus bekerja sama dengan pemerintah dan petani di wilayah Pulau Sumba sehingga ditargetkan pada musim tanam pertama tahun 2022/2023 mendatang untuk wilayah Pulau Sumba bisa menanam 50Ribu hingga 60Ribu hekta are.
“Makin banyak petani yang mau ikut tanam dalam program TJPS, masalah kemiskinan, stunting, dan lainnya akan segera teratasi,” akunya.
Program TJPS pola kemitraan ini sendiri merupakan kerja sama Pemprov NTT dengans sejumlah lembaga perbankan dan lembaga penjamin sehingga petani hanya menyiapkan lahan dan tenaga untuk mengolah lahannya.
Sebab bibit, pupuk, pestisida semuanya disediakan oleh lembaga perbankan dan hasilnya akan langsung dibeli oleh lembaga penjamin, sehingga petani menerima uang hasil tanaman jagung nya setelah dipotong biaya produksi.(TIM)








