
MaxFM Waingapu, SUMBA – Tingginya biaya logistik yang mencapai 23%-24% dari PDB telah lama menjadi “pajak tersembunyi” yang menggerogoti daya saing industri ritel Indonesia.
Alasan utamanya bukan sekadar jarak geografis, melainkan ketimpangan arus barang yang membuat biaya distribusi ke wilayah Timur jauh lebih mahal daripada ke Barat.
Kondisi ini memaksa peritel untuk mengalokasikan hingga 25% dari harga jual produk hanya untuk urusan pindah barang, yang pada akhirnya membebani dompet konsumen dan membatasi penetrasi pasar di pelosok Nusantara.
Untuk membedah kebuntuan ini, transformasi dilakukan melalui integrasi teknologi dan perbaikan jalur multimoda. Peritel besar kini tidak lagi hanya mengandalkan gudang pusat, melainkan beralih ke strategi micro-fulfillment centers dan digitalisasi rantai pasok guna memangkas lead time.
Pemerintahpun mengintervensi melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yang terbukti mulai menekan biaya operasional secara bertahap. Efisiensi ini krusial karena setiap penurunan 1% biaya logistik dapat berdampak signifikan pada margin keuntungan bersih industri ritel yang selama ini sangat tipis.
Hasilnya, memasuki tahun 2026, kita melihat pergeseran peta kekuatan ritel di mana efisiensi logistik menjadi senjata kompetitif utama, bukan lagi sekadar perang harga.
Dengan proyeksi pertumbuhan sektor logistik sebesar 10,65% tahun ini, industri ritel memiliki peluang emas untuk melakukan ekspansi yang lebih agresif dan stabil.
Diskusi kita hari ini akan berfokus pada apakah infrastruktur saat ini sudah cukup kuat untuk menopang target penurunan biaya logistik hingga 12% di masa depan, serta bagaimana peritel skala kecil dapat bertahan dalam ekosistem yang semakin padat modal ini.
Bagaimana persoalan logistik dalam bisnis Anda? Mari kita bahas dalam Talkshow Strategi Bisnis bersama Max FM 96.9 Waingapu Sumba. [Sudah Didiskusian di MaxFM Selasa 3 Februari 2026]
[Penulis : Ronny H. Mustamu, Direktur Quadrant Consulting]








