
MaxFM Waingapu, SURIAH – Rakyat Suriah, Senin pagi (9/12/2024) terbangun dari tidur mereka dengan penuh harapan namun tidak pasti akan masa depan mereka. Mereka turun ke jalan-jalan dan bersuka cita setelah pemberontak berhasil merebut ibu kota Damaskus dan Presiden Bashar al-Assad melarikan diri ke Rusia.
Baca juga:
Di BRI AI Tidak Menggantikan Peran Manusia, Namun Digunakan Untuk Tingkatkan Produktivitas
Setelah 13 tahun dilanda perang saudara dan lebih dari 50 tahun di bawah pemerintahan brutal keluarga Assad, Suriah kini menawarkan harapan baru bagi banyak warganya.
Dikutib dari voaindonesia.com Warga Suriah di Damaskus, Mahmoud Hayjar, termasuk satu di antara mereka.
“Hari ini, kegembiraan adalah milik kami. Kami telah menantikan hari ini selama 50 tahun. Selama ini semua orang dibungkam dan tidak dapat bersuara karena tirani ini. Hari ini, kami berterima kasih dan memohon kepada Tuhan untuk memberi pahala kepada semua orang yang berkontribusi pada hari ini, hari pembebasan. Kami tinggal di penjara besar, penjara besar di Suriah. Sudah 50 tahun kami tidak dapat berbicara, atau mengekspresikan diri, atau mengungkapkan kekhawatiran kami saat ditahan di penjara, seperti yang Anda lihat di Sednaya,” jelasnya.
Baca juga:
Kejatuhan Assad Memicu Ketidakpastian di Timur Tengah, Harga Minyak Melambung
Warga lainnya, Khaldoun Dayan mengatakan dia mengharapkan hari-hari yang lebih baik di “era baru” ini. Dayan termasuk satu dari ratusan orang yang turun ke jalan-jalan di Damaskus, merayakan kejatuhan Assad.
“Insya Allah kita akan melihat era baru, era yang baik, dari lebih baik ke lebih baik, dengan situasi baru ini. Kami berharap faksi-faksi di Damaskus dapat mengendalikan situasi, lebih baik dari sebelumnya, agar situasi berjalan normal dan kembali seperti dulu dan lebih baik lagi, Insya Allah inilah yang kita harapkan,” jelasnya.
Sebagian besar dari mereka yang turun ke jalan-jalan di Damaskus adalah pemberontak, dan banyak mobil yang memiliki pelat nomor dari Idlib, provinsi barat laut tempat para pemberontak melancarkan serangan kilat mereka 12 hari yang lalu.
Kemajuan pesat aliansi milisi yang dipelopori oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), bekas afiliasi Al Qaeda, merupakan titik balik di Timur Tengah.
Keberhasilan mereka ini mengakhiri perang yang menewaskan ratusan ribu orang, menyebabkan salah satu krisis pengungsi terbesar di zaman modern, mengakibatkan kota-kota dibom hingga menjadi puing-puing, sebagian besar wilayah pedesaan berkurang populasinya, dan perekonomian terpuruk akibat sanksi-sanksi global. Kejatuhan Assad pada akhirnya juga membuat jutaan pengungsi bisa pulang dari kamp-kamp di Turki, Lebanon, dan Yordania.
Sejumlah pengamat mengatakan, jatuhnya Assad melenyapkan salah satu benteng utama tempat Iran dan Rusia memegang kekuasaan di kawasan itu. Turki, yang sudah lama bersekutu dengan musuh-musuh Assad, kini semakin kuat, sementara Israel memuji hal itu sebagai akibat dari pukulan mereka terhadap sekutu-sekutu Assad yang didukung Iran.
Para pengamat juga mengatakan, dunia Arab kini menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan kembali salah satu negara di bagian tengah Timur Tengah itu, sekaligus membendung militan Islam Sunni yang tidak hanya mendukung pemberontakan anti-Assad namun juga telah berkembang menjadi kelompok sektarian penuh kekerasan.
Baca juga:
Polres Sumba Timur Lakukan Pemeriksaan Senpi Rutin
HTS masih ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh PBB dan sebagian besar negara, namun telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berupaya melunakkan citranya dan menjauhkan diri dari akarnya di Al Qaeda untuk merebut hati negara-negara asing dan kelompok-kelompok minoritas di Suriah. [ab/lt]

![Kapolres Sumba Timur AKBP Gede Harimbawa Menjelaskan ke Awak Media Terkait kasus Pembuhan dan Kekerasan di Blok M, Matawai dan Menunukkan barang Bukti Parang Sumba yang digunakan untuk Membunuh dan Melukai korban [Foto: Heinrich Dengi]](http://maxfmwaingapu.com/wp-content/uploads/2026/06/j-102x75.jpg)





