Scroll to Top
DAMPAK CAMPAK
Posted by maxfm on 3rd Februari 2018
| 3590 views
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Pada Rabu, 17 Januari 2018 jumlah korban meninggal akibat campak di Kabupaten Asmat, Papua, tercatat 61 anak balita. Mengapa masih ada kematian balita karena campak?

Menurut Profil Kesehatan Indonesia yang terbit Juli 2017, Indonesia sudah memiliki cakupan imunisasi campak 93,0% dan provinsi dengan cakupan terendah yaitu Kalimantan Utara 57,8%, Papua 63,5% dan Aceh 73,5%. Incidence Rate (IR) campak pada tahun 2016 sebesar 5,0 per 100.000 penduduk, dengan Jambi, Kepulauan Riau dan Aceh merupakan provinsi dengan IR campak tertinggi. Pada tahun 2016, jumlah KLB campak sebanyak 129 KLB dengan jumlah kasus sebanyak 1.511 kasus. Frekuensi KLB campak tertinggi terjadi di Sumatera Barat sebanyak 33 kejadian KLB, dengan 495 kasus dan 1 orang meninggal.

Campak disebabkan oleh virus paramyxovirus dan biasanya ditularkan secara kontak langsung melalui udara. Virus menginfeksi selaput lendir jalan napas atas, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Virus menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi atau kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Virus tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terinfeksi hingga 2 jam. Gejala klinis lainnya adalah pilek, batuk, mata merah dan berair, dan bintik-bintik putih kecil di dalam mulut sisi pipi. Setelah beberapa hari, ruam kemerahan pada kulit muncul, biasanya pada wajah dan leher bagian atas. Selama sekitar 3 hari, ruam akan menyebar, akhirnya mencapai tangan dan kaki. Ruam berlangsung selama 5 sampai 6 hari, dan kemudian memudar. Rata-rata, ruam terjadi 14 hari setelah terpapar virus.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons