Scroll to Top
Dari Pantat Ternak Diolah di WC Ternak Jadi Pupuk Organik dan Gas Untuk Memasak
Posted by Heinrich Dengi on 5th Agustus 2019
| 490 views
Foto Bersama Keluarga Philipus Gili di Soa Ngada di Dekat Kompor Gas, Gas Bersumber dari WC Ternak – NTT

MaxFM, WaingapuSoa, Ngada, – Siang itu saya saya tiba di Soa dengan penerbangan dari Kupang.

Dijemput Henry Roga salah satu anak muda Soa yang ingin mengembangkan pertanian hortikultur dengan memanfaatkan energi ramah lingkungan untuk memompa ari dari sunga sebagai sumber air tanaman.

Rencana awal saya akan dibawah ke rumah Henry, tetapi diperjalanan rencana berubah karena siang itu di salah satu rumah warga sedang dipasang instalasi terkahir dari pembuatan WC Ternak.

Tentu saja ajakan Henry tidak saya tolak malah saya merasa beruntung karena bisa melihat dari dekat pengembangan WC ternak di Soa, Ngada, NTT, yang saya dengar sebelumnya sudah mulai banyak peminat yang secara swadaya dibantu team kerja SL Consultant dan tukan setempat membangun WC ternak.

Siang itu saya bertemu salah satu pemilik wc ternak di desa Ngabheo, Kecamatan Soa, Philipus Gili.

Saat saya tiba di rumah Philipus Gili saya lihat teknisi wc ternak dari CV Suluh Lingkungan Nus, sedang mengerjakan instalasi untuk kompor dan lampu gas, setelah selesai pengerjaan wc ternak dan kotoran hewan mulai terisi di wc ternak.

Foto Bersama Keluarga Philipu Gili dan Team kerja CV Suluh Lingkunan Dekat kompor Gas – Soa – Ngada – NTT

Kalau boleh dikilas balik awalnya dalam pengembangan program Sumba Iconic Island di Sumba dengan singkatan SII salah satu sektor yang didorong untuk dikembangkan adalah pembangunan reaktor Biogas , karena sesuai dengan format SII isu energi yang ditekankan, dan hingga hari ini pengembangan biogas di Sumba belum menjadi sektor pilihan yang dijadikan isu bersama dan besar untuk dikembangkan secara masif, mungkin saja karena pilihan isunya energi yakni pengganti minyak tanah untuk memasak di dapur, sehingga responnya cukup lambat dibanding bila yang ditawarkan isu pupuk yang sangat dibutuhkan petani di pedesaan.




Semenjak beberapa tahun terakhir pimpinan CV Suluh Lingkungan Adrianus Lagur yang dulu juga terlibat dalam isu SII mulai mengubah cara memandang biogas tidak dengan kacamata isu energi tetapi dengan cara pandang isu pupuk untuk petani di daerah pertanian NTT, sehingga penyebutan reaktor biogas dulunya diganti menjadi wc ternak dan sepertinya penyebutan wc ternak bisa lebih diterima masyarat petani karena yang didahulukan dapat pupuknya kemudian baru nikmati gas pengganti minyak tanah untuk energi saat memasak sebagai manfaat sampingan dari wc ternak.

Menurut Adrianus Lagur ada beberapa keuntungan petani peternak mempunyai wc ternak yakni 1. Bau kotoran ternak yang menyengat akibat gas dari kotoran hewan berkurang hingga 90%. 2 Kandang ternak bersih akibat kandang ternak sering dibersihkan dengan air untuk masuk ke lubang pengisi dampaknya ternak sehat. 3. Pemilik wc ternak bisa mendapatkan pupuk padat dan cair dari wc ternak sendiri sehingga petani pemilik wc ternak akan mempunya stok pupuk yang mencukupi sepanjang tahun dan ini akan cukup menghemat pengeluaran petani untuk membeli pupuk. 4. Keuntugan lain kata Adrianus Lagur dari CV Suluh Lingkungan yang berkantor di Kupang akibat gas yang ada dikotoran ternak tertampung di dalam wc ternak maka pemilik wc ternakjuga akan mendapatkan gas yang cukup untuk dipakai memasak di dapur sebagai pengganti kayu bakar ataupun minyak tanah. 5. Keuntungan secara ekonomi karena bila hasil akhir wc ternak berupa pupuk padat dan cair berlebih bisa dijual kepada petani lainnya.

Bapak Philipus Gili dan Istri di Soa Ngada NTT, Terlihat Senang Karena Lampu Gasnya Menyala Bagus, Sumber Gas dari WC Ternak [Foto: Heinrich Dengi]

Siang itu dengan wajah cerah dan senyum lebar pak Philipus dengan riang memperlihatkan wc ternaknya, dengan babi sebagai hewan piaraan utama yang kotarannya dimasukkan ke dalam inlet wc ternak dan menghasilakn pupuk yang baik dan hasil sampingannya gas sebagai pengganti minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak.

Kata pak Philipus, sekarang dia tidak malu membawa tamu untuk melihat kadang babinya.

“Sebelum saya gunakan wc ternak, saya malu terima tamu di rumah apalagi bawa sampai ke kandang babi, masih di ruang tamu saja bau kotoran babi sudah menyengat, apalagi kalau dekat kandang babi, bau keras,” jelas Philipus pengguna wc ternak di Soa, Ngada.




Sekarang kata Philipus Gili dia tidak malu lagi menerima tamu, karena hampir 100% bau menusuk dari kotoaran babi piarannya menghilang, kalau dulu mana mau saya bawa tetangga yangdatang untuk duduk diskusi dekat kandang babi, kalau sekarang bahkan kadang kala kami minum kopi dekat kandang babi, karena sudah tidak bau keras lagi seperti dulu.

Tambah Philipus Gili karena dirinya petani sawah, maka yang amat ditunggu adalah pupuk dari wc ternak miliknya yang akan diapakai di sawah, masih kata Philipus Gili ukuran wc ternaknya hanya yang 4M kubik.

Siang itu saat tim kerja dari CV Suluh Lingkungan selesai memasang instalasi sistim kompor dan lampu dari wc ternak Phlipus Gili dan Isteri sudah tidak sabar ingin mencoba menyalakan kompor gas yang gasnya didapat dari wc ternak.

Dan saat kompor gas menyala dengan baik serta lampu gas juga menyala dengan baik wajah ceriah dan gembira terlihat jelasa dari suami istri ini yang memiliki wc ternak sendiri dan juga mendapatkan gas untuk memasak didapurnya.

Tanpa tunggu lama istri bapak Philipus langsung memasak untuk makan siang bersma di rumahnya menggunakan kompor gas dan sekaligus rice cooker yang gasnya didapat dari wc ternak.

Salah satu staf di Dinas Pertanian Ngada Egild Johanes mengatakan, saat awal dikenalkan dengan teknologi wc ternak dirinya ragu, tetap setelah diskusi dengan Adi Lagur dari CV Suluh Lingkungan sekaligus dibuktikan dengan pembuatan wc ternak di rumah anak muda di Soa Henry Roga dirinya yakin dengan teknologi wc ternak ini dan ikut mengembangkan di kabupaten Ngada.

Menurut Egild Johanes, karena dirinya bekerja di dinas pertanian maka yang dilihat pertama adalah teknlogi wc ternak ini menawarkan solusi pupuk organik yang sangat dibutuhkan oleh petani di kabupaten Ngada, sehingga secara perlahan saat ini dirinya mendorong dan memotivasi beberapa warga setempat juga petani sawah untuk secara mandiri dan swadaya lewat kerjasama dengan CV Suluh Lingkungan untuk membangun satu demi satu wc ternak di Ngada.

Lanjut Egild Johanes hingga kini sudah lebih dari 10 wc ternak yang dibangun di Ngada dan akan menyusul peembanguna wc ternak berikutnya.

Rice Cooker Untuk Memasak Nasi, Sumber Energi Gas Metana yang dihasilkan dari WC Ternak Keluarga Philipus Gili, Soa, Ngada NTT [Foto: Heinrich Dengi]

Hari sudah makin siang, selepas masakan selesai di masak tinggal dihidangkan di meja makan, dan lewat doa ucapan syukur makan siap dimakan. Yang pasti masakan siang itu tersaji di meja makan setelah melewati proses memasak di dapur keluarga Philipus Gili, kalau sebelumnya memasak dengan kayu bakar atau minyak tanah maka siang itu makanan yang tersaji dimasak menggunakan energi terbarukan, energi hijau atau energi bersih dari gas kotoran babi yang ada di wc ternak dan disalurkaan ke dapur keluarga Philipus Gili, ketika gas sampai di kompor gas bertemu api dari pemantik maka terbakarlah gas metan dari wc ternak dengan menghasilkan api yang berwarna biru yang dipakai untuk memasak.




Kalau saja konsep wc ternak ini diterima baik oleh petani yang sekaligus peternak seperti kebanyak di NTT ini maka untuk soal pupuk petani pasti tidak terlalu bergantung banyak pada pupuk dari pemerintah sekaligus itu berarti petani pemilik wc ternak bisa mandiri soal pupuk dan ini akan mengurangi beban keuangan daerah atau negara untuk menyediakan pupuk.

Pak Philipus Gili di Sekitar kandan Babi dan WC Ternak di Sekitarnya, Sekarang Bau dari Sekitar Kandang Ternak Berkurang Drastis [Foto: Heinrich Dengi]
Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons