Scroll to Top
Kehidupan di Sekitar Hutan Bakau Padadita
Ditulis oleh maxfm on 16th Januari 2018
| Dilihat 783 kali
Anakan Bakau Yang ditanam di Awal 2017 di Sekitar Pantai Padadita"Batu Payung" Tempat Nongkrong Asik di Waingapu. Read more ... » [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Sudah beberapa kali saya terlibat diskusi dengan sesama warga selepas matahari masuk di belakang gunung meja, sambil duduk di sekitar tumpukan pasir laut yang baru diangkut dari pantai padadita terdengar jelas kata seoang kawan,“percuma saja bakau ditanam di situ, pasti tidak jadi, kami sudah bertahun-tahun tanam tetapi tetap saja tidak jadi.”

Pernyataan senada juga saya dengar belum lama ini, Rabu (03/01/2018) selepas kami, menanam sekira 60 anakan bakau di pantai Padadita, ujung muara kali Payeti. Seorang bapak yang sedang memikul tumpukan pukat, karena segera akan turun ke laut bilang, “Saya sudah tanam banyak anakan bakau bertahaun-tahun tetapi sedikit saja yang jadi.”



Mungkin benar juga apa yang dismpaikan para “pencinta lingkungan” (yang memberikan kometar diatas) bahwa kalau menanam anakan bakau di pantai Padadita persis di belakang hotel sulit jadi atau seringkali anakan bakaunya mati.

Anakan Bakau Yang ditanam di Awal 2017 di Sekitar Pantai Padadita [Foto: Heinrich Dengi]

Saya dan kawan-kawan yang menanam bakau di lokasi itu juga mengalami hal yang sama, ketika menanam persis dibelakang hotel agak sedikit ke barat, anakan bakau yang ditaman awal tahun 2017 dan Maret 2017 banyak yang bisa tumbuh tetapi dengan berjalannya waktu sampai ke bulan Mei anakan bakau mulai tumbang, dan tercabut akarnya di situ. Setelah dicek ulang hal ini sangat mungkin terjadi karena bagian dasar tempat menanam anakan bakau adalah batu keras yang lebar sehingga akar anakan bakau tidak mendapat tempat menancapkan akarnya (saat ditanam anakan bakau hanya ditanam didalam lumpur bukan di bagian batu yang digali) dan tanah yang terlihat di Januari hingga Mei di situ adalah tanah tumpangan, buangan dari muara sungai Payeti. Tanah ini biasanya terkumpul cukup banyak atau menebal selama musim penghujan dan memasuki musim kering dan dengan tiupan angin dari timur maka tanah tumpangan ini terkikis habis shingga pastilahlah akar tanaman akan tercabut dan anakan bakau tumbang, dan sering kali anakan bakaunya terbuang sampai ke darat dekat tebing batu atau kadang terbawa ke dalam laut.

Kami menghadapi sendiri situasi ini tahun 2017. Sejak Mei 2017, saya melihat cukup banyak anakan bakau yang sebelumnya tegak terlihat batangnya miring, atau bahkan tertanam seluruh batang dandaunya dalam lumpur. Yang saya lakukan waktu itu adalah untuk anakan yang tumbang atau saya temukan didekat tebing batu akan saya pindahkankan agak ke dalam dekat hutan bakau kecil yang cukup padat pohon bakaunya. Setelah dicek ternyata tumpukan lumpur di dekat hutan bakau lebih banyak dan tebal sehingga cocok untuk dipindahkan.

Hingga akhir tahun 2017, anakan bakau yang ditanam di tahun baru 2017 tumbuh dengan baik, akarnya sudah cukup kuat tertancap ke dasar lumpur dan saat anakan bakau yang sudah tumbuh coba ditarik, sudah susah untuk mencabutnya.

Dari pengamatan sederhana yang saya lakukan di sekitar hutan bakau di Padadita sekarang ini, sudah mulai ditemukan banyak burung dan jenisnya lebih dari satu jenis ini bisa terlihat dari jejak kaki burung yang tertinggal di lumpur saat air laut mengering. Kalau kita sempat masuk ke dalam areal hutan bakau Padadita saat air laut surut, akan terihat dengan jelas jejak kaki burung di lumpur sekitar hutan bakau. Selain itu, dari sekitar hutan bakau akan terdengar bunyi suara burung yang cukup keras dan menandakan lebih dari sat jenis burung.



Kalau saja kita sempat menunggu agak lama dan berdiam diri di sekitar hutan bakau, kita juga akan meneikmati indahnya berbagai binatang kecil yang akan keluar dari dalam lumpur bakau untuk bergerak, entah hanya sekedar bergerak atau juga sekaligus mencari makan.

Jejak Kaki Burung Lumpur Sekitar Hutan Bakau [Foto: Heinrich Dengi]

Kesempatan menanam bakau dan mereawat anakan bakau bagi saya secara pribadi, selain sebagai bagian dari usaha bersama menjaga dan merawat alam ini, juga menjadi cara lain saya untuk berolah raga. Lumayan menguras tenaga saat berjalan dari satu anakan bakau ke anakan bakau lain yang tercabut dan memindahkannya ke lokasi tanam barunya atau saat melakukan pengecekan atau untuk memindahkan anakan bakau, tidak terasa keringat bercucuran dan lumayan mebakar lemak, sangat membantu menahan laju naiknya berat badan. Sekaligus bagi saya ini jadi salah satu olah raga yang baik untuk membuat tubuh jadi sehat.

Yang ikut tanam bakau bersama di awal 2017 : Teman2 dari Kantor Taman Nasional Matalawa, Dinas Lingkungan Hidup Sumba Timur, Anak Sekolah Minggu Haleluya, Pendengar Radio MaxFM dan Warga sekitar lokasi bakau. Dikukung oleh LIFE Jepang. [Heinrich Dengi]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close