Scroll to Top
LUNGGI RARA
Posted by maxfm on 25th Desember 2017
| 836 views
Ilustrasi oleh : Yongky H. Suaryono

MaxFM, Waingapu – Mercon dan kembang api hanyalah bagian yang belakangan selalu muncul menjelang Natal dan Tahun Baru di Waingapu. Bagian lain yang tidak kalah seru adalah munculnya, sepeda motor dengan knalpot racing atau bronk alias knalpot dengan suara berisik. Banyak juga kita dengar orang memutar perangkat musik super keras seperti sering kita dengar musik dari becak. Tak kalah semarak juga akan kita temui orang dengan cat rambut warna-warni. Mercon, kembang api, knalpot berisik, musik berisik, dan rambut merah selalu jadi warna Waingapu setiap menjelang Natal dan Tahun Baru. Sesuatu yang mulai hilang kebiasaan orang memasang lentera dari botol di sepanjang jalan, mungkin sudah terlalu ribet dan mahal harga minyak tanah.

Mama Petu mencak-mencak memarahi anak semata wayangnya, “Petu, siapa yang ajar kau buat rambut haranggat seperti itu? Tidak kena marah kau punya guru kah?”. Si Petu yang asyik menata rambut dengan pomade super lengket menjawab, ” Mama lupa ko, kita lagi libur sekolah? Ini namanya rambut pirang, rambut zaman now!”. Mama Petu menyahut lebih ketus, “Dasar anak sok tau, itu bukan pirang! Kau punya rambut su macam lampu setopan Payeti. Hiasan pohon Natal kalah ramai. Ayo kasih hitam kembali, atau mama kasih botak sekalian!”. Petu merajuk, “Janganlah mama sayang, mama tidak malukah mama punya anak dianggap tidak gaul? Lagian kan kita lagi libur, nanti habis tahun baru dulu, baru Petu kasih hitam kembali. Ini lagi ngetren mama, coba mama ke pasar, semua pasti buat rambutnya macam-macam”.



Mama Petu tak tega juga terlalu keras terhadap anaknya, akhirnya dibiarkan saja si Petu berkreasi dengan rambutnya. Bapa Petu muncul dengan sepeda motor tua yang sudah dilepas saringan knalpotnya sehingga menimbulkan bunyi meledak-ledak kalau tarik gas. Petu bersorak girang menyambut bapanya. “Asyik, kita su siap ikut pawai Natal dan Tahun Baru….!”. Namun Mama Petu punya sambutan lain, “Papa su ikut-ikut gila ko? Biar saya naik ojek saja pi pasar daripada harus naik motor kayak orang gila begitu!”. Belum sempat Bapa Petu menjawab, istrinya sudah ke jalan naik ojek.

Sampai di Pasar Inpres tukang ojek menolak dibayar, ia membuka helm dan langsung mencium Mama Petu, “Selamat Natal Mama Tua, Tuhan sayang kita semua!”. Sedikit terperanjat Mama Petu membalas ucapan tersebut, ternyata si Tukang Ojek tak lain adalah si Lukas ponaannya sendiri. Rambutnya dipangkas model undercut, dicat warna hijau dan ada tanda bintang dicat warna perak. Lalu Mama Petu bergegas masuk pasar setelah mengucapkan terimakasih.

Sampai di dalam pasar Mama Petu terperanjat menyaksikan orang-orang pasar yang ditemui. Persis apa yang dikatakan Petu, tukang becak, tukang ojek, petugas pasar, penjual sayur, penjual ikan, pemilik kios dan hampir di setiap sudut pasar ditemui orang-orang berdandan dengan gaya rambut warna-warni, tidak laki tidak perempuan semua sama, bahkan orang tua sampai anak-anak.

Pulang dari pasar Mama Petu singgah di salah satu toko kelontong yang juga menjual kembang api, astaga orang beli mercon dan kembamg api seperti orang antri BBM. Di toko tersebut Mama Petu mencari bahan-bahan buat kue, ia melihat anak-anak seusia Petu sedang pilih-pilih pewarna rambut. Iseng-iseng Mama Petu, mencari pewarna rambut untuk menutupi uban-nya yang sudah tumbuh di sana-sini. Penjaga toko menawarkan pilihan warna,
** “Mama coba yang dark brown saja, yang hitam habis”
# ” Seperti apa warna itu?”
** ” Kalau malam akan kelihatan seperti rambut hitam biasa, tapi kalau siang kena Matahari akan kecoklat-coklatan” Setelah berpikir sesaat akhirnya dibeli juga pewarna rambut tersebut, pikirnya toh ini lagi musim hujan bisa seharian Matahari tidak muncul, jadi rambutnya akan kelihatan tetap hitam.




Tanggal 24 Desember, Petu beserta Bapa-Mama mengikuti ibadah malam hari menjelang Natal. Keluarga kecil ini naik sepeda motor berboncengan 3 orang tanpa menggunakan helm, biasanya polantas juga akan maklum di hari-hari besar keagamaan banyak pengguna jalan yang tidak taat peraturan lalu-lintas. Setelah mengikuti ibadah mereka masih sempat keliling kota menyaksikan keramaian orang menyambut Natal. Bunyi mercon dan nyala kembang api ada di mana-mana. Petu yang masih kelas 1 SMP duduk di depan, sesekali ikut mencoba tarik gas motor. Bunyi knalpot meraung-raung, ia bersorak gembira. Jalanan jadi ramai oleh suara knalpot berisik dan bunyi mercon, sesama pengguna jalan kadang saling mengangkat tangan sambil meneriakan ucapan Slamat Natal. Keramaian ini akan berlipat kali ganda nanti tepat menjelang Malam Tahun Baru.

Mama Petu bersandar di punggung suaminya sambil menutup telinga karena tak tahan oleh suara bising motor dan mercon. Rambut panjangnya dililitkan menutupi hidung dari asap knalpot, tapi bau menyengat pewarna rambut malah membuat sesak di dada. Si suami malah larut dalam kegembiraan, raungan suara knalpot kian menjerit-njerit. Diam-diam Mama Petu menitikkan air mata, ia berbisik ke suaminya, “Papa, mari kita pulang, ini Natal paling aneh yang pernah kita rayakan!”. Sang suami menjawab singkat, “Sedikit lagi mama!”.

Waingapu, 24 Desember 2017
Yongky H Suaryono

Lunggi rara : rambut merah
Haranggat: acak-acakan

Print Friendly, PDF & Email