Scroll to Top
Antara Sayuri, Gadis Pantai, dan Srintil, serta Kemerdekaan Perempuan Sesungguhnya
Posted by Evi Silvian Rospita on 22nd Desember 2020
| 394 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan {Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Hidup saya memang tak seindah Nia Ramadhani atau Yuni Shara. Namun hidup saya boleh dibilang beruntung.

Saya sudah bisa membaca sebelum usia saya genap lima tahun dan hal ini membuat ibu saya langsung menyekolahkan saya ke sebuah SD swasta terbaik di kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.



Ayah dan ibu juga membebaskan saya untuk membaca apa saja yang saya sukai. Mereka juga membebaskan saya untuk bercita-cita menjadi apa saja, termasuk ketika saya dengan tiba-tiba mengatakan ingin jadi penyanyi dangdut seperti Elvy Sukaesih yang terkenal saat itu. Ibu saya selalu bilang, “Kamu boleh jadi apa saja nanti ketika dewasa, yang penting kamu selesaikan dulu sekolahmu.”

Ibu saya juga berkata, “Kamu perempuan, dan kamu harus sekolah agar nanti tidak menggantungkan harapanmu dan hidupmu pada laki-laki atau pada siapapun. Kamu akan bebas menjadi dirimu sendiri dan memutuskan mau kamu jadikan apa hidupmu nanti, kalau kamu punya pendidikan yang baik.”

Didikan ibu saya sungguh tegas. Jangan coba-coba minta bolos sekolah jika alasannya hanya karena mengalami sedikit pusing. Buat beliau pendidikan nomor satu, baik itu kepada saya maupun almarhum adik laki-laki saya.

Pilihan untuk melakukan apa yang disukai, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, serta memiliki Role Model yang dapat saya lihat, mungkin inilah yang tidak dimiliki oleh Sayuri tokoh utama dalam Novel “Memoir of a Geisha” karya Arthur Golden, atau Srintil tokoh utama dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, dan Gadis Pantai dalam novel “Gadis Pantai” karya Pramudya Ananta Toer.

Sayuri dikirim orang tuanya untuk magang menjadi Maiko kemudian Geisha perempuan yang dilatih khusus dalam seni musik, menyanyi, puisi, dan khusus dilatih untuk menemani laki-laki dari kalangan terpandang. Srintil awalnya hanyalah seorang gadis kecil yang suka menari, namun kemudian diharuskan untuk menjadikan tari ronggeng sebagai pekerjaan utama dan harus menjalani “profesi tambahan” selain menjadi penari ronggeng. Gadis pantai dinikahkan orang tuanya dengan seorang Bendoro (pria ningrat) meski ketika menikah kehadiran sang Bendoro digantikan oleh sebilah keris saja.




Ketiganya, tidak punya pilihan ketika hidupnya kemudian seperti menjadi objek untuk menyenangkan hati mahluk bernama laki-laki. Mereka bertiga seperti sebuah benda yang bisa dinikmati, dibeli, dan dihempaskan ketika tidak lagi dibutuhkan. Dari ketiga tokoh cerita dalam tiga novel ini, mungkin hanya Sayuri yang agak beruntung karena kemudian bisa bersama dengan pria yg ia cintai.

Srintil pada akhirnya menjadi kehilangan kewarasannya ketika serentetan ketidakberuntungan mencapai puncaknya di mana ia menyangka telah mendapatkan sosok pengganti laki-laki yang mencintainya dan ia cintai sejak kecil, Rasus. Tapi ternyata laki-laki terakhir Srintil, jauh dari figur Rasus yang demikian mencintai dan menghormatinya. Lelaki terakhir ini memanfaatkan Srintil dengan menawarkan dirinya kepada atasan si lelaki untuk keuntungan si lelaki ini sendiri, meski akhirnya rencana busuk ini tidak terlaksana.



Gadis Pantai, akhirnya diceraikan oleh Bendoro. Status nya sebagai “Isteri Magang atau Isteri percobaan” harus berakhir ketika Bendoronya menikah dengan perempuan ningrat yang sederajat dengannya. Iapun dipaksa meninggalkan kediaman Bendoro dan terpaksa berpisah dengan anaknya.

Sayuri, harus kehilangan kehormatannya pada seorang dokter yang berhasil memberikan “harga yang pantas” pada Okiya (Rumah Geisha) tempat Sayuri magang sebagai Geisha.




Kesamaan berikutnya antara Sayuri, Gadis Pantai, dan Srintil adalah proses Apprenticeship (Magang) yang dijalani ketiganya sejak usia belia. Mereka belajar menari, menyanyi, tertawa dengan elegan, menyembunyikan perasaan terdalam mereka, dan belajar tata krama serta “hal lain” yang dapat membuat lelaki manapun bahagia.

Mereka bertiga belajar agar bisa menjadi piawai dalam hal menghibur laki-laki, secara batiniah dan lahiriah, dan itu mungkin menjadi satu-satunya tujuan hidup ketiganya.

Sayuri dan Srintil menjadi apprentice sejak usia 9-11 tahun, sementara Gadis Pantai dididik ketika ia menjadi “istri percobaan” sang Bendoro, di kediaman sang Bendoro saat usianya juga masih belasan.




Apakah mereka ikhlas menjalani itu? Hanya Tuhan yang tahu.

Yang jelas, saya merasa bahwa mereka menjalaninya karena mereka tidak punya pilihan.

Mereka tidak bisa bermimpi menjadi calon astronot seperti DR. Pratiwi Sudarmono, menjadi ekonom seperti DR. Sri Mulyani, menjadi politikus handal seperti ibu Chofifah Indar Parawansa, atau menjadi penari kenamaaan macam Misty Copeland.

Pertama, mungkin karena mereka tidak punya cukup panutan atau role model, kedua mungkin karena mereka tidak cukup beruntung untuk bisa mendapatkan pendidikan, ketiga mungkin karena mereka tidak memiliki orang tua yang memberikan mereka kesempatan untuk memiliki mimpi dan melakukan apa yang mereka sukai.

Memiliki role model atau orang dewasa di sekitar anak sangatlah penting, seperti yang dikatakan oleh Albert Bandura dalam teori pembelajaran sosialnya. Dikatakan oleh Bandura bahwa anak mengamati lingkungan sekitarnya dan kemudian meniru apa yang mereka lihat di sekeliling. Apabila anak melihat orang di sekitarnya banyak membaca, berdiskusi, menghormati hak orang lain atau bekerja dengan giat maka ia akan belajar bahwa demikianlah seharusnya mereka berlaku ketika dewasa. Demikian juga sebaliknya, bila anak melihat kekerasan, sumpah serapah, dan hal negatif lain maka anak akan belajar bagaimana menjadi seperti demikian.



Sayuri, Srintil, dan Gadis Pantai tidak cukup beruntung untuk bisa melihat Role Model yang baik. Mereka melihat orang dewasa di sekitarnya saling berlomba mengeksploitasi mereka, sehingga akhirnya ketika dewasa mereka tak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah dicontohkan orang dewasa kepada mereka saat mereka masih kecil.

Hal berikutnya yang paling krusial adalah Pendidikan. Melalui proses Pendidikan, anak dilatih untuk dapat berpikir mulai dari berpikir tingkat rendah saat anak belajar memaparkan kembali informasi, sampai analisis informasi, dan bagaimana cara menggunakan hasil analisis ke dalam sebuah proses pengambilan keputusan (Marzano’s Thinking Taxonomy: Cognitive System: Decission Making), sampai ketika anak tumbuh di usia pra-dewasa dan kemudian belajar tentang bagaimana memikirkan apa yang sudah dipikirkan (Marzano’s Thinking taxonomy: Metacognitive thinking). Dimana pembelajar akan belajar memikirkan apakah yang ia pikirkan sudah benar? Bagaimana ia tahu bahwa apa yang dipikirkan sudah benar? Dan bagaimana cara mengetahuinya? Ini semua dipelajari anak saat mereka belajar di sekolah. Inilah yang kemudian menjadi tujuan utama pembelajaran yang ada di kurikulum 2013 dan juga pada modul literasi dan numerasi yang dirilis Kemdikbud dalam website-nya. Kita akan melihat lembar refleksi di setiap bagian penilaian formatif, ini melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi anak.



Sayuri, Srintil, dan Gadis Pantai tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Mereka tak memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana caranya dapat berpikir tingkat tinggi. Sebagai akibatnya, mereka kesulitan ketika harus dengan percaya diri mengambil keputusan yang didahului dengan proses analisis.

Pendidikan, kemudian berkorelasi dengan rasa percaya diri seseorang untuk menggapai mimpi mereka. Pendidikan memberikan bekal yang cukup dari segi keterampilan maupun pengetahuan, serta konsep dasar tertentu bagi seseorang untuk meraih mimpi atau cita-cita.

Terakhir adalah pilihan. Demikian, bahwa memiliki Tole Model, pendidikan, dan mimpi dapat membuat seseorang merasa memiliki pilihan. Pilihan yang terkait dengan akan dijadikan apa nantinya hidup kita serta bertanggung jawab atas pilihan apapun yang diambil. Hal ini termasuk memetik pelajaran dari setiap konsekuensi dari pilihan yang diambil. Baik atau buruknya Outcome (hasil) akhir dari sebuah konsekuensi semuanya adalah proses pembelajaran bukan akhir dari dunia ini seperti yang dikatakan oleh Carol Dweck dalam bukunya Growth Mindset (Mindset, the New Psychology of Success. Carol Dweck. 2017) . Dimana semua hal adalah proses belajar yang dapat menjadikan hidup kita lebih baik lagi.




Buat saya, memiliki pilihan dan menjalankan pilihan hidup itu adalah definisi dari merdeka semerdeka-merdeka nya manusia, dan tentu ini adalah opini saya belaka. Bisa benar, bisa juga tidak.

Saya yakin, jikalau Srintil, Sayuri, dan Gadis Pantai memiliki pilihan, mungkin mereka tidak akan sudi hidupnya hanya menjadi obyek pelengkap dalam kehidupan para pria yang menjadi subyek pelaku dalam kehidupan mereka. Dimana mereka tidak memiliki kontrol atau sedikit kontrol terhadap diri mereka sendiri.

Demikian, ternyata begitu penting bagi kita sebagai orang tua untuk memberikan pilihan kepada anak-anak-anak kita, khususnya anak perempuan. Melatih anak-anak sejak dini untuk membaca, berdiskusi, mengemukakan pendapat, serta menganalisa informasi dan peluang, nantinya akan membuat mereka terbiasa mengambil keputusan yang baik. Menjadikan kita sebagai orang dewasa sebagai Role Model pertama dalam melakukannya dengan baik juga hal penting yang harus kita tunjukkan pada anak-anak.

Satu pertanyaan saya pada pembaca, sebagai orang dewasa yang ada di sekeliling anak-anak apakah kita sudah memberikan kesempatan bagi anak-anak khususnya anak perempuan untuk memberikan kebebasan pada mereka untuk memperoleh Pendidikan? Memiliki mimpi? Memberikan pilihan? Dan juga menjadi Role Model bagi mereka?

Semoga…!!!

Selamat Hari Ibu.
[Oleh: Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan]

Bibliography:
Gadis Pantai; Pramudya Ananta Toer; 1987
Ronggeng Dukuh Paruk; Ahmad Tohari, 1982
Memoir of a Geisha, Arthur Golden; 1997
Mindset – The New Psychology of Success; Carol Dweck PhD; 2006
Grit; Angela Duckworth; 2017

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons