Scroll to Top
Rendah Diri
Posted by Frans Hebi on 13th Maret 2016
| 1941 views

Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi ]
MaxFM, Waingapu – Salah satu penyakit rohani manusia adalah rasa rendah diri atau minder. Rasa rendah diri mungkin disebabkan salah didik orang tua. Terlalu mengekang anak, menakut-nakuti, selalu mempersalahkan bila melakukan inisiatif atau kreatif. Akibatnya anak tidak percaya diri lagi alias merasa diri rendah.

Ada juga orang yang merasa rendah diri dari dirinya sendiri. Padahal punya profil bagus (tidak ada yang kurang), pintar, kehidupan ekonomi medudukung. Tidak berani mengutarakan pendapat, tidak berani melakukan inisiatif, tidak berani tampil, tidak berani bertanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya. Takut jangan sampai salah, takut resiko, takut rugi. Padahal kemampuan ada. Belum mencoba sudah takut bayangan.

Orang-orang seperti ini menurut filsafat Arab tergolong, “Dia tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu”. Dia sesungguhnya punya potensi, bakat, tapi tidak menyadarinya yang oleh filsuf Arab dianggap orang mengantuk yang perlu dibangungkan.

Bagaimana cara membangunkan? Orang tua, pendidik/guru atau siapapun bisa menolong dia. Caranya, ,mengembalikan kepercayaan dirinya. Memberi dia kesempatan tampil berbicara, memimpin teman dalam diskusi. Memberi sugesti bahwa hasil kerjanya baik walaupun tidak maksimal.

Sebagai guru dari tahun 1968-2011 saya punya pengalaman dengan tiga siswa yang merasa rendah diri. Mereka punya cacat ketika berbicara atau disuruh membaca. Mungkin ini yang disebut kakafoni. Disuruh membaca mereka gagap, gugup, canggung. Kalau dipaksa mereka membaca dengan mendahulukan bunyi, sssssssss……, berhenti. Ssssssss, berhenti baru baca satu kata, dan seterusnya. Teman-teman tertawa. Saya memarahi mereka karena ini menambah dia gagap. Saya tempu cara dengan membaca terdahulu kata demi kata, kalimat demi kalimat perlahan-lahan lalu menyuruhnya mengeja dari belakang. Begitu saya lakukan hampir setiap pelajaran Bahasa Indonesia. Dan setiap ada kemajuan membaca sendiri tanpa mengeluarkan bunyi sssssss, saya memberi pujian. Hingga bisa membaca kalimat-kalimat tanpa hambatan. “Lihat teman yang selalu kamu tertawakan, sudah bisa membaca sendiri bahkan lebih lancer dari kamu”, kata saya.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons