Dari Wai Kudu ke Wai Bakul
Ditulis oleh maxfm on 9th Oktober 2017
| Dilihat 267 kali
Sepritus Tangaru Mahamu – Salah satu peserta pelatihan menulis ilmiah populer yang diselenggarakan Radio MaxFM

MaxFM, Waingapu – “Beda tempat tentu beda cerita” itulah kalimat yang saya rasa pantas disandang pulau Sumba yang terletak di Selatan Indonesia dan memiliki keunikan tersendiri di sudut-sudutnya itu. Bagaimana tidak di Sumba ada banyak hal yang berbeda dari simpul-simpul daerahnya mulai dari budayanya, bahasanya hingga masalah sosial ekonominya.

Sebagai contoh nyata misalnya jika di Tana Banas, Kabupaten Sumba Tengah kekeringan menjadi malapeta yang mengerikan setiap tahunnya khususnya dimusim kemarau (seperti ramai diberitakan media baru-baru ini) maka cerita yang berbeda justru terjadi di Wai Kudu di mana kekeringan justru menjadi tantangan tersendiri bagi warga setempat dan Radio Max Waingapu Foundation untuk menghadirkan kebun pertanian organik Wai Kudu yang mulai digalakkan sejak April 2017 dan dikelola oleh dua puluh anggota tani yang bergantian secara terjadwal merawat kebun organik ini. Kebun organik yang menjadi lahan percontohan ini dijadikan sebagai media belajar bagi petani sekitar kebun organik itu dengan tanaman yang bervariasi mulai dari tomat, sayur kol, pakcoy dan pitsai.




Selain belajar untuk bercocok tanam organik, kelompok tani organik yang dibimbing oleh pembimbing petani dari Radio Max Waingapu Foundation Rejeki Fajrin ini, juga belajar untuk mengatur hasil panen sampai penjualan sehingga dapat menata sayur apa yang harus ditanam dan penjualan sampai di pasarnya bagaimana agar dapat meningkatkan pendapatan dari hasi panen sayur. Karena menurut Fajrin di Sumba cukup banyak petani yang menanam tanaman tapi tidak memiliki menejemen yang baik, baik terhadap lahan dan juga pendapatan petani. Masih kata Fadjrin petani juga harus mampu melihat peluang pasar yang semakin bervariasi dengan pola pikir masyarakat yang melihat dari segi rupa yang elok dari sayur yang akan dibeli sehingga menurut Fajrin sayur-sayuran organik ini harus memiliki pasarnya sendiri dan saat ini untuk memperoleh sayur-sayuran organik ini kita dapat memesannya melalui radio Max Fm Waingapu.

Sementara itu ketua kelompok tani organik di Waikudu Agustinus K. Praing mengatakan dirinya dan anggota kelompok beruntug bisa belajar pertanian organik dari Radio Max Waingapu Foundation.

“Kebun organik ini bagus sekali karena kami yang awalnya harus membeli pupuk dan pestisida di toko dengan harga yang tidak murah ternyata sebenarnya produk-produk tersebut bisa dibuat dari bahan-bahan yang ada disekitar kami,” jelas ketua kelompok tani organik di Waikudu Agustinus K. Praing yang juga adalah pemilik lahan pertanian organik Waikudu.

Foto Bersama Peserta Pelatihan Menulis Ilmiah Populer dan Anggota Kelopmpok Tani Organik Wai Kudu [Foto: YHS]

” Awalnya petani di Wai Kudu mengangkut air dengan mengunakan motor air, setiap hari harus mengeluarkan anggaran untuk beli bensin, sekarang setelah kami menggunakan pompa Barsha yang didapat dari Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu, kami tidak lagi mengeluarkan uang untuk membeli BBM Fosil,” tambah ketua kelompok tani organik di Waikudu Agustinus K. Praing

Heinrich Dengi dari Radio Max Waingapu Foundation mengatakan di kelompok tani Wai Kudu dilaksanakan pelatihan pertanian organik kepada 20 orang petani setempat yang didukung oleh LIFE Jepang. Di pelatihan pertanian organik, anggota kelompok tani belajar tentang pembuatan kompos, pupuk cair organik, pestisida organik serta persiapan lahan dan persemaian menggunkan polibag daun pisang.



Selain itu tambah Heinirch Dengi, untuk mengairi lahan menggunakan pompa pompa Barsha, yang bisa memompa air hingga 30 ribu liter per hari, memompa vertikal setinggi 20 meter dan air bisa dipompa sampai sejauh 2 Km. Pompa Barsha jelas Heinrich Dengi adalah pompa yang diproduksi di Belanda oleh aQysta, dan tidak menggunakan BBM Fosil, hanya menggunakan arus air untuk memompa air dan pompa ini dipakai kelompok tani dengan carai menyewa serta tidak diberikan gratis kepada pemakai atau kelompok tani.

“Kita sebenarnya tidak kekeringan karena kita memiliki sumber air yang mengalir sepanjang musim, yang kita butuhkan hanya menemukan teknologi yang tepat untuk memaksimalkan potensi yang ada itu,”jelas Heinrich Dengi.
[Ditulis oleh: Sepritus Tangaru Mahamu]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close