Scroll to Top
Belum Saatnyakah: Teori Wallace Itu Ditinjau Kembali?
Posted by maxfm on 7th Mei 2019
| 844 views
Replika Rahang Stegodon Sumbaensis [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Seperti halnya Darwin terkenal karena teori evolusinya yang menggemparkan itu, Alfred Russel Wallace (1823 – 1913) seorang ahli ilmu hewan Inggris terkenal karena garis khayalnya yang disebut Garis Wallace. Garis ini menjadi pemisah fauna Asia dan Australia.

Di Indonesia Garis Wallace melalui selat Lombok, selat Makasar, Laut Mindanau ke Taiwan. Di sebelah barat garis tersebut faunanya bersifat Asia (gajah, harimau, singa, kera dan orang hutan). Sedangkan di sebelah timur bersifat Australia (kuskus, kasuari, cendrawasih) (lihat Ensiklopedi Umum, Yayasan Kanisius 1977, hlm 1163 dan bandingkan juga dengan Wallace Line Die Geographische GrenzezwischenAsien und Australian verlӓuft ȍstlich von Bali dalam Helmuth Uhlig Bali Insel der lebenden, Gotter C. Bertelsmann, terbitan 1977 hlm 15).




Pelopor teori mimicry yang telah menjelajahi daerah Amazone, Malaysia, Indonesia dan telah menghasilkan beberapa buku itu berkesimpulan, bahwa bagian timur Indonesia mempunyai fauna yang sangat mirip dengan Australia.

Bertolak dari teori ini maka di Sulawesi, Maluku, Irian, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terdapat gajah, singa, harimau dan orang hutan.

Benarkah di NTT tidak pernah hidup gajah dan harimau? Di sini kami hanya menyinggung NTT, khususnya Sumba menyangkut kedua binatang ini (harimau dan gajah). Di Sumba Timur harimau disebut meorumba, artinya kucing raksasa yang buas. Suka menerkam manusia dan binatang lainnya. Kini nama binatang buas tersebut tinggal diabadikan dalam nama sebuah desa di Kecamatan Paberiwai, Meorumba, Kabupaten Sumba Timur.

Di Sumba Barat (Sumba terdiri atas 2 kabupaten saat tulisan ini dibuat), kini ada 4 kabupaten, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Luas Sumba seluruhnya 12.000 km2.



Di Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya ada juga dongeng tentang harimau. Di Anakalang, Kecamatan Katikutana (kini Kab. Sumba Tengah) menyebut harimau sebagai meoruba, yang artinya kucing hutan raksasa dan buas. Hanya suku Kodi (Sumba Barat Daya) dan Soru (Sumba Tengah) yang menganggapnya sebagai raksasa (manusia) yang kanibalistis. Suku Soru menyebutnya meorumba dan suku Kodi menyebutnya maghurumba.

Dalam dongeng versi lain, suku Kodi masih mengenal Lengga Ghughu (si Kuku Bengkok). Dengan kukunya yang tajam dan bengkok ia menerkam dan mengiris daging manusia.Raksasa yang kanibalistis ini menurut anggapan kedua suku tadi angker, tabu.

Dewasa ini tidak jauh dari Tanjung Keroso (Kec. Kodi Utara) ada satu tempat bernama Maghurumba. Menurut cerita rakyat Kodi di sinilah tempat kuburan raksasa yang kanibalistis itu. Siapa yang lewat ke sini tidak boleh menyebut nama tokoh itu sebab nanti akan mendatangkan malapetaka.

Penyerahan Replika Rangka Stegodon Sumbaensis dari Kepala Pusat penelitian Areeologi Nasional Kepada Pemda Sumba Timur diterima Penjabat Sekda (saat itu) [Foto: Heinrich Dengi]

Menurut dongeng orang Soru siapa yang melihat meorumba boleh jadi akan segera mati. Untuk mengetahui gejala buruk-tidaknya yang telanjur melihat makhluk tabu ini, harus segera menjilat garam. Jika garam terasa hambar, itulah pertanda buruk, mati.

Manusia raksasa seperti yang didongengkan oleh suku Soru dan Kodi mengingatkan kita pada manusia Yeti dari India, Meh Teh dari Cina, Kaptar dari Rusia, Alma dari Mongolia dan Bigfoot dari Amerika Utara. Juga dikenal di Sumba Timur (Kecamatan Rindi Umalulu dan Pahunga Lodu) Manusia raksasa itu dalam bahasa Sumba Timur mulimuangga. Ciri-ciri bulu panjang, gigi sebesar kapak, sekali melangkah dapat menjangkau puluhan meter, sebab itu disebut juga punggu pala (potong kompas). Kecuali itu dapat berbicara dalam bahasa Sumba Timur terbata-bata dan kaku. Misalnya, “Nggi…. halua….haningimu…. ha-Umbu?” (Menggunakan partikel ha-). Bahasa Sumba Timur yang normal, “Nggi lua ningimu Umbu?” (Ke mana Umbu?).




Salah satu dongeng orang Kodi yang menyebutkan gajah, Ana To Milla (si Anak Miskin). Dalam suatu sayembara si Anak Miskin dihadapkan sebuah dilema karimbyompadu (bahasa Kodi, gajah) milik Maghurumba yang terkenal selain kanibal juga penciuman sangat tajam.

Di Pulau Sabu salah satu pulau di NTT selain dikenal dongeng meoruba (kucing raksasa belang) juga dikenal nama gajah yang dalam bahasa Sabu, gaja. Dalam peribahasa Sabu masih jelas nama gajah, misalnya, he katomi gaja, berdiri lurus seperti gajah. Gading dalam bahasa Sabu, gadi nama wanita dan gading nama laki-laki.

Gajah dalam bahasa Sumba Timur, nggaja. Dua tahun lalu di Desa Makamenggit (33 km dari Waingapu) baru saja seorang bapak yang mengabadikan nama gajah dalam namanya meninggal. Umbu Nggaja demikian namanya. Seorang siswi SPMA di Lewa juga mempunyai nama Sili Ana Nggaja. Ini merupakan kebiasaan baik di Sumba Timur maupun di Sumba Barat suka memakai nama binatang menjadi nama aliasnya.

Yang Nyata

Hampir di seluruh NTT terdapat gading (perhiasan dari taring gajah) dalam jumlah banyak. Di Maumere dan Manggarai (Flores) terdapat taring gajah yang masih utuh. Sayang sekali, menurut Stefanus Spandi seorang guru kelahiran Manggarai yang bekerja di Sumba taring-taring gajah nampaknya telah langka gara-gara penduduk pribumi menjualnya dalam jumlah besar kepada para pemburu benda-benda antik.



Tidak terkecuali di Sumba. Dalam acara perkawinan adat terutama di kalangan raja-raja dan para bangsawan, gading (nggeding/Sumba Timur, lele/Sumba Barat) merupakan perhiasan yang harus ada. Biasanya pihak wanita yang memberikan kepada pihak laki-laki sebagai imbalan mas kawin (belis) dan sebagai tanda kebesaran, nggadi panda ruara, hada panda utu, peribahasa Sumba Timur, gading yang masih utuh, muti yang masih lengkap.

Timbul pertanyaan. Dari mana taring-taring gajah yang begitu banyak di NTT, khususnya di Sumba?

Ada yang mengatakan diimpor dari Jawa dan Sumatera. Pendapat seperti ini akan tetap mendukung teori Wallace jika saja tidak ada perkembangan lain.

Penyerahan Replika Rahang Stegodon Sumbaensis dari Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional ke ketua DPRD Sumab TImur [Foto: Heinrich Dengi]

Ketika tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkheplogi Nasional Jakarta yang terdiri dari Dr. R.P. Soejono, Rokhus Due Awe, Agung Soekardjo, dan Suroso, serta Dr. S. Sartono dari Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung pada 26 – 8 – 1978 menemukan suatu mandibula (rahang) hewan fosil stegedon di Watumbaka (14 km dari Waingapu), maka apa yang selama ini menjadi teka-teki sebenarnya sudah mulai terungkap. ( Penemuan fosil gajah ini pernah dipublisir lewat harian Kompas).

Menurut S. Sartono dalam artikelnya, Penemuan Fosil Stegedon di Pulau Sumba (Propinsi NTT) yang dinamakannya stegedon sumbaensis, fosil ini mempunyai indeks tinggi lebar antara 65 – 95 mm. Peristiwa ini juga merupakan rentetan penemuan-penemuan lainnya seperti penemuan stegedon sompoensi dari Sulawesi (1964), stegedon timorensis dari Timor (1969), stegedon trigonocephalus florensis dari Flores (1975) dan stegedon mindanensis dari Mindanau Flipina. (Amerta Berkala Arkheologi/Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta 1981 hlm 54).



Mendahului penemuan di Watumbaka, Oktober 1977 di Lewa (57 km dari Waingapu) ditemukan sejumlah rangka oleh Kornelis Ngongo Bani pegawai Pusat Latihan Petani Kristen. Ketika menggali sumur dalam kedalaman 4 m (60 cm di atas batu putih). Rangka-rangka yang mulai memfosil dan luar biasa ukurannya ketimbang rangka kerbau dan sapi, beserta gadingnya dalam ukuran mini diserahkan kepada Triatmadja dekter setempat yang kemudian dilanjutkan ke Pusat Penelitian Arkheplogi Jakarta.

September 1981 di sumur lain, dua meter dari sumur lama, Kornelis menemukan lagi fosil-fosil sejenis. Kali ini diserahkan kepada Dep. P dan K sie Kebudayaan Kecamatan Lewa. Sayang sebelum diserahkan sie Kebudayaan Kabupaten hilang di Waingapu.

Pada 3 – 10 – 1982 ketika memperlebar sumur tadi, Kornelis menemukan rahang. Rahang itu lagi-lagi diserahkan kepada sie Kebudayaan. Sedangkan satu buah gigi geraham berukuran panjang 75 mm, tinggi 80 mm dan lebar 30 mm disimpan oleh Kornelis.

Bersamaan dengan itu Kepala Bagian Kebudayaan Kabupaten, Panji Manu mendapat berita dari Jakarta yang mengatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa fosil dari Lewa adalah jenis gajah yang kerdil yang pernah hidup 45 ribu tahun lalu.

Dari uraian S. Sartono kita melihat adanya persamaan stegedon bentuk besar dan kerdil di berbagai pulau di Asia Tenggara (Jawa, Sumba, Timor, Sulawesi). Hal ini dimungkinkan karena jaman akhir plestosen-plestosen, pualu-pulau ini masih bersatu dan hanya dipisahkan oleh jembatan darat tempat dangkal yang berawa-rawa sehingga arus perpindahan binatang seperti gajah, harimau, singa dimungkinkan pula. Dengan demikian garis khayal Wallace yang mau membuktikan bahwa bagian barat dan timur tidak pernah bersatu adalah tidak benar.

Replika Rahang Stegodon Sumbaensis [Foto: Heinrich Dengi]

Hal ini dikemukakan juga oleh S. Sartono dalam kesimpulan, bahwa garis Wallace hanya berlaku bagi fauna yang hidup di jaman sekarang (Holosen), yakni setelah genangan laut pasca es terjadi.



Dari uraian tadi dapat disimpukan:
Kemungkinan besar di Sumba pernah hidup manusia raksasa ala Pitecantropus Erectus, Homosoloensis, Pekinensis, , manusia Yeti, Meh Teh, Kaptar, Bigfoot. Kini menunggu penggalian di beberapa tempat di Sumba Timur seperti Pau, Umamanu, yang disinyalir bagian Arkheologi ada manusia raksasa berdasarkan cerita orang-orang di sana.

Kesimpulan kedua, Gajah pernah hidup di NTT khususnya di Sumba. Ketiga, Kemungkinan besar pernah hidup harimau, singa dan orang hutan. Keempat, Teori Wallace perlu ditinjau kembali karena tidak relevan lagi.

Frans W. Hebi – Penulis Buku Autobiografi Frans W. Hebi Wartawan Pertama Sumba, Pengasuh Acara Bengkel Bahasa Max FM [Foto: Heinrich Dengi]

Penulis : Frans Wora Hebi [Narasumber tetap acara Bengkel Bahasa di Radio MaxFM Setiap hari Rabu Pk. 20.00 WITA sd selesai, Penulis Buku Jejak Langkah Frans W. Hebi – Wartawan Pertama Sumba]

*) Tulisan ini pernah dimuat di majalah DIAN No.5 Thn. XI, 10 Maret 1984

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons