Scroll to Top
HAPUS TIFUS
Ditulis oleh maxfm on 7th Januari 2018
| Dilihat 679 kali
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Pada akhir Desember 2017, WHO melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech. Vaksin konjugasi tifus (TCVs) dibandingkan vaksin yang lebih dulu tersedia, adalah produk inovatif yang memiliki kekebalan lebih tahan lama, memerlukan lebih sedikit dosis, dan dapat diberikan kepada anak melalui program imunisasi rutin anak. Apa yang harus dilakukan?

Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang atau jasa sebelum memasukkan penawaran. Fakta bahwa vaksin tersebut telah didahulukan oleh WHO berarti telah memenuhi standar kualitas, keamanan dan kemanjuran yang dapat diterima. Hal ini membuat vaksin tersebut layak untuk dibeli dalam proses pengadaan oleh badan-badan PBB, seperti WHO, UNICEF, dan Gavi, the Vaccine Alliance.

Tifus, yang juga dikenal sebagai demam tifoid, adalah penyakit multisistemik yang berpotensi fatal, yang terutama disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica serovarian typhi. Perkiraan global tentang beban tifus berkisar antara 11 dan 20 juta kasus. Selain itu, juga dapat menyebabkan sekitar 161.000 kasus kematian tifus setiap tahunnya, terutama pada anak. Masyarakat miskin dan kelompok rentan, seperti anak dengan gizi kurang, seringkali yang paling berisiko.



Manifestasi tifus sangat luas, sehingga menjadikan penyakit ini memiliki tantangan diagnostik sejati (a true diagnostic challenge). Kriteria standar untuk diagnosis tifus sejak lama adalah isolasi bakteri dengan pemeriksaan biakan atau kultur, yang secara luas dianggap 100% spesifik. Kultur aspirasi sumsum tulang adalah 90% sensitif sampai setidaknya 5 hari setelah dimulainya antibiotik. Namun demikian, teknik pemeriksaan ini sangat menyakitkan bagi pasien, sehingga mungkin lebih besar kerugian daripada manfaatnya. Kultur dengan bahan darah, sekresi usus (muntahan atau aspirasi duodenum), dan tinja akan positif untuk bakteri S typhi pada sekitar 85% pasien tifus pada minggu pertama demam dan akan menurun sampai 20% dalam perjalanan demam selanjutnya.

Pedoman terbaru untuk pengobatan tifus di Asia Selatan diterbitkan oleh ‘Indian Association of Pediatrics’ (IAP) pada bulan Oktober 2016. Untuk pengobatan empiris tifus yang tidak berat, IAP merekomendasikan sefiksim dan, sebagai obat lini kedua adalah azitromisin. Untuk tifus yang berat, direkomendasikan ceftriaxone. Aztreonam dan imipenem adalah obat lini kedua untuk kasus yang berat. Rekomendasi IAP berlaku untuk pengobatan empiris tifus pada pasien dewasa dan anak. Oleh karena itu, untuk strain yang berasal dari luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, rekomendasi WHO mungkin masih berlaku, bahwa tifus yang tidak berat harus diobat secara empiris dengan ciprofloxacin oral dan tifus yang berat harus diberikan ciprofloxacin intravena.



Pada bulan Oktober 2017, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi, merekomendasikan TCV untuk penggunaan imunisasi rutin pada anak di atas usia 6 bulan di negara-negara endemik tifoid atau tifus, seperti Indonesia. SAGE juga meminta pengenalan TCV untuk diprioritaskan pada negara-negara dengan tingkat penyakit tifus tertinggi atau telah terjadi resistensi antibiotik terhadap Salmonella Typhi, bakteri yang menyebabkan penyakit tifus. Penggunaan vaksin juga harus membantu mengurangi penggunaan antibiotik untuk pengobatan yang diduga tifus atau demam tifoid, dan dengan demikian membantu memperlambat peningkatan resistensi antibiotik atas Salmonella Typhi yang mengkhawatirkan.

Tak lama setelah rekomendasi SAGE, Gavi Board menyetujui pendanaan US $ 85 juta untuk pembelian TCV mulai tahun 2019, melengkapi vaksin Typhim Vi® buatan Sanofi Pasteur dan Typherix® buatan GSK, yang telah ada sebelumnya. Proses prakualifikasi oleh karena itu merupakan langkah penting yang perlu dilakukan agar TCV tersedia bagi negara berpenghasilan rendah, di tempat yang paling mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara yang tidak didukung Gavi, prakualifikasi dapat membantu memperlancar perizinan.



Prakualifikasi WHO membantu memastikan bahwa vaksin yang digunakan dalam program imunisasi adalah aman, efektif, dan tepat untuk kebutuhan negara. Prosedur prakualifikasi WHO terdiri dari penilaian yang transparan dan masuk akal secara ilmiah yang mencakup peninjauan kembali atas bukti (reviewing the evidence), menguji konsistensi setiap lot pada produksi vaksin, dan mengunjungi lokasi pabrik pembuatannya.

Bagi jutaan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tifus adalah penyakit yang selalu ada dan mengancam. Urbanisasi dan perubahan iklim berpotensi meningkatkan beban global tifus. Selain itu, meningkatnya resistensi antibiotik membuat lebih mudah tifus menyebar melalui populasi yang padat di perkotaan, apalagi dengan sistem air dan sanitasi yang tidak memadai.

Oleh sebab itu, imunisasi menggunakan Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech sangat diandalkan untuk menghapus beban global tifus. Apakah anak di sekitar kita sudah menerimanya?

Yogyakarta, 6 Januari 2018
FX. Wikan Indrarto Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close