Scroll to Top
Kopi Pahit Pambotanjara
Ditulis oleh maxfm on 18th Desember 2017
| Dilihat 816 kali
Kopi Pahit, Ilustrasi oleh Yongki H. Suaryono

MaxFM, Waingapu – “Bagaimana kita tidak terhenyak dan mengurut dada atas kejadian yang menimpa gadis lugu berusia 6 tahun, sebut saja Bunga. Ia menjadi korban tindak percabulan remaja belasan tahun, bahkan kakaknya sendiri yang baru berusia 8 tahun ‘dipaksa’ mencabuli adiknya. Para pelaku berusia 17 th, 14 th, 13 th, dan 10 th. Aduh Tuhan, apa kiamat memang su dekat?”

“Coba lu bayangkan kurang apa memang kita ini? Lembaga Perlindungan Anak kita punya, LSM yang konsen pada anak juga banyak, Lembaga Gereja dalam wujud ‘pelayanan’ ada hampir di seluruh pelosok Sumba. Tapi mengapa kita selalu kecolongan dan takuju seperti kebakaran jenggot kalau ada kejadian yang menempatkan anak-anak sebagai korban? Bahkan kita juga sering dengar slogan yang didengungkan teman-teman WVI: Lingkungan Ramah Anak”, Si Nyink berlagak sok paham tentang situasi yang melatari kejadian ‘Perkosaan di Pambotanjara’. Marlina dan Nyonk hanya menyimak sambil manggut-manggut.



“Pambotanjara ini ada di dekat kota, ibarat pelosok di pinggiran kota, tempat yang tak jauh dari pemantauan semua fasilitas yang seharusnya bisa ikut menjaga dan melindungi anak-anak kita. Tapi apa kenyataannya? Di kota saja kita masih seringkali melihat anak-anak jadi obyek eksploitasi. Nyimi smua pernah lihatkan anak-anak menjajakan sayur, kabea, atau apa saja sambil setengah mengemis? Jangan kita bangga bahwa anak-anak tersebut sudah bisa membantu orang tua? Jangan kira kejahatan terhadap anak itu hanya terjadi seperti kejadian di Pambotanjara, tidak. Hampir setiap hari kita menyaksikan dan membiarkan anak-anak hidup dalam ‘kekerasan’. Kita belum bisa menghadirkan suatu lingkungan yang ramah anak. Kita memaksa anak ada di dunia orang dewasa. Belum lagi kalau kita bicara kemajuan sarana komunikasi berbasis internet, sekat antara dunia anak dan orang dewasa semakin kabur. Semakin sulit membedakan ruang untuk anak dan orang dewasa”.

“Stop su ama e… nyumuTABRAK TIANG LISTRIK. Read more ... » macam tidak paham saja situasi kita. itu anak-anak yang bantu jual sayur jangan disamakan dengan anak-anak yang jadi korban pelecehan seksual. Itu beda sekali, kekerasan terhadap anak banyak menimpa anak-anak perempuan akibat ulah kalian para lelaki!”, Marlina ikut buka suara.

“Hah, nyumu yang harus stop meletakan kodrati laki dan perempuan sebagai tolok ukur permasalahan. Ini permasalahan bersama. Walau harus kita akui bahwa kita hidup dalam ego patrenalistik, tapi bicara soal perlindungan anak jangan selalu menyalahkan laki-laki. Kalau kita tasibuk soal dosa siapa, kita akan kembali lagi ke kisah Adam dan Hawa!”, jawab Nyink.



“Lha siapa kalau bukan laki-laki? Apa ada pernah dengar perempuan memperkosa laki-laki? Entah apa yang ada di otak kalian. Jangan-jangan si Ular dalam kisah Adam-Hawa itu sebenarnya perwujudan otak kalian kaum lelaki. Pelaku kejahatan seksual pantasnya dihukum kayak di film-film”, Marlina bicara kian panas.

“Wuss! Aya Rambu su macam Marlina Pembunuh 4 Babak!”, sergah Nyink.

“Harus. Kalau perlu memang harus begitu supaya kalian jangan anggap perempuan itu lemah dan mudah diperlakukan semena-mena”, Marlina tetap bicara dengan nada tinggi.

“Sabarlah, mari kita letakkan dulu egoisme atau dikotomi laki-perempuan dalam menyikapi kejadian ini. Mungkin saja ini sebagai akibat kita sudah gagal menjadi keduanya. Banyak kejadian kekerasan terhadap anak bisa saja oleh sebab-sebab yang sangat kompleks. Menyalahkan salah satu instrumen tidak akan menyelesaikan persoalan. Kejadian di Pambotanjara itu cermin bagi kita semua. Termasuk cermin bagi Pemerintah Daerah, Lembaga Gereja, LSM, Aparat keamanan, Aparat Hukum, khususnya bagi Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak, bagaimana harus lebih aktif bekerja agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang lagi!”, kata Nyonk suami Marlina menyikapi perbincangan antara Nyink dan Marlina yang kian memanas.

“Benar sekali kakak!”, timpal si Nyink.

“Ahh, kalian paling pintar bicara retorika saja. Paling tidak lama, juga sudah lupa bahwa kejadian di Pambotanjara itu adalah Tangisan kaum Ibu dan Anak yang setiap hari kita dengar. Bukan di Pambotanjara saia, bisa jadi banyak kasus yang tidak sempat terkuak karena berbagai macam sebab. Kalau kejadian itu dialami oleh orang-orang lemah, apa kalian jamin mereka berani bicara? Apa anak-anak yang mengalami kekerasan seksual punya tempat bicara yang bisa dipercaya? Silahkan lanjut bicara, saya mau tidur semoga tidak ketemu kalian di mimpiku!”, kata Marlina lalu masuk rumah meninggalkan Nyink dan Nyonk.



“Bemana ni kakak, aya Rambu Marlina bisa maruak?”, Nyink berbisik ke Nyonk.

“Begitulah dia, paling besok juga sudah dingin kembali”, balas Nyonk.

Diluar dugaan ternyata Marlina, masih keluar membawa dua cangkir kopi untuk Nyink dan Nyonk.

“Silahkan diminum kopinya, ini kopi pahit dari Pambotanjara, saya bukan Marlina dalam film jangan kuatir ini tidak beracun”, Marlina menyuguhkan kopi lalu kembali masuk rumah. Nyink dan Nyonk saling melirik tak tau mau omong apa lagi. [Yongky H. Suaryono]

Takuju: tiba-tiba
Nyimi:kalian
Nyumu:kamu
Kabea: siput laut
Maruak: berontak
Tasibuk:sok sibuk

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close