Scroll to Top
Geliat Jurnalisme Warga di Sumba Timur: Jalan Pendek Mengawal Pembangunan dan Kekuasaan
Posted by maxfm on 9th Januari 2018
| 2260 views
Stepanus Makambombu, Direktur Stimulant Institute Sumba, Wakil Ketua Komisi Bidang IPTEK dan Lingkungan Hidup Dewan Riset Daerah Kab. Sumba Timur [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Minggu pertama di bulan Januari tahun 2018, media sosial di Sumba Timur dihangatkan oleh sebuah informasi tentang rusaknya sebuah infrastruktur jalan di Desa Laindeha, Kecamatan Pandawai akibat diterjang banjir bandang. Informasi tersebut diunggah akun bernama Kulla Jend Lay Ria tanggal 2 Januari2018. Unggahan ini telah mengundang lebih kurang 500 like and comment pada sebuah akun group facebook Sumba News. Jumlah Like and comment diperkirakan lebih banyak karena ditautkan ke grup-grup lainnya. Sebelumnya, jarang terjadi ‘perbincangan hangat’ seperti ini di antara warga ketika terjadi kasus-kasus rusaknya sebuah fasilitas publik. Kerusakan-kerusakan tersebut biasanya diterima secara ‘dingin’ sebagai bentuk kepasrahan terhadap kenyataan atau sebagai kelaziman.

Fenomena dan kecenderungan (trend) warga dunia maya untuk menginformasi kejadian-kejadian aktual yang ada di sekitar mereka akhir-akhir ini mulai bergeliat. Fenomena ini sebagai bagian dari tumbuhnya jurnalisme warga. Jika sebelumnya, informasi dan dialog-dialog dunia maya hanya berorientasi pada diri sendiri atau kelompoknya (selfish), namun akhir-akhir ini orientasi pemberitaan pada masalah kepublikan mulai mendapat ruang. Tentu ini sebuah fenomena yang baik karena akan berkontribusi positif terhadap perbaikan masalah pelayanan publik.

Dalam wikipedia online jurnalisme warga (citizen journalism) didefinisikan sebagai kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita (https://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalisme_warga). Masyarakat dalam definisi ini merujuk pada masyarakat umum yang bukan jurnalis profesional namun melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik, seperti melakukan pengumpulan informasi dan mempublikasi. Publikasi berita dan informasi memanfaatkan jaringan internet. Jaringan internet memungkinkan antara jurnalis warga dan audiens melakukan komunikasi dan saling memberikan komentar misalnya dalam aplikasi facebook. Sehingga, posisi antara jurnalis sebagai pencari dan penulis berita, narasumber sebagai muasal berita, dan audiens sebagai konsumen berita sudah lebur begitu cair. Ini merupakan ciri khas dari jurnalisme warga. Menurut Gillmor kemunculan ekosistem media baru seperti ini memungkinkan adanya percakapan multidirectional yang memperkaya dialog di tataran masyarakat sipil (Widodo, 2010). Melalui jurnalisme warga maka semua orang adalah konsumen, semua orang adalah distributor, semua warga menjadi agregator, dan semua orang adalah produser dari sebuah informasi (Pattiradjawane, 2008).

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons