Timoria Lagi-Lagi Menulis Cerpen: Tanpa Judul
Ditulis oleh Frans Hebi on 2nd Juni 2017
| Dilihat 812 kali
Diana Timoria Saat Berbagi Cerpen Dengan Pendengar Radio MaxFM [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM – Waingapu – Beberapa waktu yang lalu kami pernah membahas tiga cerpen Diana D. Timoria di Radio Max FM masing-masing berjudul Segelas Kopi dan Senja (Aku, Kau dan Dia), Kebenaran, dan Tentang Kita dan Hujan. Kali ini kami mengangkat cerpennya yang berjudul Tanpa Judul yang terhimpun dalam buku kumpulan cerpennya (terbit 2016) dengan judul yang sama. Dalam buku itu terdapat 19 cerpen termasuk dua yang pernah kami ulas kecuali Tentang Kita dan Hujan.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Rambu menjadi tokoh sentral dalam cerita. Betapa Rambu mengalami pergolakan batin menghadapi pesta pernikahan kedua orang tuanya. Pesta pernikahan yang ke-28. Selama ini belum pernah dia memberikan hadiah kepada orang tua sebagai balas jasa yang telah membesarkan dia melalui perjuangan yang bukan sedikit.

Tapi hadiah apa yang kiranya cocok untuk membalas kasih sayang kedua orang tua? Dengan materi berupa uang, lukisan, kain tenun? Itu belum cukup kalaupun dia memiliki apa lagi tidak punya. Kasih sayang tidak bisa diukur dengan materi. Hadiahnya harus eksklusif, harus dari diri, dari nurani terdalam.

Pemikiran-pemikiran Rambu ini mengingatkan kami kisah seorang gadis yang mau membalas jasa seorang pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya. Sekali peristiwa gadis tersebut tenggelam di sungai yang lubuknya dalam. Dia berusaha tapi tidak bisa karena dia tidak tahu berenang. Beruntung seorang pemuda lewat di situ. Pemuda itu berjuang keras sehingga dia diangkat dari dasar sungai. Setelah air dikeluarkan melalui hidung dan mulut, gadis itu siuman. Gadis itu berpikir-pikir dengan apakah dia membalas jasa pemuda yang menyelamatkannya. Dengan uang, emas, perak atau materi apapun tidak sebanding dengan nyawanya. Maka timbullah dalam pikirannya untuk memberikan sesuatu yang eksklusif yang berasal dari lubuk hatinya. Dan keluarlah kata-kata, Terimalah Kasihku. Dari sinilah riwayat kata terimakasih muncul yang kita obral setiap saat sehingga menjadi usang, tawar padahal arti aslinya sangat luhur. Tentu saja pemuda itu dengan senang hati menerima hadiah yang tak ternilai.

Kembali pada cerpen Tanpa Judul. Setelah Rambu bergumul memikirkan hadiah apa yang bakal dia berikan kepada kedua orang tua terlintas dalam pikiran. Tulisan yang berasal dari hati, dari pikiran dan perasaan kiranya bisa menjadi hadiah istimewa untuk kedua orang tua.

Maka meluncurlah kata-kata cinta yang menjadi ide sentral yang menurut Rambu tidak bisa mendefinisikannya..

Frans W. Hebi, Wartawan Senior, Budayawan, Narasumber Tetap Acacra Bengkel Bahasa Radio MaxFM [Foto: Heinrich Dengi]
Mencintai kalian seumpama doa. Aku mengucapkannya tanpa tergesa-gesa, sambil sesekali menghayalkan wajah Tuhan serupa wajah kalian….. Mencintai kalian ibarat keajaiban yang tak pernah berhasil kupahami….. Mencintai kalian ibarat buku yang kutuliskan tanpa judul sebab aku tak mahir menamai keajaiban perasaan itu….

Pelukisan perasaan cinta yang terdiri dari satu setengah halaman ini di tiap paragraf diawali dengan kata, Tanpa Judul. Dalam episode ini terjadi perubahan. Tokoh sentral Rambu yang tadinya berstatus orang ketiga (Dia) kini berubah menjadi tokoh orang pertama (Aku). Sehingga cerpen Tanpa Judul ini memiliki cerita sisipan yang memenuhi syarat sebagai cerita pendek yang pendek, atau short-short story. Karenanya, cerpen Tanpa Judul bisa disebut cerita pendek berbingkai.

Kalau kita mencermati cerpen Timoria, tokohnya hanya satu. Tokoh Rambu yang kemudian menjelma menjadi tokoh Aku. Sedangkan tokoh sampingan yakni kedua orangtua itu hanya tokoh imajinasi yang tidak dilibatkan untuk berinteraksi dalam cerita. Secara keseluruhan, penulis, pencerita, dan tokoh hanya satu yaitu Diana D. Timoria. Kesimpulan ini kami ambil karena ada kata kuncinya. Di bawah cerpen tertulis: Untuk mama dan bapak selamat merayakan hari bahagia kalian yang ke-28 akhir tahun ini.

Apa yang Timoria lakukan adalah hal yang wajar. Banyak penulis buku yang mendedikasikan karyanya kepada orang-orang yang mereka cintai, orangtua, sahabat, orang yang dianggap berjasa, meski tulisan itu tidak menyangkut sosok-sosok tersebut.

Ada ungkapan Latin yang mengatakan, Verba volant scripta manent. Apa yang diucapkan gampang hilang, tapi apa yang ditulis tetap abadi. Maksudnya, kalau kita mengucapkan selamat secara verbal kepada orang-orang yang kita cintai, itu gampang dilupakan. Demikian juga kalau kita memberikan hadiah berupa materi, uang, barang dsb akan habis. Tapi kalau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak akan pernah hilang, bisa diwariskan kepada turun-temurun dan dibaca oleh banyak orang.

Dalam dunia menulis cerpen, konflik merupakan salah satu unsur daya tarik sehingga pembaca turus mengikuti jalan ceritanya hingga mencapai klimaks dalam bentuk relaian. Tokoh Rambu tidak konflik dengan tokoh lain tapi konflik dengan batinnya yang diwakili oleh dua tokoh imajinasi. Yang satu tokoh optimis, yang satu lagi tokoh pesimis. Tokoh pesimis selalu berpikiran negatif terhadap tokoh Rambu. Tokoh optimis selalu berpikiran positf, mendukung, mendorong,memberi motivasi kepada tokoh Rambu. Tokoh optimis mengalahkan tokoh pesimis. Akhirnya Rambu berani melaksanakan niatnya, menuliskan rasa hatinya yang akan dihadiahkan kepada kedua orangtuanua sebagai bentuk balas jasa.

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close