Scroll to Top
Semiotik: Motif dan Makna pada Kain Ikat Sumba Timur
Posted by Frans Hebi on 12th November 2014
| 34229 views
Esi, Salah Satu Pengawas di TPS 017 Juga Memakai Sarung Sumba Saat bertugas [Foto: Heienrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Dorongan memvisualisasikan konsep-konsep interaksi di suatu komunitas masyarakat atau relasinya dengan alam natura (dunia fauna dan flora) melahirkan berbagai tanda gambar pada kain ikat. Kain ikat Sumba Timur yang sarat dengan tanda/gambar yang membentuk corak, motif merupakan penuangan gagasan, ide, pemikiran, yang sebelumnya telah teruang dalam seni kata (seni verbal). Misalnya ada realita, seorang raja penuh kuasa, sakti, sehingga dikramatkan, dan permaisuri yang berwibawa, bijak bestari, bertajuk mahkota (kara wulang). Dalam dunia binatang (fauna) buaya yang memiliki instink kuat ditakuti dan dikramatkan oleh masyarakat Sumba umumnya (di Mesir dewa Sobek dilukis sebagai buaya).  Buaya dipaar dengan penyu (ingat filsafat orang Sumba, serba dua atau dualisme). Maka lahirlah seni kata dalam baitan ana wuya rara, ana karawulang, sang buaya merah  sang penyu bersisik.




Seni kata yang menyebutkan konsep itulah yang dilukiskan sebagai buaya dan penyu dalam kain ikat Sumba Timur. Tentu saja dengan variasi gambar lain yang tidak mengaburkan tema. Masyarakat Sumba Timur yang sifatnya komunalistik seperti musyawarah bersama, mengerjakan sesuatu secara bersama, memecahkan masalah bersama, itu ada kemiripannya dengan dunia fauna, kakatua dan nuri yang selalu berkelompok. Kenyataan ini diungkapkan dalam seni kata kaka makanguhuru, pirihu pauli, kakatua dan nuri yang senantiasa berkelompok. Dan lahirlah motif kakatua yang melambangkan kehidupan masyarakat yang demikian.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons