Scroll to Top
WABAH HEPATITIS A
Posted by maxfm on 3rd Juli 2019
| 325 views
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Penderita Hepatitis A di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, jumlahnya terus bertambah. Hingga hari Minggu, 30 Juni 2019 lalu, jumlah penderita penyakit kuning itu nyaris menembus angka 1.000 orang. Data Dinas Kesehatan Pacitan menyebutkan, jumlah itu bertambah 57 orang dibanding sehari sebelumnya. Apa yang harus dicermati?

Hepatitis A adalah penyakit infeksi karena virus Hepatitis A (VHA) pada hati yang dapat menyebabkan penyakit ringan sampai berat. Secara global, diperkirakan ada 1,4 juta kasus hepatitis A setiap tahun. VHA menyebar terutama ketika orang sehat dan yang tidak divaksinasi, mencerna makanan atau air yang terkontaminasi VHA dari tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini terkait erat dengan pasokan air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai, dan kebersihan pribadi yang buruk. Tidak seperti hepatitis B dan C, hepatitis A tidak menyebabkan penyakit hati kronis dan jarang berakibat fatal, tetapi dapat menyebabkan epidemi dan hepatitis fulminan (gagal hati akut), yang berhubungan dengan angka kematian yang tinggi.



Hepatitis A terjadi secara individuil, sporadis maupun epidemi di seluruh dunia, dengan kecenderungan untuk kambuh secara berulang. VHA adalah salah satu penyebab yang paling sering terjadinya penyakit infeksi melalui makanan. VHA bertahan dalam lingkungan dan dapat bertahan dalam proses produksi makanan olahan, yang secara rutin digunakan untuk mengendalikan bakteri patogen. Epidemi yang berhubungan dengan makanan atau air yang terkontaminasi dapat meletus secara eksplosif, seperti di Shanghai China pada tahun 1988, yang mengenai sekitar 300.000 orang. Epidemi atau KLB Hepatitis A pernah juga terjadi di Indonesia, yaitu pada tahun 2008 yang mengenai 129 warga UGM Yogyakarta, 2003 di Jember Jawa Timur, 2011 di Depok, Tasikmalaya, dan Bandung, Jawa Barat. Selain itu, juga 2012 di Lamongan, Jawa Timur dan 2015 di Bogor Jawa Barat. Penyakit ini dapat menyebabkan dampak buruk di bidang ekonomi dan sosial yang signifikan di masyarakat, karena perlu beberapa minggu atau bulan untuk sembuh dari penyakit sampai penderitanya dapat kembali bekerja, sekolah, atau menjalani kehidupan sehari-hari.

Di negara berkembang dengan kondisi sanitasi dan praktek higienis yang sangat buruk, kebanyakan anak (90%) telah terinfeksi VHA sebelum usia 10 tahun. Mereka yang terinfeksi di masa kecil tidak mengalami gejala yang terlihat. Epidemi jarang terjadi karena anak yang lebih tua dan orang dewasa umumnya sudah kebal. Di negara dengan ekonomi transisi dan wilayah di mana kondisi sanitasi adalah variabel, anak sering luput terinfeksi pada anak usia dini. Ironisnya, perbaikan kondisi ekonomi dan sanitasi dapat menyebabkan kerentanan yang lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tua, dan tingkat penyakit yang lebih tinggi, seperti infeksi pada remaja dan orang dewasa, dan wabah besar dapat terjadi. Di negara maju dengan kondisi sanitasi dan higienis yang baik, tingkat infeksi sangat rendah. Penyakit dapat terjadi di kalangan remaja dan orang dewasa di kelompok berisiko tinggi, seperti orang yang bepergian ke daerah endemisitas tinggi, dan dalam populasi yang terisolasi seperti komunitas agama tertutup.




Masa inkubasi hepatitis A biasanya 14-28 hari. Gejala hepatitis A berkisar dari ringan sampai parah, dan dapat termasuk demam, malaise, kehilangan nafsu makan, diare, mual, ketidaknyamanan perut, urin berwarna gelap dan kuning pada kulit dan mata). Tidak semua orang yang terinfeksi akan memiliki semua gejala tersebut. Orang dewasa memiliki tanda dan gejala penyakit yang lebih lengkap dibandingkan anak, dan tingkat keparahan penyakit dan kematian lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tua. Anak balita yang terinfeksi biasanya tidak mengalami gejala yang dapat terlihat dan hanya 10% kasus yang berkembang menjadi penyakit kuning. Di antara anak yang lebih besar dan orang dewasa, infeksi biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah, dengan penyakit kuning yang terjadi di lebih dari 70% kasus.

Kasus hepatitis A secara klinis tidak dapat dibedakan dari jenis lain dari hepatitis virus akut. Diagnosis spesifik dibuat dengan memeriksa IgM dan IgG-HAV di dalam darah. Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis A. Pemulihan dari gejala infeksi mungkin lambat dan mungkin memakan waktu beberapa minggu atau bulan. Terapi ditujukan untuk menjaga kenyamanan dan keseimbangan gizi yang memadai, termasuk penggantian cairan yang hilang dari muntah dan diare.




Sanitasi, keamanan pangan, dan imunisasi adalah cara yang paling efektif untuk pencegahan hepatitis A. Penyebaran VHA dapat dikurangi dengan perbaikan pasokan air minum yang aman, pembuangan limbah rumah tangga dalam masyarakat, dan praktek kebersihan pribadi seperti membiasakan mencuci tangan dengan air bersih.

Vaksin hepatitis A telah tersedia untuk melindungi dari infeksi VHA dan saat ini tidak ada vaksin yang aman untuk bayi. Hampir 100% orang akan memiliki tingkat perlindungan dengan antibodi terhadap VHA dalam waktu satu bulan setelah dosis tunggal vaksin. Bahkan setelah terpapar virus, dosis tunggal vaksin dalam waktu dua minggu dari kontak dengan virus memiliki efek protektif. Namun demikian, di seluruh Indonesia direkomendasikan pemberian 2 dosis vaksin Hepatitis A setelah anak berusia 2 tahun dengan selang waktu 6 bulan, untuk memastikan perlindungan jangka panjang setelah vaksinasi. Jutaan orang telah diimunisasi di seluruh dunia tanpa efek samping yang serius. Vaksin dapat diberikan sebagai bagian dari program imunisasi untuk anak dan juga bagi wisatawan. Beberapa negara, termasuk Argentina, China, Israel, Turki, dan Amerika Serikat telah memasukkan vaksin ini di dalam program imunisasi rutin anak.




Wabah Hepatitis A di Pacitan (dan Trenggalek) Jawa Timur mengingatkan kita semua, agar segera melakukan pencegahan dengan mempromosikan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, dan vaksinasi, sebagai tindakan pencegahan infeksi virus hepatitis A yang utama.

Penulis : FX. Wikan Indrarto, Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, dan Alumnus S3 UGM.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons