Scroll to Top
Kekurangan Pakan, Ratusan Ternak di Hambapraing Mati
Posted by maxfm on 18th Februari 2020
| 450 views
Ternak milik masyarakat Desa Hambapraing terlihat kurus karena kekurangan pakan.(FOTO:ONI).

MaxFM, Waingapu – Musim kemarau yang berkepanjangan di pesisir utara Kabupaten Sumba Timur hingga saat ini, telah mengakibatkan kurangnya pakan hijau di padang-padang rumput di wilayah Desa Hambapraing dan sekitarnya. Akibatnya ternak milik masyarakat di Desa Hambapraing, Kecamatan Kanatang kekurangan pakan dan saatbini dilaporkan sudah ada ratusan ekor yang mati.

Hal ini diakui sejumlah petani-peternak di Kampung Maudolung, Desa Hambapraing belum lama ini. Matius Tandu Nggama, Adrianus Riwu Bane dan Agustinus Tay Rawambaku mengaku ternak mereka yang mati rata-rata karena kekurangan pakan. Pasalnya curah hujan di wilayah mereka masih cukup rendah sampai dengan saat ini.




Menurut Matius menuturkan kemarau panjang yang dirasakan masyarakat Hambapraing saat ini merupakan lanjutan dari kemarau panjang tahun 2018/2019 lalu. Namun tahun ini kondisinya jauh lebih buruk, karena hingga pertengahan Februari ini, curah hujan masih sangat minim, sehingga rumput yang ada di padang sudah kembali mati.

“Paling parah sudah ini sejak akhir 2019 sampai awal 2020 ini. Karena ternak saya sendiri yang sakit dan mati sudah 23 ekor, yakni kuda, sapi, dan kerbau. Karena memang hujan sangat kurang dan rumput di padang sudah mati kembali,” jelasnya.

Untuk bisa memberikan makanan kepada ternak miliknya yang masih tersisa, Matius mengaku dirinya dan peternak lainnya terpaksa menyewa truk untuk mencari dan membeli rumput hingga di kecamatan tetangga yang jaraknya bisa mencapai 50 hingga 60 kilo meter jauhnya.




“Terpaksa sudah kita lari jauh (mencari dan membeli rumput) sudah. Itu juga kalau kita bawa rumput satu truk, paling bisa untuk satu minggu. Jadi kita cincang rumputnya, campur lagi dengan makanan toko, dan siram dengan air laut lagi baru dikasih makan,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan mantan Kepala Desa Hambapraing, Agustinus Tay Rawambaku. Dirinya mengaku jumlah ternaknya yang mati karena terserang diare setelah kurang makan sejak akhir 2019 lalu sampai sekarang sudah mencapai 15 ekor. Namun dirinya hanya pasrah saja karena tidak harus menyelamatkan hewan ternaknya dengan cara apa, karena memang ketiadaan pakan di padang.

“Kalau sudah mati, kita tidak berani makan dagingnya lagi. Karena biasanya terserang diare dulu, kemudian mulai lemas, tidak bisa berdiri, baru mati. Jadi kami takut, jangan sampai ada virus apa di dagingnya, yang justru bisa celakakan kami juga,” jelasnya.



Rawambaku menambahkan, jumlah ternak yang mati di wilayah Desa Hambapraing sendiri sejak akhir 2019 hingga awal tahun 2020 ini diperkirakan sudah lebih dari 200 ekor ternak. Namun para peternak hanya bisa pasrah, dan berharap hujan bisa kembali turun di wilayah tersebut, sehingga rumput bisa tumbuh lagi dan sisa ternak mereka bisa terselamatkan.

“Total jumlah ternak kuda, kerbau, dan sapi di Hambapraing bisa mencapai 2000-an ekor, dan sudah mati sekitar lebih dari 200 ekor. Kami sudah sempat minta petugas untuk vaksin ternaknya, tetapi mungkin karena kurang makan, walau sudah divaksin tetap mati juga,” tandasnya.(ONI).

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons