Scroll to Top
Benarkah Sekolah Itu Candu?
Ditulis oleh Frans Hebi on 27th Mei 2015
| Dilihat 1431 kali

Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
MaxFM, Waingapu : Etimologi kata sekolah berasal dari bahasa Latin, schola, yang berarti waktu luang, waktu senggang. Pada zaman Yunani kuno biasanya orang-orang mengisi waktu luang dengan cara mengunjungi suatu tempat, atau orang pandai untuk menanyakan atau mempelajari apa saja yang mereka anggap sangat dibutuhkan dalam hidup. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah skole, scola, scolae, atau schola, yang artinya waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar. Kegiatan itu biasanya dilakukan oleh kaum pria dewasa atau yang sudah berkeluarga.

Kebiasaan ini kemudian berlaku juga buat anak-anak, terutama anak laki-laki yang bakal menggantikan ayah mereka. Karena semakin kompleksnya hidup, keluarga merasa tidak punya waktu lagi untuk mengasuh anak-anak, karena itu mereka diserahkan kepada seseorang yang dianggap banyak pengetahuan. Di sinilah anak-anak berlatih sampai tiba saatnya mereka kembali ke rumah untuk menjalani kehidupan orang dewasa.

Lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu yang merupakan lembaga tertua di dunia ini disebut, scola in loco parentis. Dewasa ini nama itu diabadikan oleh dunia pendidikan/akademis dalam istilah alma mater, artinya ibu asuh, ibu yang memberikan ilmu, seolah-olah hanya kaum ibu yang mendidik anak.

Karena semakin banyak anak yang harus diasuh, maka makin banyak pula dibutuhkan pengasuh yang bersedia meluangkan waktu secara khusus untuk mengasuh anak-anak di suatu tempat tertentu yang disediakan dengan peraturan yang lebih tertib dengan imbalan jasa berupa upah dari orang tua anak-anak. Maka lahirlah lembaga yang bernama sekolah dengan guru-guru sebagai pengasuh yang kita alami dewasa ini.

Apa yang diutarakan di atas sebenarnya berkat jasa John Amos Comenius dalam bukunya Didactica Magna yang melontarkan gagasan pelembagaan dan proses pengasuhan anak-anak secara sistematis dan metodis. Gagasan John Amos Comenius dilanjutkan oleh Johann Heinrich Pestalozzi pada abad ke-18. Dia mengatur pengelompokan anak-anak asuhannya secara berjenjang yang disebut kelas, termasuk urutan jenjang kegiatan yang disebut pelajaran. Dari sini lahir sistem Klasikal Pestalozzi yang kemudian menjadi cikal-bakal pengajaran sekolah-sekolah modern yang kita kenal dengan penjenjangan kelas dan tingkatan.

Hampir seluruh Eropa mengenal kata sekolah. Bedanya mungkin hanya dalam pelafalan. Belanda, school, Inggris, school, Jerman, Schule. Barangkali di Asia tidak mengenal kata ini pada mulanya. Jepang menyebutnya gakkoo, Mandarin/Cina menyebutnya nianshu.

Di Indonesia orang pernah mengklaim kalau kata sekolah itu asli bahasa Indonesia karena dihubungkan dengan salah satu dialek Sumatra dalam kata kasikola, yang artinya kemarilah. Anak-anak di kampung-kampung tempo dulu harus dicari supaya mereka bersekolah. Karena takut sekolah mereka melarikan diri. Guru-guru yang mencari murid-murid berteriak, kasikola!,( kemari/kesini!)

Dengan demikian jelaslah bahwa kata sekolah yang dikatakan berasal dari kata kasikola adalah etimologi yang salah yang dalam bahasa Jawa disebut kerata basa.

Sekolah Itu Candu. Demikian judul buku yang merupakan kumpulan tulisan Roem Topatimasang yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar tahun 1998. Tulisan-tulisan itu dibuat sekitar tahun 70-an sebagai pengantar diskusi untuk tugas kuliah Seminar Sistem Pendidikan Perbandingan di IKIP Bandung yang menyoroti dunia pendidikan pada masa itu. Namun apa yang dikritik dalam buku itu kiranya masih relevan hingga saat ini. Sekolah (pendidikan) yang selama ini kita sanjung malahan dikritik habis-habisan oleh penulisnya dengan mengaitkan fenomena yang terjadi sebagai out-put hasil pendidikan masa kini.

Beberapa topik yang cukup menyentil di antaranya, Seragam Sekolah, Sekolah dan Perusahaan, Sekolah Anak-anak Tenda, Sekolah Itu Candu, Sekolah Sudah Mati, dst. Buku tipis setebal 139 halaman itu terdiri dari 11 topik (baca: bab).

Sektor pendidikan dari Pelita ke Pelita bahkan hingga saat ini mendapat kucuran dana dari APBN jauh lebih banyak ketimbang pos-pos yang lain. Idealnya sektor ini seharusnya memiliki kelebihan dalam hal out put ketimbang yang lain. Tapi apa yang kita lihat? Seperti diungkapkan Roem, bahwa kucuran dana untuk pendidikan mengalami kebocoran di mana-mana. Ini terbukti dari laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan dikatakan, diterapkannya sekolah Inpres (SD, SMP) sebenarnya secara implisit tergadainya baik orang tua maupun peserta didik. Belum lagi buku-buku Inpres dan seragam sekolah yang dikatakan produk KKN yang dilegalkan sehingga sulit dijerat oleh  hukum.

Sistem kurikulum dan sistem manajemen sekolah juga disoroti. Dikatakan hampir tiap kali pergantian mentri terjadi bongkar pasang yang implisitnya merupakan pengakuan diam-diam, bahwa sistem pendidikan kita belum mampu melahirkan tenaga siap pakai. Kita bisa pertanyakan mengapa seorang siswa SLTA yang sudah lulus UN harus diuji lagi untuk memasuki Perguruan Tinggi? Apakah hasil ujiannya diragukan? Mengapa seorang yang sudah lulus Perguruan Tinggi untuk menjadi PNS harus diuji lagi lewat prajabatan? Itu menandakan bahwa tenaganya belum siap pakai, dalam arti sekolah tidak mencetak tenaga siap pakai.

Di lain pihak pendidikan itu hakekatnya membebaskan manusia dari sifat penjajahan oleh sesama manusia. Paulo Freire tokoh pendidikan dari Brasilia mengungkapkan bahwa tujuan akhir dari proses pendidikan adalah humanisasi, memanusiakan manusia. Dalam arti membebaskan manusia dari situasi yang menindas. Bukannya melahirkan manusia yang terasing dan tercerabut dari realitas dirinya. Pendidikan bukan alat untuk kekuasaan. Pendidikan harus memberi kebebasan untuk mengatakan dengan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata orang lain. Bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan sendiri dan bukan pertanyaan-pertanyaan orang lain yang didiktekan. Karena ini menandakan dia belum bebas.

Salah satu tulisan Paulo Freire dalam buku Konsep Pendidikan Negara-negara Berkembang (mudah-mudahan judul ini benar), ditulis bersama Ivan Ilich dan Julius Nierere Presiden Tanzania yang sempat menggemparkan dunia pendidikan sekitar tahun 70-an berjudul, Keine Paedagogik ist Neutral. Artinya, tidak ada pendidikan yang netral. Pendidikan itu hanya akan menghasilkan manusia yang taat, dalam arti terjajah, dan manusia yang bebas. Asalkan bebas di sini jangan menjurus pada anarkis, bebas tak terkendali, ekstrim bebas seperti yang sudah menggejala di era multi media ini.  Kebebasan yang positif inilah yang menjadi tujuan akhir pendidikan yang menjadi dambaan setiap orang.

Sekolah itu Candu, dimaksudkan oleh penulisnya, seperti halnya candu, sekolah itu memiliki efek membius, membuat semua orang terlena dari kenyataan yang sebenarnya. Lewat jenjang persekolahan dan akreditasi diabsahkan ketimpangan pembagian pendapatan yang transparan. Para manajer perusahaan meraup penghasilan jutaan rupiah. Antara lain lewat sekolah masyarakat dibius dengan materialisme dan kapitalisme. Di sini dimaksudkan oleh Roem, bahwa sekolah itu dijadikan proyek, ajang bisnis yang mendatangkan keuntungan pribadi.

Di balik semuanya ini kita harus akui bahwa sekolah telah mencetak banyak sarjana, banyak orang intelek. Tapi sayangnya dengan otak dan otot (baca: intelektual dan kekuasaan) yang dimiliki malahan dimanfaatkan untuk mengeksploitir orang-orang lemah yang tidak berdaya   Kita simak saja pemberitaan mass media baik cetak maupun elektronik. Negara kita selama ini hanya bergumul dengan pemberantasan korupsi dari sejumlah kementrian, instasi, pendek kata hampir di semua lini sejak dari pusat hingga ke daerah-daerah. Kalau tidak salah negara kita menduduki peringkat atas dalam hal korupsi.

Para koruptor sebenarnya adalah orang-orang yang pernah bersekolah, mengenyam pendidikan tinggi dengan embel-embel titel yang tak terhitung banyaknya. Seharusnyalah berlaku ungkapan nobless oblige. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang semakin menyadarkannya betapa besar tanggung jawab yang diembannya sehingga menghindari perbuatan-perbuatan naïf yang merugikan sesama anak bangsa. Dengan demikian sekolah atau pendidikan itu benar-benar berfungsi humanisasi, memanusiakan manusia, dan bukan sebaliknya mendispersonifikasikan manusia, yakni tidak memanusiakan manusia yang alhasil menciptakan manusia yang tidak punya rasa empati dan rasa malu atau rasa bersalah. Keadaan inilah yang disentil oleh Roem agar fungsi pendidikan yang sebenarnya harus dikembalikan. Jika tidak, maka slogan demi mencapai Indonesia yang adil dan makmur hanya ucapan bombastis yang melenceng dari kenyataan.

Agaknya inilah yang dipertanyakan secara ironis oleh Roem dalam topik Sekolah Sudah Mati. Kalau banyak sarjana lulusan sekolah tertinggi sekarang larut jadi koruptor dan tukang peras rakyat kecil, itu salah siapa?

 

 

Print Friendly, PDF & Email