Scroll to Top
DORANG BILANG (Budaya Hoax)
Ditulis oleh maxfm on 4th November 2017
| Dilihat 1192 kali
Ilustrasi oleh: Yongky H. Suaryono

MaxFM, Waingapu – Belakangan kita mulai akrab dengan istilah hoax (informasi tidak benar yang dibuat seolah-olah benar ). Mengapa berita atau khabar hoax ini begitu gampang menjadi viral di dunia maya bahkan dunia nyata? Bisa jadi karena hoax selalu diciptakan secara up to date, bombastis dan cenderung kontroversial. Namanya saja berita atau info kontroversial gampang sekali kita telan bulat-bulat. Apalagi kalo ada unsur kepentingannya, semakin mudah kita jadi korban Hoax.

Tidak semua orang yang ikut-ikutan menyebarkan hoax, didasari oleh niat jahat, bisa jadi malah sebaliknya. Tergantung kepentingannya. Misal ada informasi hoax begini: “Jalan Waingapu-Melolo macet total karena ada demo besar-besaran Tolak Angin di Wanga”. Setelah hoax ini mencuat di medsos rame-ramelah di-share. Si Tukang Share beranggapan bisa merasa dianggap eksis, bisa memperingatkan kawan-kawan atau orang lain lebih berhati-hati jika melintas ke jalur tersebut. Alasan yang mulia-kan?



Tapi hoax tetap-lah hoax, jika kegaduhan akibat informasi hoax ini sudah sangat mengganggu, si penyebar hoax bisa diproses hukum. Siapa? Gampang, di dunia maya itu bisa ditelusuri si pengunggah pertama. Lalu bisa dijerat berdasar undang-undang IT. Bagaimana kalo di dunia nyata?

Kami di Sumba biasa punya istilah: “Dorang Bilang”. Kalimat yang biasa dipakai tameng untuk mengaburkan sumber informasi dan isi informasi.

Adi dan Adu
Adi = Eh dorang bilang kita punya Bos ada kena kepe KPK ko?
Adu = Hah iya na? Kapan? Nyumu dengar dari siapa?
Adi = Ada na, dorang bilang begitu.

Adu dan Ade
Adu = Kemarin kita punya boss kene kepe dari KPK
Ade = Saya dengar juga begitu. Siapa yang kasih tau sama nyumu?
Adu = Dorang bilang saja begitu.

Ade dan Ado
Ado = Kau dengar tentang kita punya Bos?
Ade = Iya, dorang bilang kemarin kena kepe KPK pas lagi poe. Kalo yang Nyumu dengar bagaimana?
Ado = Dorang bilang ju begitu.

Ado, Adi dan Adu
Ado = Saya dengar dari Ade, bilang kita punya bos kena kepe KPK pas lagi poe. Kemarin.
Adi = Saya dengar dari Adu, bilang ju begitu.
Aku: Nyimi dengar dari siapa?
Adi-Ado : Dorang bilang saja begitu!



Nah, siapa pembuat hoax dan siapa penyebar hoax? Adi? Belum tentu. Yang lain si Adu? Ade?Ado? Belum tentu juga. Karena orang lain akan memakai dan meng-edit hoax itu dengan berbagai macam versi dengan menggunakan tameng ‘dorang bilang’. Ribet-kan jadinya.

Dalam dunia nyata mungkin akan lebih gampang mencari kambing hitamnya. Apalagi kalu kena orang-orang yang dasarnya sudah sentimen dan punya kepentingan tertentu. Kalau kebetulan si Aku lagi bermusuhan sama si Ado, bisa saja si Adu yang dekat dengan si Bos akan menjadikan si Ado kambing hitamnya. Lalu Ado mengkambing-hitam-kan Adu. Lalu Adu balas mengkambing-hitam-kan Adi dan seterusnya. Hadeh…panjang sudah ceritanya.

Oh ya, kok tadi saya mencontohkan-nya dengan demo Tolak Angin? Nggak cocok ya? Harusnya contoh yang cocok itu: Demo Tolak Tambang (ingat:bukan tarik tambang), Tolak Investor (ingat: bukan bajak investor), Tolak Jarum (ingat, bukan tusuk jarum). Bagaimana? Cocok-kah contohnya? Dorang bilang cocok-lah, kan hanya contoh sa. [Yongky H. SUaryono]

Waingapu, Oktober 2017
Viral: menyebar seperti virus
Share: bagi/membagikan
Nyumu: kamu
Nyimi: kalian
Kepe: tangkap.
Poe: buang air besar
Ju: juga
Su: sudah
Sa: saja, saya.
Dorang: mereka
Dorang Bilang: kata mereka

Print Friendly, PDF & Email