Scroll to Top
Warga Keluhkan Mahalnya Biaya Pemeriksaan Darah Untuk Pasien Rawat Jalan Terindikasi DBD
Posted by Heinrich Dengi on 20th Maret 2019
| 2205 views
Fogging Oleh Team Kerja DInkes Sumba Timur [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM – Waiangapu, Warga mengeluhkan mahalnya biaya pemeriksaan darah untuk pasien rawat jalan yang terindikasi kena Demam Berdarah Dengue DBD di sarana kesehatan di Sumba Timur NTT, padahal wilayah ini telah menetapkan DBD sebagai Kejadian Luar Biasa KLB.

Keluhan warga tentang mahalnya biaya pemeriksaan darah untuk pasien rawat jalan yang terindikasi kena DBD dan tidak ditanggung pemerintah padahal saat in sedang KLB DBD dan pemda sudah mengeluarkan dana cukup besar untuk menangani DBD termuat dalam catatan di media sosial FaceBook.

Berikut beberapa keluhan warga:

Dari pengguna FB dengan nama Etha Tara ini dia sesungguhnya kendala kalau pasien DBD yang rawat jalan karena pasti kendalanya di uang untuk pemeriksaan laboratorium, kalo sudah pastikan bahwa DBD di pemeriksaan awal dan tidak bisa rawat inap karena tempatnya penuh, maka akan lebih baik mereka digratiskan saat datang lagi untuk cek darah di laboratorium.

Cerita lain datang dari pengguna FB Hilda Ndahawali yang mengatakan Memang kakak, untuk periksa darah anak saya ada tiga orang, saya periksakan darah lengkap di laboratorium 89Ribu dan periksa DBD lagi tersendiri 157RIBU ribu kali dengan anak tiga orang. Jadi kami sempat berpikir lebih baik beli obat turun panas di apotik saja, kan tidak ada juga obat khusus untuk DBD. Atau beli madu dan buavita saja, daripada ambil darah mahal biayanya.

Nadya Schatzi dalam tulisan di FB mengatakan dirinya pernah mengalami. Waktu itu awal Februari anak saya panas tinggi dan hari kedua demam dibawa ke RSUD sampai di sana cuma ditanya demamnya sudah berapa hari, kita kasi obat saja dulu kata dokter, nanti hari ketiga datang periksa darah, biar tau DBD atau bukan. Tetapi saya minta untuk dirawat inap saja, kata dokter kalau rawat inap ruangannya penuh kak, kata Ibu Dokter. Singkat cerita saya pulang dengan perasaan cemas, malamnya anak saya mengeluh sakit kepala hebat, saya dan suami lari lagi ke RS Imanuel, kami baru sampai di depan pintu petugas RS Imanuel langsung bertanya mau rawat jalan atau rawat inap kak, saya bilang tolong kami mau rawat inap, petugas berkata “maaf kak ruangan penuh”. Harapan terakhir kami di Lindimara, dari Imanuel kami lari lagi ke Lindimara malam-malam, kebetulan lagi gerimis, hasilnya juga sama ruangan penuh, akhirnya kami pulang dengan rasa cemas dan kecewa, kami rawat anak kami di rumah dengan segala kekhawatiran, apapun saran teman2 FB di grup tentang obat untuk DBD saya berikan ke anak, mulai dari bebek, daun pepaya sampai madu saya berikan, bersyukur anak kami Alhamdulillah pulih.

Tulisan warganet di FB berkaitan mahalnya biaya pemeriksaan darah pasien rawat jalan yang terindikasi DBD dan tidak ditanggung pemerintah biayanya, mengomenterari tulisan saya di FB.

Berikut tuisan saya di FB:
Yang jadi soal begini, bukan pasien yang dirawat inap. Tapi yang rawat jalan.
Contoh begini.
Anak sudah positif DBD tetapi trombositnya turun sedikit, ruang UGD dan bangsal penuh, pasien diminta pulang dan rawat di rumah dan disarankan juga seperti yang saya dengar dari pembicaraan dengan dokter, sarannya setiap hari mesti cek darah di lab u lihat trombonya. Naik atau aman. atau drop. Lha yang begini ini kan kasian pasien rawat jalan dan bukan orang tua tidak mau bawa anak masuk rumah sakit, situasinya bangsal penuh dan alasan itu.
Kalau periksa darah dalam 2 hari sudah berapa duit.
Jangan2 ini juga bisa jadi penyebab kasus DBD meminggal tinggi.
Anak dibawa pulang tapi orang tua karena kurang uang tidak bawa kembali anak untuk cek darah lagi dan tiba2 sudah jatuh ke situasi gawat.

Dalam situasi mengganasnya serangan DBD yang menyebabkan kematian warga Sumba Timur karena DBD tertinggi di NTT dan angka pasien yang dirawat di rumah sakit karena DBD terus meningkat dan sudah di atas 700 pasien dalam tiga bulan terkahir maka sudah selayaknya selain Pemda menanggung biaya rawat inap pasien DBD seharusnya biaya pemeriksaan Pasien Rawat Jalan yang terindikasi DBD juga digratiskan, terutama biaya pemeriksaan laboratorium yang dirasa memberatkan kantong masyarakat.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons