Scroll to Top
“PICA KEPALA” (Catatan Isolasi Mandiri)
Posted by maxfm on 21st Juli 2021
| 264 views
Gambar : Yongky HS

MaxFM, Waingapu – Menurut pengalaman teman-teman, gejala terinfeksi covid 19 memang beragam, batuk pilek, demam, muntah-muntah, mencret, hilang penciuman dan perasa, sesak nafas dan lain-lain.



Khusus untuk saya pribadi, diawali demam, batuk pilek, lemas badan dan sakit kepala. Istri saya dan anak-anak memasuki hari ke 8 sudah semakin membaik, penciuman pelan-pelan sudah menuju normal. Tidak memiliki keluhan yang berarti. Saya justru sebaliknya, badan masih terasa lemas, mulut terasa pahit, batuk pilek dan ini paling menyakitkan sakit kepala, rasa mo pica ni kepala.




Pada masa isolasi ini setiap hari dapat, support segala macam, terutama doa dan kata-kata penyemangat. Tak jarang pula dapat perhatian yg kadang bikin ciut nyali. Contohnya saya dapat WA begini: “Tetap semangat ya, terus berdoa,semoga cepat pulih. Gimana kondisi sekarang? Kemarin teman kita si A itu meninggal kabarnya juga kena covid bla..bla..bla…….” Ada juga cerita-cerita tentang kabar kerabat dan sahabat yang kritis di rumah sakit dan sebagainya.

Khusus buat sahabat dan kerabat saya yang suka bawa-bawa berita demikian saya mau bilang: Sebaiknya tak usah WA ataupun telpon. Saya tidak buta dan tuli, beritanya juga saya tau di medsos. Berita semacam ini tiap hari bermunculan di grup WA, muncul di HP kita bahkan tiap saat. Berita ini sebenarnya biasa-biasa saja, tapi menjadi sangat luar biasa ketika anda sampaikan kepada saya yang dalam kondisi tengah berjuang membangun optimisme. Anda menyulut api di kepala saya yang setiap hari berusaha saya siram pakai air es. Lama-lama pica be pu kelapa ni!!!!




Kadang saya juga bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya paling menakutkan dalam situasi terinfeksi virus covid 19? Resiko kematian? Kadang! Tak berdaya secara fisik dan psikis? Kadang! Tak bisa sembuh seratus persen? Kadang! Semua jawabannya : Kadang alias sering muncul. Jadi intinya mengatasi ketakutan diri sendiri itu menjadi kunci agar cepat pulih. Maklum semua juga tau virus ini belum ada obatnya. Kita hanya mengobati gejalanya saja.

Hati yang gembira adalah obat! Buat santai dan HEPI saja pasti cepat sembuh. Iya gembira, iya HEPI……(ini saya ucapkan dengan kedua alis tinggi di atas wajah). Bagaimana bisa gembira kalo kita tau logistik penanganan covid 19 di tempat kita sudah kewalahan? Obat-obatan sulit didapat? Rumah sakit membludak, pasien tidak terlayani? Pemerintah bingung menghadapi wabah ini? Vaksin jadi barang langka yang harus diperebutkan? Pelaksanaan vaksinasi cenderung semrawut. Kegaduhan muncul di mana-mana? Dan kita juga bingung besok-besok mau kerja apa? Masih bisa bergembira? Masih bisa santai dan hepii?



Apa kita masih bisa santai dan bergembira kalau sudah usaha taati isolasi mandiri, e ada yang jelas-jelas positif malah kelayapan ke mana-mana? Bisa kita santai? Kalau rakyatnya dipaksa taat PPKM, tapi pejabatnya yang meninggal karena covid 19 malah bisa diterbangkan kemana-mana? Bisa? Bisa kita santai kalau rakyat mati-matian menyikapi situasi ini agar masih bisa dapat sesuap nasi, sementara pejabatnya yang hanya ongkang-ongkang nonton sinetron tak mau mengorbankan sedikit saja gajinya demi rakyat? Bisa kita santai? Ahh persetan, tambah PICA SA PU KEPALA!!!!!!

Waingapu, 20 Juli 2021
Catatan Isolasi Mandiri hari ke 9

Penulis : Yongky HS

NB
Bacanya santai sajae.. ini cuma contoh bahwa ketakutan dan amarah perlu disampaikan sebagai terapi membangun optimisme saat isoman.

Sruput kopi jahe tete baba biar reda amarah, skalian buat terapi pemulihan penciuman.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons