Pompa Barsha dan Ketahanan Pangan
Ditulis oleh maxfm on 18th Agustus 2017
| Dilihat 405 kali
Stepanus Makambombu, Direktur Stimulant Institute Sumba [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Sejak dua bulan terakhir viral di dunia maya (media sosial) Sumba Timur sebuah aplikasi teknologi ramah lingkungan tanpa bahan bakar minyak (BBM). Sebuah teknologi “pengangkut air “ yang mampu mengalirkan air sungai sejauh + 2 km. Memanfaatkan kekuatan aliran air sungai sebagai sumber energi itu sendiri yang memutar turbin sehingga mampu mendorong dan mengalirkan air sampai pada elevasi 15 – 20 meter. Teknologi ini bernama Pompa Barsha yang dikembangkan oleh aQysta di Belanda. Pertama kali teknologi ini diaplikasi di Sumba Timur pada tahun 2015 sebanyak 2 unit melalui kelompok tani dampingan Yayasan Komunitas Radio Max Waingapu. Namun dalam dua bulan terakhir aplikasi teknologi ini meluas di beberapa lokasi dan terhitung sudah lima (5) unit Pompa Barsha generasi kedua yang di tempatkan di beberapa daerah aliran sungai (DAS) di Sumba Timur.

Penulis sendiri mengikuti aplikasi teknologi ini di dua DAS yang berbeda topografi, yaitu DAS Payeti (Kalu) dan DAS Waikudu (Kiritana). Setelah mengikuti aplikasi teknologi ini, penulis termotivasi menulis artikel singkat tentang prospek, peluang dan pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal.

Pertama, teknologi ini menawarkan solusi bagaimana mengelola aliran air sungai yang mengalir sepanjang tahun tanpa henti, kemudian dikonversi dalam bentuk irigasi skala kecil untuk mendukung penghidupan petani di sepanjang DAS. Muncul pertanyaan, apakah selama ini petani tidak memanfaatkan DAS? Tentu tidak, ada banyak petani yang memanfaatkan DAS disekitar pemukiman mereka, namun cara pengelolaan air ketika memanfaatkan DAS masih konvensional. Pada satu sisi, cara ini membutuhkan tenaga yang besar (tenaga manusia), pada sisi lain tenaga yang tersedia terbatas. Para petanipun akhirnya membatasi jumlah, jenis tanaman dan luas lahan yang bisa dikerjakan, sehingga pemanfaatan lahan DAS dan air sungai yang melimpah tidak optimal pemanfaatannya.

Kedua, Profil DAS di Sumba Timur umumnya berada di antara bukit-bukit yang relatif curam. Realitas ini merupakan kendala serius bagi petani dalam mengoptimalkan pemanfaatan DAS selama ini. Apalagi hal itu dilakukan secara konvensional. Adapun petani yang menggunakan mesin pompa air, mereka terkendala dengan bagaimana membeli bahan bakar minyak (BBM) maupun sistem pemeliharaannya. Mestinya, para petani mampu membeli BBM dari hasil produksi komoditi yang diusahakan, entah mengapa hal itu tidak dilakukan? Ada persoalan mindset dan kelembagaan petani yang tidak berfungsi dengan baik. Namun hadirnya teknologi ini sangat prospektif untuk diaplikasi pada landscape dengan topografis khas Sumba Timur. Realitas menunjukkan justru di antara bukit-bukit curam ini terpapar hamparan DAS yang subur. Melalui teknologi ini akan membangkitkan aktivitas pertanian dengan irigasi skala mikro pada hamparan DAS yang subur ini.

Potensi DAS dan Tingkat Kecukupan Pangan

Data statistik mencatat Sumba Timur memiliki tujuh buah DAS dengan luas masing-masing, yaitu DAS Kambaniru 111.000 ha, DAS Kaliongga 55.000 ha, DAS Melolo 45.000 ha, DAS Kadahang 40.000, DAS Tidas 33.000 ha, DAS Nggongi 26.000 ha dan DAS Watumbaka 23.000 ha. Total luas ke tujuh DAS tersebut 333.000 ha (Sumba Timur dalam Angka, 2016). Tidak di ketahui secara akurat berapa luas DAS yang saat ini dapat dikelola dan produktif dan berapa yang tidak? Sementara itu, selain ke tujuh DAS yang disebut masih banyak DAS lainnya dengan luasan lebih kecil, namun tidak tercatat secara statistik, sebut saja DAS sungai Payeti, DAS sungai Kawangu dan lainnya. Oleh sebab itu, luasan DAS yang dimiliki pasti jauh melampaui luas DAS yang sudah tercatat secara statistik. Andaikan semua DAS ini dapat dikelola dan berproduksi secara optimal, maka kesejahteraan masyarakat dan petani dapat diwujudkan tengah-tengah alam Savana.



Sementara itu, di tengah-tengah perubahan iklim yang sulit diprediksi semakin menyulitkan eksistensi pertanian lahan basah yang mengandalkan pada sistem irigasi. Curah hujan yang menurun mengakibatkan pasokan air untuk irigasi teknis maupun non teknis berkurang secara signifikan. Akibatnya produksi padi sawah pun menurun. Sebut saja daerah irigasi Ngalu di Kecamatan Pahunga Lodu, sebagai irigasi pertama di Pulau Sumba. Irigasi ini hanya mampu beroperasi optimal di musim hujan. Sementara pada musim kemarau, hanya mampu mengairi separuh dari total lahan irigasi. Bila pada musim hujan seorang pemilik sawah dapat mengerjakan sawah seluas 1 ha, maka pada musim kemarau ia hanya bisa mengerjakan separuh dari lahan yang dimiliki atau 50 are. Alasannya, ketersediaan air irigasi yang terbatas maupun demi alasan keadilan dan menghindari perebutan dan monopoli air.

Tidak optimalnya pengelolaan lahan produksi padi sawah berpengaruh pula terhadap ketersediaan beras lokal untuk kebutuhan konsumsi masyarakat Sumba Timur. Data statistik menunjukkan selama kurun waktu 2008 – 2016, persentasi produksi beras lokal terhadap pemenuhan kebutuhan konsumsi fluktuatif dan cenderung menurun (Sumba Timur dalam Angka, 2008-2016). Kebutuhan konsumsi beras dalam daerah yang semakin tinggi, hanya bisa dipenuhi dengan mendatangkan beras dari luar daerah (impor). Pada tahun 2016 jumlah beras yang didatangkan dari luar guna memenuhi kebutuhan konsumsi mencapai mencapai 84.715 ton atau 67.5 persen dari total konsumsi sebesar 125.487 ton. Artinya produksi beras lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi sebesar 32.5 persen atau 40,772 ton. Laju konsumsi beras yang semakin tinggi, sepertinya sudah sulit dikejar oleh produksi beras lokal. Oleh sebab itu, salah satu cara yang dilakukan adalah mendatangkan beras dari luar. Trend kebutuhan konsumsi beras yang semaking tinggi mengonfirmasi ketergantungan Sumba Timur terhadap pasokan beras dari luar semakin tinggi.

Sementara itu, petani yang mengandalkan pada pertanian lahan kering, yaitu ladang/kebun merupakan petani yang rentan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari. Hasil produksi (panen) yang berasal dari lahan pertanian sangat terbatas. Temuan penulis ketika menjalankan sebuah penelitian Landscape and Lifescape Analisys (LLA) tahun 2016 di empat Kabupaten di Sumba menemukan empat pola, lamanya sebuah rumah tangga petani mengkonsumsi hasil panen (padi ladang dan jagung) yang berasal dari kebun sendiri. Kelompok pertama, merupakan kelompok petani yang hanya bisa mengkonsumsi hasil panen selama kurun waktu 0 – 6 bulan; Kelompok kedua, merupakan kelompok petani yang hanya bisa mengkonsumsi hasil panen selama kurun waktu 6 – 8 bulan; Kelompok ketiga, merupakan kelompok petani yang hanya bisa mengkonsumsi hasil panen selama kurun waktu 8 – 10 bulan; Kelompok keempat, merupakan kelompok petani yang hanya bisa mengkonsumsi hasil panen selama kurun waktu 10 – 12 bulan. Realitas menunjukkan bahwa kelompok pertama, kedua dan ketika, merupakan kelompok mayoritas petani yang tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup selama setahun. Kelompok ini merupakan kelompok yang sering mengalami masa paceklik selama musim tanam dan menjelang panen. Coping strategy merupakan jalan keluar yang dilakukan untuk mempertahankan hidup sampai pada musim panen berikutnya. Yaitu dengan cara menjual ternak kecil atau menjual hasil komoditi perdagangan seperti jambu mete, sirih-pinang, kemiri dan lain sebagainya.

Tata kelola DAS dan Pompa Barsha

Salah satu jalan keluar yang dapat dipilih mengatasi perubahan iklim, adalah mengoptimalkan pemanfaatan air sungai yang mengalir sepanjang tahun. Curah hujan yang rendah atau iklim yang tidak bisa diprediksi tidak serta merta membuat aliran air sungai berhenti. Sejauh ini, cara konvensional sudah dilakukan pemerintah daerah dengan membangun bendungan untuk kebutuhan irigasi. Namun cara ini membutuhkan biaya besar dan waktu lama. Belum lagi penentuan letak dimana bendungan itu akan dibangun membutuhkan hitungan teknis yang rumit agar efisien dalam penggunaan dana dan pemanfaatannya. Demikian halnya dengan para petani di sepanjang DAS, mereka juga sudah mengelolanya dengan cara konvensional, yakni mengambil air sungai secara manual maupun menggunakan motor air. Cara ini pun tidak efisien dan boros dari sisi tenaga maupun biaya. Karena seorang petani harus mengangkut air berember-ember untuk menyiram tanamannya, sehingga luasan lahan yang bisa dikerjakan sangat terbatas tergantung pada ketersediaan tenaga manusia. Demikian halnya dengan penggunaan motor air untuk menyiram tanaman, ketersediaan BBM sering menjadi masalah beroperasinya sebuah motor pompa air secara berkelanjutan. Bahkan sering didapati pemeliharaannya yang buruk mengakibatkan usia mesin pompa air hanya seumur panen tanaman itu sendiri.



Kehadiran Pompa Barsha bisa dilihat sebagai sebuah prospek dan peluang mengatasi beberapa hambatan klasik di atas. Hambatan topografi dan pendanaan yang selama ini menjadi kendala pemerintah membangun sistem irigasi permanen bisa dijawab melalui kehadiran teknologi Pompa Barsha yang sederhana dan ramah lingkungan. Seorang petani yang mengaplikasi teknologi ini akan mampu melakukan efisiensi tenaga kerja, dan bahkan dapat melipatgandakan luasan lahan usaha serta menganekaragamkan kegiatan penghidupannya. Sekali sang petani mengaplikasi Pompa Barsha, maka teknologi ini akan bekerja secara mandiri sembari sang petani mengisi waktu luangnya dengan menganekaragaman kegiatan penghidupan lainnya.

Pompa Barsha di Sungai Waikudu, Sumba Timur [Foto: Ignas Kunda]

Meskipun Pompa Barsha tidak (belum) di rancang untuk sebuah pertanian skala besar, seperti sistem irigasi lahan persawahan, namun untuk pertanian tanaman hortikultur sudah sangat memadai. Bahkan dapat di kombinasi dengan tanaman jagung dan padi ladang (sistem tumpang sari) dalam sebuah hamparan DAS. Pola seperti ini sudah pernah dilakukan pada jaman leluhur kita sebelum sistem irigasi populer diterapkan. Hasil percobaan aplikasi di dua lokasi berbeda dengan elevasi lahan pertanian antara 5 – 20 meter, Pompa Barsha mampu memompa air selama 24 jam (non stop) sebanyak 15.000 – 20.000 liter/hari. Dengan kekuatan kapasitas seperti ini, petani hanya perlu memilih jenis tanaman apa yang perlu ditanam dengan tingkat kebutuhan air tertentu, kemudian menyesuaikan luas lahan dengan kapasitas Pompa Barsha.

Pilihan mengaplikasi teknologi ini hanya dapat berjalan secara massive sangat tergantung pada strategi pembangunan daerah di sektor pertanian khususnya sektor DAS. Seperti sudah dideskripsi di atas bahwa luas DAS yang tercatat mencapai 333.000 ha, dan jumlah ini akan jauh lebih besar jika ditambah dengan DAS pada sungai-sungai kecil. Sebuah jumlah yang melampaui luasan lahan irigasi dan sawah tadah hujan yang dikerjakan saat ini yang mencapai 22.100 ha (BPS 2016). Andaikan 10 persen dari total DAS seluas 333.000 ha, yaitu 33.000 ha dapat dikerjakan dengan dukungan teknologi Pompa Barsha maka terobosan ini akan menambah kekuatan penyediaan pangan di Sumba Timur. Asumsinya jika setiap kecamatan memiliki sungai maka ada 1514 ha lahan DAS yang bisa dikerjakan/kecamatan atau 10 ha per desa/kelurahan jika setiap desa/kelurahan merupakan wilayah yang dilewati DAS. Dalam kenyatakaan tidak setiap desa merupakan atau memiliki DAS, namun data statistik menunjukkan setiap kecamatan memiliki wilayah DAS dengan luasan yang berbeda.

Mengkapitalisasi DAS sebagai wilayah penyangga ketahanan pangan merupakan sebuah strategi yang cukup masuk akal jika merujuk pada luasan DAS yang ada. Perubahan iklim yang tidak menentu (unpredictable) yang berdampak negatif terhadap pusat-pusat produksi pangan yang berbasis lahan irigasi di Sumba Timur, sekurang-kurangnya bisa disubstitusi dengan hasil produksi pertanian di DAS. Oleh sebab itu, hadirnya teknologi Pompa Barhsa perlu dilihat sebagai bagian dari strategi daerah membangun ketahan pangan bahkan bisa menuju pada kedaulatan pangan melalui pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. [ Stepanus Makambombu, Direktur Stimulant Institute Sumba, Wakil Ketua Komisi Bidang IPTEK dan Lingkungan Hidup Dewan Riset Daerah Kab. Sumba Timur ]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close