Scroll to Top
Warga Belanda Kagumi Kain Tenun Ikat Sumba
Posted by maxfm on 10th November 2019
| 597 views

Dua warga negara Belanda, Antoinnette dan Tina Lamboij terlibat bercerita santai dengan sejumlah anak SMP sesaat sebelum pembukaan Sidang Raya XVII PGI, Jumat (8/11) lalu.(Foto:ONI)

MaxFM, Waingapu – Sejumlah warga negara Belanda ikut mengambil bagian dalam kegiatan Pembukaan Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jumat (8/11) lalu. Warga negara Belanda ini mengikuti acara pembukaan Sidang Raya PGI ini karena memiliki hubungan emosional dengan Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Payeti tempat penyelenggaraan SR XVII PGI.

Kepada MaxFM saat berkeliling di lokasi pembukaan SR XVII PGI, Antoinette dan Tina mengaku mengagumi kain tenun ikat Sumba yang dikenakan oleh puluhan ribu masyarakat sumba dari semua strata dan umur, yang kemudian menampilkan pemandangan yang sangat eksotis ditengah padang Pure Kambera yang kering dan hanya terdapat rerumputan kering dan sejumlah pohon.

“Pakaiannya sangat indah dan ini sesuatu kegiatan yang sangat hebat dan spektakuler, sehingga sangat membanggakan bagi kami, sebagai cucu dari Pendeta Piet Lambooij yang pernah melayani di jemaat Payeti pada tahun 1950-an,” urai Antoinette dengan senyum bangga dalam bahasa Inggris.




Tina yang sedikit bisa berbahasa Indonesia menuturkan, mereka berasal dari Den Haag Belanda, dan sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan berbahasa Inggris. Namun dirinya sedikit bisa berbahasa Indonesia, karena saat ini menjadi salah satu profesor hukum yang mengajar di Universitas Airlangga Surabaya.

Karena itu, keduanya sempat berkomunikasi dengan sejumlah anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ikut bermain peran dalam kegiatan Pembukaan Sidang Raya XVII PGI pagi itu. Keduanya meminta anak-anak ini untuk semangat dalam bersekolah, agar bisa mencapai cita-cita mereka di kemudian hari.

“Kalau kamu sekarang SMP berarti harus semangat belajar, supaya bisa lanjutkan ke SMA dan kuliah, sehingga bisa meraih cita-cita kamu,” ajak Tina.

Tina juga menuturkan dirinya dan Antoinnette baru pertama kali datang ke Sumba setelah mendengar adanya pelaksanaan Sidang Raya XVII PGI, sekaligus ingin melihat pertumbuhan Kekristenan di Sumba, sebagai tempat dimana opa mereka pernah melayani. “Kami senang bisa melihat Kekristenan bertumbuh dengan baik hingga saat ini, karena ayah kami Pather Nanno Lambooij lahir di rumah pastori GKS Payeti, yang masih ada saat ini, dan baru sedang mau direnovasi,” tutur Tina.




Keduanya mengaku bangga GKS bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan SR XVII PGI tahun 2019, dan Jemaat Payeti menjadi tuan rumahnya. Karena itu, keduanya mengaku akan menceritakan hal ini kepada keluarga mereka di Belanda untuk bisa merencanakan kembali lagi ke Sumba bersama anggota keluarga mereka yang lain. “Ini pertama kali kami datang ke Sumba, tetapi bukan yang terakhir. Semoga kami akan bisa datang lagi dengan keluarga kami yang lain,” tambah Antoinnette.

Sementara itu, dua peserta penari tarian Manandang Paoring, Brigitta Maharani Rebu (15) siswi SMAN 3 Waingapu dan Marsela Emerensia Dima (15) siswi SMKN 2 Waingapu kepada MaxFM secara terpisah mengaku bangga bisa mengambil bagian dalam acara pembukaan Sidang Raya XVII PGI, terlebih mereka tampil dengan mengenakan sarung dan memamerkan kain tenun ikat Sumba dalam tarian tersebut.

“Jelasnya kami bangga dan sangat bahagia bisa mengambil bagian dalam momen yang akan sangat bersejarah bagi masyarakat Sumba Timur dan Sumba pada umumnya hingga ratusan tahun ke depan. Jadi kami sudah menampilkan yang terbaik untuk menjadi kebanggaan Sumba Timur, terutama bagi kemuliaan Tuhan saat menari tadi,” urai Maharani dan Marsela.




Demikian halnya dengan Hendrik Huhu Nangkiwa, warga Desa Kuta, Kecamatan Kanatang yang menjadi salah satu penunggang kuda pada atraksi ringkikan dan hentakan kaki kuda, saat puisi Beri Daku Sumba dibacakan. Hendrik juga mengaku bangga karena walaupun tidak dilibatkan dalam gladi karena masalah transportasi kuda, Hendrik mengaku dirinya dan 349 penunggang kuda lainnya mampu menampilkan atraksi yang juga dapat dibanggakan sebagai orang Sumba, dan juga untuk kemuliaan Tuhan.

“Kami senang karena bisa menunggang kuda di acara sekelas pembukaan Sidang Raya PGI ini. Pasti akan kami ceritakan kepada anak-cucu kami, bahwa kuda Sandalwood juga sudah mencatatkan sejarah dalam pesta iman Sidang Raya PGI,” urainya bangga.(ONI).

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons