
MaxFM Waingapu, SUMBA – Diskusi publik bertem Tantangan Ekologis dan Masyarakat Adat diselenggarakan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada 2 September 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Pekan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) ke-XIV yang diadakan oleh WALHI, menunjukkan fokus pada isu lingkungan dan masyarakat adat di wilayah tersebut.
Pemilihan Pulau Sumba sebagai tuan rumah didasarkan pada pertimbangan matang atas kekayaan budaya, identitas lokal yang kuat, serta kondisi lingkungannya yang khas dan penting. Direktur WALHI NTT, Umbu Wulang, menegaskan bahwa sabana Sumba yang luas berperan penting dalam penyerapan karbon dan koordinasi dengan pemerintah daerah telah dilakukan untuk memastikan relevansi acara.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumba Tengah, Matinus Umbu Djoka, menyoroti konflik antara masyarakat adat dan pengelola taman nasional. Matinus Umbu Djoka menyatakan bahwa banyak hak masyarakat adat yang diambil alih dan menuntut agar hak-hak tersebut dikembalikan, seraya menekankan pentingnya melestarikan bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.
Pemateri pertama, Edward Umbu Bolu, membahas perubahan iklim sebagai isu global yang dipicu oleh aktivitas manusia seperti pertambangan. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim telah mengganggu keseimbangan ekosistem dan menyerukan tanggung jawab kolektif untuk mengurangi aktivitas yang merusak lingkungan.
Pemateri kedua, Debora Rambu Kasuatu, menghubungkan kelestarian lingkungan dengan keberadaan masyarakat adat sebagai penjaga alam. Ia mengkritik kesalahan interpretasi terhadap definisi masyarakat adat dan menyatakan bahwa kerusakan lingkungan terjadi ketika nilai-nilai tradisional ditinggalkan. Debora menyerukan pengakuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adat serta melestarikan sabana sebagai penyerap karbon vital.
Sementara itu pemateri ketiga, Fredy Umbu Bewa Guty, mengangkat peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan untuk mewujudkan keadilan antar generasi. Ia mengingatkan bahwa generasi sekarang memiliki tanggung jawab moral untuk mewariskan lingkungan yang baik kepada generasi mendatang dan mempertanyakan kontribusi apa yang akan ditinggalkan.
Di akhir diskusi, tercapai sebuah konsensus dan komitmen bersama dari seluruh peserta, termasuk Masyarakat Adat, kelompok masyarakat sipil, mahasiswa, akademisi, dan Pemda Sumba Tengah. Mereka sepakat untuk mendukung dan memperjuangkan status Sabana Sumba sebagai Ekosistem Esensial yang harus dilindungi oleh negara. [HD]








