Scroll to Top
Buronan Yang Salah Kaprah
Ditulis oleh Frans Hebi on 24th Februari 2016
| Dilihat 1107 kali

Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi ]
MaxFM, Waingapu – Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mengalami gejala monoftongisasi. Dua vokal dilebur jadi satu. Jika dikatakan untuk menghemat atau pragmatis, mengapa ada gejala diftongisasi, satu bunyi vokal dipecah menjadi dua?

Vokal ai dan ia dilebur menjadi e dalam kata-kata ramai, santai, pakai, satai, balai-balai, ka(e)bupatian, sajian. Terbentuklah kata-kata rame, santé, sate, bale-bale kabupaten dan sajen. Kecuali kata sate, bale-bale, kabupaten dan sajen, yang lain dianggap tidak baku dan hanya dipakai dalam bahasa tutur.

Kata kabupaten nampaknya tidak lazim, karena kata dasarnya bupati mendapat imbuhan ke – an, seharusnya kebupatian atau kebupaten sebagai pengaruh gejala monoftongisasi. Ke menjadi ka ini merupakan hal yang biasa dalam bahasa Indonesia yakni fonem a dapat ditukar dengan fonem e seperti terlihat pada kata-kata Kamis – Kemis, Rabu – Rebo, lazat – lezat, jajar – jejer. Jadi kebupaten – kabupaten

Kata kabupaten bentukannya sepola dengan kelurahan, kecamatan, kegubernuran, kepresidenan, kesultanan, kewedanaan, keratuan (keraton). Hanya saja awalan ke tidak ditukar menjadi ka.

Gejala monoftongisasi juga terjadi pada dua vocal berdampingan, au dan ua yang disandi/lebur jadi vokal o dalam kata-kata surau – suro, kacau-balau – kaco-balo, kerbau – kerbo, saudara – sodara, keratuan – keraton, lakuan – lakon, ijauan – ijon (3 vokal dilebur), buruan – buron..

Kata-kata di atas yang sudah baku, keraton, lakon, ijon, yang lain belum dan hanya terbatas pada bahasa tutur. Yang menjadi masalah adalah kata buronan. Sudah disebutkan, vokal o pada kata buron adalah leburan ua dari kata buruan. Karena itu tidak perlu diberi akhiran –an karena akan terjadi tumpang-tindih, pendobelan. Buruan (buron) artinya orang yang diburu, dicari. Akan hilang artinya jika kata buronan kita kembalikan pada aslinya, buruan. Sebagai konsekuensi kita harus menerima bilamana nanti terjadi analogi bentuk yang sepola, misalnya kabupatenan, keratonan, lakonan, ijonan, paronan, guronan. Dua kata terakhir dari paruan dan gurauan.

Buronan merupakan salah kaprah. Kaprah dalam bahasa Jawa berarti lazim. Salah kaprah, kelaziman yang salah. Sebuah kata telanjur dipakai dalam arti yang salah, tapi tidak bisa ditarik lagi karena sudah menyebar-luas terutama pengaruh mass media. Boleh jadi kesalahan itu tidak pernah disadari.

Banyak contoh salah kaprah dalam bahasa Indonesia yang sulit ditarik kembali. Matahari terbit, malaria (udara buruk) meski disadari penyebabnya nyamuk. Kata satu sebenarnya terdiri atas dua kata. Sa dari kata esa dan tu yang berarti orang. Kata tu masih terlihat pada beberapa bahasa daerah. Toraja (Sulawesi) berarti orang hulu, ata (Waijewa, Sumba Barat Daya, Ende, Flores), tau, (Sumba Timur), tu (Soru, Sumba Tengah), bahkan hito, bahasa Jepang.

Kata sa (esa) dalam bahasa Indonesia umumnya telah berubah menjadi awalan se- yang dalam pemakaian ditambah kata bantu bilangan, seperti sebuah, sebatang, selembar, seekor, bahkan orang dalam kata-kata seorang-orang, seorang malaikat. Yang tidak berubah kita temukan pada kata saudara, sanak (sa anak) dan satu. Yang menarik, beberapa dialek Sumba tetap konsisten. Tu, tau, toy hanya dipakai untuk orang, seperti hatu (Soru, Sumba Tengah), hatau (Sumba Timur), hatoy (Kodi Sumba Barat Daya) yang berarti seorang. Kata-kata itu tidak pernah dirangkai dengan makhluk lain atau benda untuk menyatakan billangan.

Menyadari makna kata satu, akan terasa janggal bilamana kita mengatakan satu ekor kuda (di Sumba Timur, hiunanjara, bukan haatunanjara), satu buah rumah, satu pengalaman, satu bahasa. Mendingan kita pakai awalan se- ditambah kata bantu bilangan, ekor, buah, lembar, orang. Tapi bagaimana lagi. Yang penting kita pahami duduk persoalan sehingga tidak menambah salah kaprah dalam bahasa Indonesia.***

Catatan: Penulis alumni IKIP Sanata Dharma FKSS Jurusan Bahasa Indonesia, tahun 1974. Menulis ke berbagai majalah dan surat khabar sejak tahun 1973. Termasuk rubrik Bahasa Kita di Kompas era tahun 80-an. Hingga kini masih menulis, dan sejak 5 tahun lalu mengasuh acara Bengkel Bahasa Radio Max FM Waingapu.

 

Print Friendly, PDF & Email