Scroll to Top
Kawadak Zaman Now
Ditulis oleh maxfm on 2nd Desember 2017
| Dilihat 483 kali
Ilustrasi: Yongky H. Suaryono

MaxFM, Waingapu – Berlagak kekinian si Ube selalu bicara dengan menyelipkan kata – kata yang dianggap gaul dan mewakili generasi sekarang. Entah benar atau tidak entah pas atau tidak yang penting kelihatan gaul.

“Sebagai orang zaman now, you semua harus paham perspektif di balik semua berita viral. You ingat soal kawadak, jangan memandang istilahnya saja. You mesti telaah baik – baik, bahwa se-viral apa pun itu news tetap saja bacalah kepentingan – kepentingan yang sedang dijadiakan goals. Di jaman now banyak aplikasi yang bisa memperhalus tampilan. You tidak boleh terlena tampilan yang dipoles dengan camera 380”, cerocos si Ube di warung es kelapa muda Tamkot.

Si Penjual es kelapa muda cuma senyum – senyum sambil terus melayani pelanggannya. Orang – orang yang mendengar ocehannya sebagian ikut antusias sekedar memancing agar si Ube ngoceh dan dijadikan tontonan. “Terus bemana su yang kawadak-kawadak itu kakak?”



Ube: “You tau inilah zaman now. Apakah karena satu kata bisa dipakai menempatkan seseorang berada di kursi pesakitan bahkan jeruji penjara? Tentu jawabnya bisa saja YA, meskipun secara keseluruhan bukan akibat oleh satu kata namun memuat satu kata yang memberi celah hukum. You ingat kasus Ahok? Hanya bermula dari pengolahan secara hukum kata pakai. Belakangan yang menimpa aktivis lingkungan, berkaitan dengan kata kawadak yang bisa diasumsikan sebagai harta atau money”

“Paitua hanya posting di medsos FB, yang menempatkan pejabat publik sebagai subyek yang dirugikan nama baiknya, maka paitua dilaporkan ke polisi dan didakwa dengan pasal-pasal pencemaran nama baik di undang-undang IT. Salahkah paitua? Kandadakkah yang melaporkan? You pikir sendirilah. Ini zaman now zaman orang bebas bicara tapi bukan free for pakoar. Secara heart I love Sumba, sama yang diperjuangkan paitua. But you taulah logikanya -siapa melaporkan siapa? Siapa teriak siapa?. Jadi bukan soal kata kawadaknya tapi complex interest”.

Si Ubi yang dari tadi nyimak sambil menikmati es kelapa muda mulai ikut bicara, ” Kakak ni omong apa kok malah bikin pusing kita semua? Kakak ni sebenarnya berdiri di mana?”

Ube: “You adik Ubi, ayolah berpikir sedikit lebih universal. Kalau ngomong A jangan langsung anggap I berdiri di sisi A. You tau, I stand by my sefl, jangan sedikit – sedikit mengkotak – kotakkan orang sebagai golangan A, B, C dan seterusnya. Singkirkan pemikiran zaman old, apalagi kalau anggap semua – semua atas dasar kawadak. I bicara You kira I ada dapat kawadak, You protes nanti juga dibilang karena kawadak, lets smart berpikir di zaman now”



Ubi: “Jadi menurut kakak sudah pantas paitua dituntut dan sudah pantas pula pak pejabatnya nuntut? Omong yang jelas jangan-jangan nanti malah kakak yang kena tuntut na!”
Ube: “No…no….no….I cuma mo bilang, sebagai apa saja lets kita berperan sesuai porsi masing-masing. Baik pejabatnya, baik aktivisnya, baik DPRnya, baik ASNnya, baik aparatnya, baik rakyatnya all semua-semuanya. Oke?”
Ubi: “Terus kakak berperan sebagai apa?”
Ube: “I sebagai kakak sudah berperan mengingatkan you sebagai adik tanpa pamrih apa-apa. Sekarang you sebagai adik harus unjuk you punya peran!”
Ubi: “Saya harus berperan bagaimana?”
Ube: “Tolong you traktir I, su dua gelas es kelapa muda I minum”
Ubi: “Kakak eee..bilang tidak minta apa-apa tapi minta traktir, sama saja kakak minta kawadak zaman now”. Terpaksa Ubi membayar dua gelas es kelapa muda yang diminum oleh Ube. Si Mas penjual es kelapa muda hanya bisa geleng-geleng kepala.

Waingapu, Desember 2017
Yongky H. Suaryono

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close