Scroll to Top
Sumba Timur Miliki Landscape Alam Terbaik untuk Pembuatan Film
Posted by maxfm on 6th Agustus 2020
| 388 views
Sutradara film Riri Riza saat pengambilan gambar di padang savana Sumba Timur
untuk film Humba Dreams [Foto: Dokumentasi Humba Dreams]

MaxFm, Waingapu – Kota Waingapu dan Kabupaten Sumba Timur umumnya memiliki landscape terbaik untuk menjadi lokasi pengambilan gambar unuk pembuatan film layar lebarmaupun iklan. Landcape yang dimiliki Sumba Timur tidak ada duanya di wilayah kabupaten/kota di NTT, bahkan Indonesia.




Hal ini disampaikan Sutradara Film Humba Dreams, Riri Riza dalam dialog interaktif dengan Radio Max Fm Waingapu, Kamis (31/7/2020) malam. Dijelaskannya Kota Waingapu dan wilayah Kabupaten Sumba Timur sangat cocok untuk menjadi lokasi syuting film, sehingga sangat dimungkinkan ke depan manajemennya bisa melakukan proses syuting film lagi di Sumba Timur.

Menurutnya keunggulan Kota Waingapu dan Sumba Timur umumnya untuk menjadi lokasi pembuatan film berada pada ketersediaan cahaya matahari dan landscape alam yang otentik dan lengkap, sehingga proses pembuatan film di Sumba Timur dapat dilakukan dengan sangat baik dan maksimal.

“Sangat maskulin dan lengkap, jadi untuk NTT sendiri di kabupaten/kota lainnya saya tidak temukan yang sama dengan di Sumba Timur,” jelas pria yang juga menyutradarai film Atambua 39 derajat celcius ini.




Karena itu, menurutnya tidak tertutup kemungkinan bagi dirinya dan tim Managemen Miles Production untuk menjadikan Sumba Timur menjadi lokasi pengambilan gambar film di masa-masa yang akan datang. Bahkan menurutnya kemungkinan pembuatan film dengan lokasi Sumba Timur tidak hanya untuk film Indonesia, namun juga bisa film dengan kelas yang lebih tinggi untuk penonton global.

“Bisa saja satu hari kami datang lagi ke Waingapu untuk buat film seperti Humba Dreams, atau dengan genre Indonesia, bahkan dengan teman-teman dari negara lain untuk membuat film untuk penonton dunia,” urainya.

Mengenai pesan yang ingin disampaikannya melalui film Humba Dreams, Riri Riza menguraikan sebagai sutradara film, dirinya pernah menjelajah sejumlah daerah dengan kekayaan budaya, kebiasaan, kekayaan alam yang unik. Namun yang diperolehnya dari Sumba adalah semacam gabungan dari semua keunikan alam dan budaya yang ada di sejumlah daerah di Indonesia.

Sutradara film Riri Riza saat mengarahkan aktor film Humba Dreams [Foto: Dokumentasi Humba Dreams]

Karena itu dirinya mengangkat budaya Marapu yang sangat kaya dengan keyakinan akan adanya tempat bagi setiap orang yang meninggal dan memiliki arti khusus hingga jasadnya dimakamkan. Termasuk dengan sejumlah pesan mengenai banyaknya anak muda Sumba yang lebih memilih mencari penghidupan yang lebih baik diluar Sumba dan meninggalkan keluarga.

“Saya tipe pembuat film (Sutradara) yang banyak maunya dan katanya tidak baik karena kita harus fokus. Tetapi saya juga bukan tipe pembuat film yang bisa membuat 10 atau lima film dalam satu tahun. Jadi saat syaa berkesempatan membuat film, saya selalu masukkan semua yang saya kumpukkan melalui riset saya dan apa yang saya terima selama proses pembuatan film,” urainya.

Kerena itu, Riri mengaku pihaknya sudah merencanakan untuk melakukan pemutaran film Humba Dreams di Waingapu dan sejumlah tempat-tempat yang memiliki nilai budaya untuk mendapatkan masukan dari masyarakat Sumba Timur terkait pesan film tersebut. Namun hal ini masih akan disesuaikan kembali dengan melihat perkembangan curva Pandemi Covid-19 di Indonesia.



“Kami juga ingin mendapatkan masukan dari warga Sumba tentang bagaimana Sumba dalam film yang dibuat oleh orang luar Sumba. Jadi pasti akan kita lakukan pemutaran film Humba Dreams di Waingapu dan tempat-tempat lain di Sumba,” jelasnya.

Riri juga mengapresiasi keberadaan Radio Max Fm Waingapu yang dalam keterbatasan di daerah seperti Waingapu mampu bertahan dan memberikan warna sekaligus media penyebar informasi bagi masyarakat Sumba Timur saat ini. Karena dengan perkembangan digitalisasi informasi yang makin pesat disaat ini, tentu memberikan tekanan dan persaingan bagi radio untuk tetap eksis.

“Saya menganggap Radio Max Fm ini sebagai salah satu elemen penting yang menjaga peradaban dan budaya di tanah ini (Sumba). Saya membayangkan tantangannya tentu tidak lagi mudah bertahan di tengah perkembangan informasi global saat ini. Tetapi saya harus apresiasi Radio ini yang mampu untuk tetap menjadi penyambung lidah masyarakat Sumba Timur, sekaligus menjadi media bagi orang lain untuk tahu tentang Sumba, budaya dan juga berbagai tantangan budayanya,” akunya.



Dirinya berharap Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini tidak memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat Sumba Timur, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, perekonomian masyarakat bisa kembali bergerak, dan pariwisata Sumba juga ikut kembali bergeliat.

“Semoga Pandemi Covid-19 tidak menyebabkan dampak terlalu besar bagi masyarakat Sumba Timur,” tandasnya.(TIM)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons