Scroll to Top
Distan TPH Turunkan Armada ke Lapangan
Posted by maxfm on 6th Januari 2021
| 115 views
Belalang Kembara Menghabiskan Sekira 2 Hektar Padi Ladang Warga Desa Mandahu Kecamatan Katala Hamulingu [Foto: Matius Yiwa]

MaxFM, Waingapu – Dinas Pertanian dan Pangan (Distan) Kabupaten Sumba Timur telah menurunkan armada nya ke Kecamatan Katala Hamu Lingu (Kahali) untuk melakukan pengendalian terhadap serangan belalang kembara di wilayah tersebut. Distan TPH Kabupaten Sumba Timur juga sedang menggalakkan pembentukan regu pengendali hama di setiap desa.

Kepala Dinas Pertanian TPH Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Mbaku Muku, S.P., M.Si., menyampaikan hal ini kepada MaxFm Waingapu melalui sambungan telepon dengan Radio Max FM Waingapu, Selasa (5/1/2020) siang dalam acara Warga Bicara. Dijelaskannya serangan belalang kembara di Sumba Timur sudah harus dilihat sebagai permasalahan bersama untuk diatasi bersama.



Oktavianus membenarkan adanya serangan belalang kembara untuk tanaman pertanian warga di Desa Mandahu dan Desa Kombapari, Kecamatan Kahali dalam beberapa hari terakhir, sehingga pihaknya memutuskan untuk menerjunkan satu-satunya armada milik Distan untuk melakukan pengendalian di lapangan.

“Iya benar informasinya sekitar dua hekta are lebih jagung dan padi ladang yang sudah habis terserang hama belalang,” ungkapnya.

Selain belalang, Oktavianus juga menjelaskan ada serangan ulat gerayak yang terjadi di lahan pertanian petani sehingga butuh kerja sama dengan semua pihak, termasuk kelompok masyarakat di desa-desa untuk bisa bersama mengatasinya.




“Kalau kami dari dinas sendiri yang kerjakan (mengendalikan hama belalang dan ulat gerayak) pasti akan sulit teratasi. Jadi kita ajak masyarakat untuk terlibat dengan membentuk regu pengendali hama di tingkat desa,” urainya.

Untuk memastikan sebaran serangan hama belalang dan ulat gerayak di petani, Oktavianus juga menjelaskan, Distan Kabupaten Sumba Timur sudah mengeluarkan dua surat kepada petugas di lapangan untuk bekerja sama dengan kepala desa dan juga camat, agar memastikan setiap titik serangan hama belalang ada di titik mana, sehingga kemudian dapat dilakukan penanaganan oleh regu pengendali hama tingkat desa.

“Kami dari dinas akan suport dari sisi obat-obatan, dan alat. Sedangkan tenaganya dari regu pengendali hama desa,” jelasnya.



Menurutnya adanya hama belalang pada awal tahun ini disebabkan oleh adanya perubahan cuaca, terutama turunnya hujan yang cukup deras pada bulan September 2020 lalu, yang mengakibatkan penetasan telur belalang.

Diharapkannya dukungan masyarakat saat ini tidak lagi sebatas pada memberikan informasi kepada pemerintah melalui pemerintah desa maupun petugas Distan di lapangan, atau langsung ke Distan Kabupaten Sumba Timur. Namun masyarakat harus juga ikut melakukan pengendalian di tingkat kelompok masyarakat secara langsung.

“Marilah kita melihat ini sebagai persoalan bersama, agar bisa mengendalikannya bersama-sama,” tegasnya.

Menurutnya serangan hama belalang bisa saja sudah terjadi di kecamatan-kecamatan lain di Sumba Timur. Bahkan Oktavianus memperkirakan sebaran hama belalang sudah menyebar di kecamatan-kecamatan lain yang ada di Sumba Timur, namun laporannya belum sampai ke Distan Sumba Timur.



Mengenai apakah belalang ini bisa dikonsumsi atau dijadikan sebagai bahan pakan ternak, Oktavianus mengakui pernah terjadi penelitian bersama antara Pemkab Sumba Timur dan Universitas Gajah Mada (UGM) 10 atau 15 tahun silam. Namun apakah penelitian tersebut masih dapat digunakan saat ini, hal tersebut harus dilakukan pengujian kembali.

Untuk diketahui serangan belalang kembara saat ini selain terjadi di wilayah Kecamatan Kahali, juga terjadi di wilayah Kecamatan Kanatang yang telah menghabiskan rumput di padang peternakan milik masyarakat, pohon-pohon yang menjadi sumber pakan ternak, hingga tanaman jagung dan kacang tanah milik para petani.(TIM)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons