Kami Punya Air, Kami Punya Lahan
Ditulis oleh maxfm on 8th Oktober 2017
| Dilihat 300 kali
Panen kol Organik di Kebun Organik Wai Kudu [Foto: YHS]

MaxFM, Waingapu – Memasuki bulan Mei, hingga sekarang tepat di bulan Oktober 2017. Pertanda kita sedang dilanda oleh perubahan iklim atau yang sering kita sebut musim kemarau telah tiba, sehingga tak heran lagi, akhir-akhir ini terdengar keluhan dari berbagai tempat khususnya oleh masyarakat di Sumba Timur “panas, sungguh panas”, ini ditandai adanya tetesan keringat yang berjatuhan dari tubuh manusia seakan hujan membasahi bumi, ditambah lagi macetnya air PDAM yang makin menggerahkan masyarakat Sumba Timur dan seolah-olah ini mendorong mereka harus membeli air dari mata air mereka sendiri.

Dengan melihat kondisi ini, mungkinkah kita dapat bercocok tanam? Ya, mungkin saja bisa jika lahan kita 20×30 meter. Tetapi kalau luas lahannya 100 meter x 100 meter bahkan berhektar-hektar, apakah kita masih ingin bercocok tanam dengan mempertimbangkan sumber air yang kita peroleh, mekanisme yang kita gunakan dalam pemberian air cukup bagi tanaman hasil yang kita capai dari menanam?



Ilustrasinya, jika kita memiliki luas lahan 25 are untuk bercocok tanam sayur dan dalam memperoleh airnya kita gunakan sumur dengan bantuan dinamo maka tentu saja dinamo membutuhkan sumber energi listrik yang tidak sedikit biaya perbulannya untuk memompa air menyiram sayur, ataupun sumber energi listriknya menggunakan generator berbahan bakar bensin atau solar yang minimal Rp. 15.000 liter/hari bahkan lebih yang harus dikeluarkan dari kantong kita. Belum lagi pupuk dan pestisida jika menggunakan bahan kimia tentu harus dibeli dengan harga yang tidak sedikit untuk hitungan luas lahan 25 are, sehingga dalam jangka satu bulan bisa kita rasakan sendiri betapa besarnya pengeluaran kita demi menggapai hasil yang sesuai impian kita. Bersyukur jika capaian yang dinginkan dapat terwujud, jika tidak apa yang kita peroleh? Bukankah semuanya menjadi sia-sia? Untuk itu, saya ingin berbagi, bagaimana caranya di musim kering kita masih bisa menanam dengan tanpa mengeluarkan biaya operasional yang tinggi namun lahan kita tetap terlihat hijau.

Anggreni W. N. Ena Sedang Mewawancarai Bapak Diki [Foto: YHS]

Berkaca dari Wai Kudu, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Kota Waingapu dan Kambera. “Kami punya air kami punya lahan,” itulah suatu ungkapan dari Pak Diki seorang petani di kebun organik Waikudu, saat saya tanyakan Sabtu (30/09/2017) apa yang membuat bapak dan rekan kerja lainnya giat sekali menanam di musim kemarau?

Pernyataan si bapak tani ini menyadarkan saya bahwa Sumba Timur sebenarnya tidak kekurangan air, Sumba Timur tidak semestinya mengalami kekeringan. Pernyataan ini bisa dilihat di masyarakat tani di Wai Kudu. Aliran air sungai yang berada sekitar 200 meter dari kebun organik dimanfaatkan dengan bantuan pompa Barsha. Pompa Barsha merupakan sebuah teknologi kincir air tanpa bahan bakar fosil yang bekerja 24 jam sepanjang hari dengan kemapuan pompa air setinggi 20 meter vertikal dengan maksimal bisa memompa 30 ribu liter per hari tergantung kecepatan mengalirnya air sungai.




Dengan adanya pompa Barsha membuat persediaan air di lahan Pak Diki tetap terjaga dan tidak lagi bersusah payah mengambil air dari sungai dengan jarak yang cukup jauhnya. Sehingga mau menanam tanaman yang harus diairi terus menerus tidak menjadi kendala. Tidak hanya bijak dalam memanfaatkan air di musim kemarau, tetapi juga efektif dan efisien dalam pemeliharaan tanaman, efisien dan efektif dalam menggunakan pupuk dan pestisida alami yang di peroleh dari alam sekitar mereka. Dengan demikian manfaatkan sumber-sumber air yang kita miliki jangan hanya menjadi penonton, Sumba punya air, Sumba punya lahan, Ayo menanam di musim kemarau!! [ Ditulis oleh: Anggreni W. N. Ena (Peserta Pelatihan Menulis Ilmiah Populer di Radio MaxFM Waingapu)]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close