
MaxFM WAINGAPU, SUMBA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar konferensi pers terkait gempa bumi tektonik ber magnitudo M6,1 (parameter pemutakhiran M5,9) yang mengguncang wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu pagi 4 Oktober 2026 pukul 05.55 WIB atau 06.55 WITA.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Arda Sena Paheluakan, menyampaikan bahwa pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 59 km arah Barat Daya Kodi, Sumba Barat Daya, NTT, dengan kedalaman 30 km.
“Berdasarkan hasil analisis dan pemodelan BMKG, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Arda Sena dalam konferensi pers online.
Guncangan gempa paling kuat dirasakan di wilayah Kodi, Balagar, Sera Barat Daya, dan Kodi Bangedo pada skala intensitas VI MMI (getaran dirasakan oleh semua penduduk dan mayoritas panik berhamburan keluar rumah).
Sementara itu, daerah Tambolaka, Waikabubak, Waibakul, dan Kota Raba merasakan guncangan pada skala IV MMI, serta Kota Bima pada skala III MMI.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, melaporkan bahwa hingga pukul 08.40 WIB atau 09.40 WITA tercatat adanya kerusakan bangunan kategori sedang serta satu korban luka ringan.
“Berdasarkan koordinasi dengan BPBD setempat, terdapat laporan kerusakan sedang di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi, yang meliputi satu bangunan SD Islam dan dua rumah warga. Selain itu, terdata satu orang mengalami luka ringan,” jelas Teguh Rahayu.
Hingga pukul 08.05 WIB atau 09.05 WITA, hasil monitoring BMKG mencatat 62 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) dengan rentang magnitudo M1,5 hingga M4,3. BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan ini akan meluruh dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau informasi bohong (hoax) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa. Informasi resmi perkembangan kegempaan dapat diakses melalui aplikasi infoBMKG, media sosial @infoBMKG, maupun kanal resmi www.bmkg.go.id. [HD]







