Scroll to Top
Belalang Kembara : Bagaimana Mata Rantai Predatornya?
Posted by maxfm on 13th Juni 2017
| 1789 views
Gian Kirana Eufran, S.Si., MSi dan Welmince Bota, S.Pd., M.Pd., PS Teknologi Hasil Perikanan dan PS Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Univ. Kristen Wira Wacana Sumba

MaxFM, Waingapu – Setiap makhluk hidup memiliki tingkatan trofiknya masing-masing. Belalang kembara masuk dalam tingkatan trofik ke-II yang adalah konsumen primer (konsumen I) yang mengkonsumsi tingkatan trofik I yaitu organisme autotrof yang adalah tumbuhan hijau sebagai produsen dalam tingkatan trofik (rantai makanan). Sebagaimana hama belalang yang terjadi saat ini di Sumba, penaganannyapun dapat melibatkan tingkatan trofik untuk dijadikan sebagai predator alami. Tingkatan trofik konsumen II sebagai pemakan belalang diketahui dapat berupa burung dan katak. Sedangkan untuk telur belalang, predator alaminya dapat berupa semut.

Padang Savana Yumbu-Sumba Timur, merupakan salah satu daerah yang merupakan key biodiversity area untuk burung. Beberapa jenis burung pemakan serangga yang ada di Waingapu-Sumba dan sekitarnya adalah Gemak Totol, Gemak Loreng, Gemak Sumba (endemis Sumba), Decu Belang, Branjangan Jawa, Kirik-kirik Laut, Bubut Alang-alang, Tekukur Biasa, Perkutut Loreng, Srigunting Wallacea, Kacamata Wallacea, Kacamata Limau, Myzomela Sumba, dan Burung Madu Sumba (endemis Sumba). Jenis-jenis burung yang diperkirakan dapat mengendalikan populasi serangga. Namun, tidak kurangnya juga penangkapan burung liar yang hendak diselundupkn ke luar Sumba Timur. Sehingga kejadian seperti dapat mengganggu ekosistem dalam tingkatan trofik untuk pengendalian populasi. Menyikapi hal ini, pemerintah diharapkan dapat juga mengendalikan penangkapan burung liar sehingga dengan tidak secara langsung kesediaan predator alami untuk mengendalikan hama belalang dapat terjaga.

Mama Wanyi Kale Berusaha Mengusir Belalang Kembara di Kebunnya di Maukaba Kambaniru [Foto: Heinrich Dengi]

Untuk predator alami berupa katak, diharapkan dapat mengatasi populasi belalang untuk fase nimfa anak yang merupakan fase setelah telur, dalam fase ini, belalang akan berganti kulit hingga lima kali, namun pergantian kulit pada ketiga atau keempat kalinya belalang sudah memiliki sayap, sehingga diharapkan bahwa predator pengendali yang adalah katak dapat mengendalikan populasi dalam fase ini sebelum terbentuknya sayap belalang. Untuk telur diharapkan dapat dikendalikan dengan adanya predator alami berupa semut.

Belalang Kembara di sekitar Lokokelara Mu Hau [Foto: Heinrich Dengi]
Namun semua predator alami yang diharapkan juga sangat bergantung pada kondisi ekologisnya untuk ketersediannya. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Ir. Hermanu Triwidodo (ahli ekologi serangga, IPB) perlu adanya investigasi untuk menemuka breeding site awal dari mana munculnya populasi awal sehingga dapat dilakukan pengendalian sebelum terjadinya ledakan populasi. Apabila investigasi ini dapat dilakukan dan berhasil ditemuka breeding site area, maka untuk pengendalian dengan predator alami-pun dapat dimulai dari situ, dan ini bukan hanya dengan mengharapkan ketersediaan predator alami secara alamiah, namun kita semua harus berbenah diri dalam menyikapi hal ini untuk menyiapkan strategi dalam pengendaliannya. ( Gian Kirana Eufran, S.Si., MSi dan Welmince Bota, S.Pd., M.Pd. Pengajar di PS Teknologi Hasil Perikanan dan PS Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Univ. Kristen Wira Wacana Sumba )

Print Friendly, PDF & Email