Scroll to Top
Gempabumi Sumba dan Teori Jemuran Sprei
Ditulis oleh maxfm on 18th Maret 2016
| Dilihat 642 kali
Ilustrasi
Ilustrasi

MaxFM, Waingapu – Ada dugaan kuat bahwa antara gempabumi Sumba 12 Februari 2016 (M 6,6) dan gempabumi di zona outerrise baratdaya Sumba 16 Maret 2016 (M 5,6) yang terjadi tadi malam memiliki hubungan erat. Mekanisme hubungan kedua peristiwa gempabumi tersebut dapat dijelaskan dengan konsep sederhana.

Dugaan adanya hubungan kedua event tersebut didasarkan kepada jarak lokasi episenter gempabumi yang relatif berdekatan. Selain itu peristiwa terjadinya kedua gempabumi tersebut memang berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama, hanya berselang 33 hari.

Zona outerrise merupakan salah satu unsur tektonik yang sebenarnya merupakan zona rawan gempabumi kedua setelah zona megathrust. Akan tetapi zona ini pada kenyataannya zona gempabumi ini terabaikan oleh kita semua. Zona outerrise merupakan bagian lempeng tektonik yang menderita penekukan dan “bending” sebelum slab lempeng menunjam.

Sejarah membuktikan bahwa zona outerise terbukti sudah beberapa kali memicu terjadinya tsunami dengan kekuatan yang bervariasi. Catatan menunjukkan bahwa zona outerrise di Indonesia memang sudah beberapa kali memicu terjadinya tsunami, seperti halnya tsunami Jawa 11 September 1921, tsunami Sumbawa 19 Agustus 1977, dan tsunami Aceh 11 April 2012.

Dengan bekerja medan tegangan tarikan yang hebat akibat gaya tarikan terkait aktivitas slab yang sedang menyusub dan menukik di bawah lempeng lain, menjadikan zona ini rentan terjadi penyesaran turun (normal fault). Belum lagi tarikan lempeng ke bawah akibat bekerjannya mekanisme “slab pull” dan “rollback” akan membuat gaya ekstensional di zona outerrise bekerja semakin intensif.

Peristiwa gempabumi Sumba 12 Feb 2016 (M 6,6) dengan kedalaman hiposenter 60 kilometer merupakan manifestasi melesaknya slab di zona transisi Megathrust-Benioff Sumba. Peristiwa gempabumi signifikan ini tentu menjadikan adanya perubahan medan tegangan di zona outerrise di selatan Sumbawa. Dalam hal ini meluncurnya slab di bawah akan meningkatkan perubahan “stress” di slab bagian permukaan, khususnya di zona sekitar tekukan lempeng tektonik, yaitu outerrise.

Ibarat kita menjemur sprei, maka jika kita tarik bagian bawah sprei dengan tiba-tiba maka akan terjadi kontraksi di bagian atas tepatnya di tali jemuran bagian atas. Ini adalah contoh riil dari sebuah proses peristiwa migrasi gempabumi yang paling mudah dijelaskan.

Patut kita syukuri bahwa gempabumi baratdaya Sumba tadi malam hanya hanya berkekuatan M 5,6 sehingga proses deformasi yang terjadi di kedalaman dangkal tidak cukup kuat untuk memicu terjadinya tsunami. [Tulisan DR. Daryono, Kabid Mitigasi dan Tsunami BMKG Pusat]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close