Scroll to Top
Udang Tak Tahu Dibungkuknya
Ditulis oleh Frans Hebi on 15th Juni 2016
| Dilihat 577 kali

Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi ]
MaxFM, Waingapu – Di media ini sudah pernah kita mengangkat ungkapan “Bahasa Menunjukkan bangsa” dan peribahasa, “Adakah Buaya Menolak Bangkai?”  Kali ini kita mengangkat perumpamaan, “Udang Tak Tahu Dibungkuknya”

Dalam bahasa Indonesia semua ungkapan, ucapan yang memiliki gaya khusus seperti gaya bahasa, pepatah, peribahasa, ungkapan, tamsil/ibarat, dalam bahasa asing disebut figur of speech. Makna ungkapan-ungkapan tersebut harus ditafsirkan karena memiliki konotasi sebagai kebalikan dari denotasi yang memiliki arti lugas.

Ungkapan Udang Tak Tahu Dibungkuknya perlu ditafsir karena maknanya berada di luar kata-kata itu. Jadi harus mencari benang merah yang menghubungkan antara makna penafsiran dengan makna harafiah kata-kata tadi.

Orang Arab membagi manusia dalam empat tipe. Pertama. Dia tidak tahu, tapi dia tahu bahwa dia tidak tahu. Kedua, Dia tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu. Ketiga, Dia tahu, tapi dia tahu bahwa dia tahu. Keempat, Dia tida tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Tipe keempat ini kalau kita sederhanakan dengan bahasa yang mudah dimengerti mengandung arti, sesungguhnya dia bodoh, tapi dia tidak menyadari akan kebodohannya. Sama persis dengan ungkapan bahasa Indonesia, Udang Tak Tahu dibungkuknya. Orang yang tidak menyadari kekurangan dan keterbatasannya malahan berlagak sok tahu.

Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita pernah menemukan orang-orang yang memiliki watak seperti yang digambarkan. Orang-orang seperti ini akan menyusahkan orang lain dalam interaksi sosial, misalnya, pergaulan dalam masyarakat, dalam komunitas, dalam hidup bertetangga, bahkan dalam rumah tangga sendiri.

Contoh kasus. Seorang ibu rumah tangga. Dia cukup berpendidikan. Setelah kawin dia mengikuti suaminya. Di tempat itu sekitar belasan KK adalah keluarga suaminya. Selebihnya tidak punya hubungan keluarga.

Baru saja beberapa bulan ibu ini sudsh konflik dengan tetsngga. Setelah satu tahun semua tetangga termasuk keluarga suami bentrok dengan dia. Soalnya, kalau ada ayam, babi, atau kambing yang terlepas dan kebetulan lewat di halaman rumahnya, dan meski tidak ada tanaman yang dirusak karena memang tidak ada yang ditanam, dia marah besar seraya memanggil pemilik hewan seraya melontarkan kata-kata yang berbisa dan sama sekali tidak bersifat kekeluargaan.

“Kamu suka piara hewan tapi tidak tahu jaga. Kamu jadikan saya tukang jaga hewan. Kamu tidak tahu bahwa saya tidak suka hewan makanya saya tidak piara” Dan betul juga, di rumahnya tidak ada ternak baik unggas maupun ternak besar.

Meski pemilik hewan menjelaskan bahwa itu tidak disengaja, kebetulan terlepas,  dan khusus untuk unggas kebiasaan lepas bukan hal baru, tapi ibu ini tidak mau mendengarkan. Terusasaja melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan.

Tidak mengherankan kalau rumahnya sepi, hampir tidak ada tetangga dan keluarga datang ke rumahnya. Kalau saja ada yang datang, suka juga dia membuat gosip, lagi pula sok tahu, sama sekali tidak mau mendengarkan orang lain.

Betapa ibu tadi benar-benar ibarat udang tak tahu dibungkuknya, dia pernah memukul bapaknya yang sudah tua dengan helm di atas kepalanya serta menggaruk mukanya dengan kuku-kuku yang dia piara hingga bapaknya berlumuran darah. Sedianya bapak yang tak berdaya ini mau melapor ke polisi tapi dihalangi oleh keponakan.

Jika saja dilaporkan sudah jelas dia dikenai sanksi seperti yang diatur dalam UU kekerasan dalam rumah tangga, atau UU HAM tahun 1999, pasal 33: “Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan”. Tambahan pula ibu ini sering memaki bapaknya secara keji. Jika dinasihat oleh ibunya, dia balik marah. “Jangan ajar saya, saya lebih tahu, saya ini sarja”, gumamnya.

Jika orang tua kandung saja sudah diperlakukan seperti itu, meskipun setiap agama mengajarkan, hormati orang tuamu supaya panjang umurmu, apa pula dengan orsng lain.

Mengapa ada orang-orang seperti itu? Anti sosial, tidak ramah, selalu melontarkan kata yang melukai, sinis, iri hati, dengki, tidak tahu membalas kebaikan  orang lain. (ibu ini punya sifat-sifat yang demikian). Tak lain karena sejak kecil mereka hanya merekam pikiran-pikiran negatif yang diakses dan berakumulasi di file-file bawah sadar. Pikiran-pikiran negatif sudah mendarah-daging, sudah berurat berakar sehingga setiap turur kata, perilaku  selalu bermuara secara reflektif pada hal-hal negatif melulu. Mereka tidak pernah menyadari bahwa sikap yang demikian akan merussak tatanan sosial. Mereka benar-benar udang tak tahu dibungkuknya, dia tidak tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Kata orang Arab yang memiliki peribahasa di atas, kalau mau merasa aman, orang-orang seperti itu harus dikucilkan, harus disingkirkan dari kelompok persekutuan, dari komunitas. Dan benar juga. Ibu yang kita kisahkan tadi setelah dikucilkan, disingkirkan  dari pergaulan (sementara dia sendiri malas tahu), tetangga-tetangga merasa aman.***

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close