Prahara Garam yang Kian Langka di Negeri Maritim
Ditulis oleh maxfm on 12th Agustus 2017
| Dilihat 378 kali
Petani Garam Tradisonal di Watumbaka, Sumba Timur, NTT [Foto: Ignas Kunda]



MaxFM, Waingapu – Sejumlah petani garam di kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, NTT, berhenti memproduksi garam karena air laut tak bisa ditampung.

Dominggus Taupan, seorang petani garam menuturkan, pasang laut sejak tahun 2017 ini tidak menentu. Air laut tak mencapai batas tertinggi ketika pasang sehingga tidak bisa terjebak dalam kolam penampungan air laut.

“ Sekarang harga garam sudah menjadi 140 ribu rupiah per karung ukuran 50 kilo gram”.

Sebenarnya ketika harga garam kian tinggi, sangat menguntungkan buat petani garam ini karena mereka bisa leluasa menjual ke pasaran tanpa perlu menunggu harga bagus. Padahal sebelumnya harga garam hanya berkisar 75 ribu hingga 100 ribu rupiah per karung ukuran 50 kilo gram. Namun sayang mereka tak bisa memproduksi garam secara tradisonal.

Para petani di watumbaka memproduksi garam dengan cara pemanasan api tungku. Air laut yang ditampung dalam kolam jebakan diangkat dan disaring dalam wadah berbentuk piramida segitiga terbalik. Saringan piramida itu telah lebih dahulu diisi tanah yang juga mengandung butiran garam. Tanah kering yang mengandung butiran garam digali dan ditampung oleh petani garam ini. Karena semakin tanah itu kering tanpa kandungan air maka semakin banyak garam yang dihasilkan. Air hasil penyaringan lalu dipanaskan sampai menjadi butiran-butiran garam.

“Air dari saringan ini yang kami gunakan untuk dimasak selama dua jam lebih sehingga menghasilkan garam “ Jelas Taupan.

Selain menjadi pemasak garam Dominggus juga mencari usaha sampingan, seperti mejadi tukang kayu dan tukang batu untuk memenuhi ekonomi rumah tangganya.

Dalam memasak garam, ia mengaku mengeluarkan ongkos untuk membeli kayu api sebesar Rp650ribu hingga Rp750ribu. Dari dari ongkos yang dikeluarkan untuk membeli kayu api maka akan menghasilkan paling kurang lebih 27 karung garam berukuran lima puluh kilo gram. Dan bila dirupiahkan dengan harga Rp140ribu per karung maka total uang yang didapat Rp3,78juta.

“Kalau dihitung dengan biaya semua, rasanya minim karena kami harus keluarkan tenaga untuk potong kayu gelondogan, harus mete (bergadang), jadi semuanya hanya bisa untuk makan minum tiap hari” Keluh Dominggus.

Kenaikan harga garam juga terjadi di pasaran kota waingapu. Satu bungkus garam berukuran 200 gram yang biasa dibeli dengan harag 1000 rupiah kini telah naik menjadi 3000 rupiah.

Katarina seorang ibu rumah tangga yang juga memiliki kios kecil di jalan Erlangga mengaku dalam beberap bulan ini stok garam di toko-toko yang biasa menjadi langganan kini tak ada lagi.

Saringan dari tanah untuk menyaring air laut. Hasil saringan yang dipakai petani garam tradisional untuk dimasak jadi garam [Foto: Ignas Kunda]

“Saya lagi pesan garam di Ende (Pulau Flores) untuk bisa dijual di sini, karena garam langkah sekali di sini, mungkin mau naik harga, heran sekali garam bisa naik harga”.

Dikutip dari BBC , Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita (02/08/2017) mengatakan pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam dari Australia sebanyak 75Ribu ton.

Sekjen Asosiasi Industri Penggunanan Garam Indonesia, Cucu Sutara, mengatakan produksi garam nasional pada tahun 2016 hanya 144Ribu ton dari kebutuhan sebanyak 4.1Juta ton, dengan perincian 780 ribu ton untuk konsumsi sedangkan sisanya untuk industri.

Jika cuaca mendukung produksi garam Indonesia bisa mencapai 1.9 juta ton per tahun. Dampak La Nina menjadi factor menurunya produksi garam nasional. Selain itu produksi garam masih tradisional.

“Kita masih mengandalkan matahari dan masih memakai alat sederhana yaitu pengeruk kayu dan kincir angin. Jangan bicara kualitas bicara peningkatan kapasitas juga sulit. Satu hektar tambak garam hanya bisa menghasilkan 70 ton garam itu pun kalau cuaca bagus, apalagi sekarang cuacanya tidak bagus.”

“Lahan yang cocok dijadikan tambak garam hanya 26.024 hektar. Bahwa Indonesia adalah salah satu Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia sehingga produksi garamya melimpah, itu mitos”. katanya.


Petani garam tradisional Watumbaka, Sumba Timur, NTT, sedang mengambil tanah dari sekitar lokasi masak garam untuk dijadikan penyaring air laut dalam wadah penyaring. [Foto: Ignas Kunda]

Pengamat dari lembaga Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira, mengatakan solusi impor garam tidak bisa dijadikan jalan pintas tanpa solusi jangka panjang.

Program garam untuk rakyat (PUGAR), targetnya hanya mencapai 50 persen. Realisasi bantuan kepada petambak garam juga tidak mencapai 100 persen. Kemudian tidak ada bantuan teknologi.

Data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan, dalam lima tahun terakhir, jumlah petani petambak garam tradisonal turun drastis dari 30.668 jiwa pada tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa pada tahun 2016. Artinya ada 8.400 petani garam telah beralih profesi.

Rantai penyedian garam begitu panjang sehingga petambak garam tidak pernah merasakan keuntungan besar ketika harga garam naik.

“Keberpihakan pemerintah pada petani garam belum menjadi prioritas utama”

Menurut Bhima, dari kacamata industri, lebih baik mengimpor garam karena rantai pasokannya ringkas. Karena bila membeli produk garam lokal, harus melewati 7 mata rantai dan setiap mata rantai selalu mengeluarkan biaya, sehingga ketika sampai ke level konsumen jadi harga garam menjadi lebih mahal.

“Anomali cuaca bukan tahun ini saja kok, sudah lima tahun cuaca tidak begitu bagus. Jadi ada banyak hal yang harus direncanakan jauh hari, harus ada roadmap yang jelas soal garam. Bagaimanapun juga garam tetap penting’’. Jelasnya.

Sedangkan, Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan dalam rapat koordinasi bidang kemaritiman baru-baru ini mengatakan teluk Kupang menjadi pusat pengembangan industri garam.



“Di Kupang ada sekitar 5Ribu hektar kita buat industri garam, selama ini nggak berani buat, sekalian kita buat bikin tanggul, tanahnya selama ini ditelantarkan,” kata Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan.

Dirjen Pengelolan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti, pengembagan garam akan melibatkan berbagai pihak.

“ Tentang lokasi tanah di NTT, Kabupaten Nagekeo, kalau yang terlantar segera diproses menjadi korporasi, PT. Garam harus masuk, BPPT teknologi harus masuk”. Kata Brahmantya

Data kebutuhan garam nasional dari 2014-2016 menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebesar 3,85 juta ton per tahun , produksi garam nasional hanya 1,82 juta ton baik untuk garam konsumsi dan industri.

Untuk memenuhi kebutuhan garam nasional ,dilakukan impor garam 2,2 juta ton pada tahun 2014 dan 2015 dan tahun 2016 sebesar 3 juta ton. [ Ignas Kunda ]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close