Scroll to Top
Ribuan Babi di Sumba Timur Mati
Posted by maxfm on 16th Juli 2020
| 1036 views
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur, Yohanes Radamuri dan Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, drh. Rambu Pristiwati Pandjukang saat menjelaskan mengenai tingginya kematian babi di Sumba Timur yang diduga karena terkena virus ASF [Foto: ONI]

MaxFM, Waingapu – Diduga karena terserang virus ASF, lebih dari 2000 ekor babi milik masyarakat Kabupaten Sumba Timur mati. Jumlah riil di lapangan diduga lebih banyak karena tidak semua babi milik warga yang mati dilaporkan ke petugas resor peternakan di kecamatan maupun ke Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur.




Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur, Yohanes Radamuri menyampaikan hal ini saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2020). Dijelaskannya hingga saat ini dinasnsya belum melakukan pemerikaan sampel dari babi yang mati di laboratorium untuk memastikan penyebab babi mati. Namun sesuai dengan gejala yang dilaporkan peternak, diduga ternak babi milik masyarakat ini karena serangan virus ASF.

“Kalau untuk pemeriksaan laboratorium, kita belum sempat kirim sampel. Tetapi dari gejalanya masuk gejala ASF,” jelasnya.

Menurutnya gejala ASF dan gejala Hog Cholera yang selama ini menjadi tantangan peternak babi di Sumba Timur juga memiliki kemiripan, namun yang membedakan dari ASF adalah tidak dapat pulih walau disuntik obat atau sudah mendapat vaksin Hog Cholera. “Kalau ASF itu tingkat kematiannya 100 persen, sehingga kalau sudah kena, sulit untuk disembuhkan. Karena memang sampai saat ini belum ada vaksin ASF,” jelasnya.




Gejala umum yang dapat mengindikasikan bahwa babi terkena ASF adalah mengalami demam, kemudian tidak mau makan sampai dengan timbulnya bintik-bintik merah di badan babi. Walau demikian tergantung pada daya tahan tubuh babi, sehingga waktu terserang ASF hingga mati berbeda-beda waktunya.

“Ada yang kena hari ini, dan tidak makan sore, paginya sudah mati. Tetapi ada juga yang masih bisa bertahan sampai satu minggu baru mati,” urainya.



Dijelaskannya masuknya virus ASF ke Sumba Timur diduga dari ternak babi yang masuk dari Sumba Barat yang lebih dulu terserang virus ini. Dimana diduga melalui ternak babi yang dibawa dalam acara adat di salah satu kampung di Kecamatan Lewa Tidahu, yang kemudian terus menyebar dan sampai dengan saat ini sudah membunuh lebih dari 2Ribu ekor babi yang menyebar hampir semua kecamatan di Sumba Timur.

“Di Lewa Tidahu itu babi satu kampung semuanya mati, kurang lebih 2Ratus ekor,” urainya.

Mengenai cara penularannya, Yohanes menguraikan virus ini tidak menyebar melalui udara, melainkan melalui kontak langsung. Karena itu, ternak babi yang mati diharapkan masyarakat dapat mengubur bangkai babinya agar tidak menyebarkan bau tidak sedap dan juga bisa menyebar melalui kontak dengan warga dan peternak lainnya.



“Harus lewat kontak langsung, jadi bisa melalui sepatu petugas, atau juga karena kita kontak dengan babi yang mati karena ASF lalu kemudian mengurus memberi makan babi kita. Saya punya tiga ekor di rumah juga mati, karena saya mengubur bangkai babi yang dibuang di sekitar lingkungan kami,” jelasnya.

Mengenai pencegahan yang bisa dilakukan peternak, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, drh. Rambu Pristiwati Pandjukang menambahkan, peternak dapat menjaga kebersihan kandang, termasuk melakukan disinfeksi kandang dan menghindari kontak dengan bangkai babi yang mati dengan gejala demam, tidak makan dan memiliki bintik merah di badan.




“Termasuk juga memastikan makanan yang diberikan itu bebas dari virus. Karena bisa saja makanannya sempat berdekatan dengan produk makanan babi yang mengandung virus ASF,” urainya.

Menurutnya saat ini tim dari Laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar sedang berada di Sumba Timur untuk mengambil sampel pemeriksaan antraks dan beberapa penyakit ternak lainnya. Karena itu, saat selesai pihaknya akan menitipkan sampel babi terduga ASF, agar nantinya bisa juga diperiksa di Laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar.

Diharapkannya masyarakat bisa menghindari tindakan membuang bangkai ternak babi yang mati di sembarang tempat, melainkan menggali lubang untuk menguburnya agar bisa memutus mata rantai penyebaran virus ASF ini.



“Kalau bangkai babinya dibuang sembarangan, bisa menyebabkan kontak dengan peternak lain dan kemudian babi lain bisa ikut terkena. Jadi kita himbau agar masyarakat mengubur bangkai babinya,” tandasnya.(ONI)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons