Scroll to Top
Petani Watumbaka Senang Bisa Panen Banyak dan Air Tersedia Melimpah di Kebun
Posted by maxfm on 17th Agustus 2020
| 188 views
Anggota Kelompok Tani dari Mbatakapidu foto bersama Anggota KTO Watumbaka [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Petani di Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai senang bisa mendapat kepercayaan untuk mengoperasikan pompa Barsha milik Yayasan Komunitas Radio Max Fm Waingapu (YKRMW) sejak tahun 2018 hingga saat ini. Para petani yang bergabung dalam Kelompok Tani Organik (KTO) Marangga Luri ini mengaku bisa mengolah lahan lebih luas dari sebelumnya.




Ketua KTO Marangga Luri, Nggaba Kamangi menyampaikan hal ini saat ditemui di kebun milik kelompok tani tersebut, Jumat (14/8/2020). Dijelaskannya KTO Marangga Luri mendapatkan kepercayaan untuk menggunakan mesin pompa Barsha milik YKRMW sejak tahun 2018 lalu dan sampai saat ini, masih tetap mendapatkan kepercayaan tersebut.

Menurutnya sebelum tahun 2018, lahan yang ada sudah selalu diolah saat musim kemarau untuk menanam sayuran. Namun luasan lahan yang diolah sangat terbatas karena keterbatasan kemampuan mengangkut air dari sungai untuk menyiram tanaman. Karenanya tanaman sayuran yang ditanam menjadi sangat terbatas dan hanya cukup untuk konsumsi keluarga.

“Kalau bisa jual juga, paling kami dapat jual 100 ribu dan itu sudah cukup banyak bagi kami,” urainya.




Ditambahkannya, sejak 2018 lalu bersama anggota kelompoknya, Nggala Hamba Ndima, Mbala Idi, Piala Ndilu, Loda Wani dan anak-anak mereka secara serius mengolah lahan pertanian mereka khususnya di musim kemarau untuk menanam aneka sayuran. Karena lahan pertanian tersebut di musim penghujan tetap diolah untuk menanam jagung.

Ketua KTO Marangga Luri, Nggaba Kamangi [Foto: heinrich Dengi]



Karena itu, sejumlah aktivitas mereka seperti mengumpulkan pasir, dan juga menjual ikan keliling yang sebelumnya menjadi andalan untuk menopang ekonomi keluarga di saat musim kemarau perlahan mulai ditinggalkan.

“Kalau kumpul pasir paling satu bulan bisa dapat dua ret. Tapi sudah tua begini, terlalu lama berendam di dalam air juga jadi sering sakit. Jadi sekarang sudah tidak gali pasir lagi,” urainya.

Nggaba Kamangi menambahkan, areal pertanian mereka sangat dekat dengan muara sungai, sehingga jika air laut pasang tertinggi terutama pada saat bulan purnama, biasanya air laut mencapai tempat mesin pompa diletakkan, sehingga mesin pompa akan berhenti karena air sungai tidak mengalir. Namun situasi itu biasanya hanya berlangsung satu jam, dan akan kembali normal saat air laut kembali surut.



“Purnama kan biasa tiga sampai empat malam, tetapi tidak tentu pasang tertingginya. Bisa pagi, siang, sore, atau malam. Setelah air laut surut, air sungai kembali mengalir dan tanaman bisa disiram lagi,” urainya.

Pada saat yang sama, para petani Watumbaka juga berkesempatan berbagi pengalaman bersama dengan KTO Tanambi yang berkunjung ke kebun milik KTO Marangga Luri. Dimana KTO Tanambi yang hadir adalah Angreni Konga Naha, Desianti Babang Noti, Apliana Uru Emu, Antonia May Nggedi, dan Asminto Dundu Tay.

Apliana Uru Emu pada kesempatan tersebut mengaku bangga melihat semangat para orang tua yang tergabung dalam KTO Marangga Luri. Karena walau sudah berusia tua, para anggota KTO Marangga Luri memiliki semangat yang tinggi untuk mengolah lahan pertanian mereka, memanfaatkan adanya mesin pompa Barsha milik YKRMW yang dipercayakan pengoperasiannya kepada KTO Marangga Luri.

“Orang-orang tua disini (Watumbaka) sungguh luar biasa semangatnya. Jadi kami anak muda harus bisa melakukan lebih dari bapak-mama disini,” akunya.

Anggota KTO Watumbaka Panen Sayur [Foto: Heinrich Dengi]

Ketua YKRMW, Heinrich Dominggus Dengi secara terpisah mengaku yayasannya memiliki sejumlah mesin pompa Barsha yang dipercayakan kepada sejumlah KTO. Namun mesin pompa Barsha ini tetap menjadi milik YKRMW, sehingga perawatan dan kontrol penggunaan mesin pompa Barsha tetap dilakukan tim teknis dari YKRMW.



“Kita gunakan sistem sewa, sehingga kalau petani ada kegiatan lain dan tidak gunakan mesin, kita ambil dan cari kelompok tani lain yang mau kerja. Karena tujuan kita dengan adanya mesin ini, adalah biar petani kita punya aktifitas di kebun saat musim kemarau,” urainya.

Mengenai sistem sewanya, pria yang akrab disapa Heni ini mengaku selalu disesuaikan dengan hasil yang bisa dijual petani usai musim kemarau. Karena kesepakatannya 80 persen untuk petani dan jasa pompa untuk yayasan sebesar 20 persen.

“20 persen ini kita hitung yang dijual, jadi bukan dari total hasil panen, dan kita percaya penuh kepada petani untuk menghitungnya sendiri,” tandasnya.(ONI)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons