Scroll to Top
Buronan Yang Salah Kaprah
Posted by Frans Hebi on 24th Februari 2016
| 2527 views

Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi }
Frans Wora Hebi : Pengasuh Tetap Acara Bengkel Bahasa di Radio Max FM [ Foto : Heinrich Dengi ]
MaxFM, Waingapu – Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mengalami gejala monoftongisasi. Dua vokal dilebur jadi satu. Jika dikatakan untuk menghemat atau pragmatis, mengapa ada gejala diftongisasi, satu bunyi vokal dipecah menjadi dua?

Vokal ai dan ia dilebur menjadi e dalam kata-kata ramai, santai, pakai, satai, balai-balai, ka(e)bupatian, sajian. Terbentuklah kata-kata rame, santé, sate, bale-bale kabupaten dan sajen. Kecuali kata sate, bale-bale, kabupaten dan sajen, yang lain dianggap tidak baku dan hanya dipakai dalam bahasa tutur.

Kata kabupaten nampaknya tidak lazim, karena kata dasarnya bupati mendapat imbuhan ke – an, seharusnya kebupatian atau kebupaten sebagai pengaruh gejala monoftongisasi. Ke menjadi ka ini merupakan hal yang biasa dalam bahasa Indonesia yakni fonem a dapat ditukar dengan fonem e seperti terlihat pada kata-kata Kamis – Kemis, Rabu – Rebo, lazat – lezat, jajar – jejer. Jadi kebupaten – kabupaten

Kata kabupaten bentukannya sepola dengan kelurahan, kecamatan, kegubernuran, kepresidenan, kesultanan, kewedanaan, keratuan (keraton). Hanya saja awalan ke tidak ditukar menjadi ka.

Gejala monoftongisasi juga terjadi pada dua vocal berdampingan, au dan ua yang disandi/lebur jadi vokal o dalam kata-kata surau – suro, kacau-balau – kaco-balo, kerbau – kerbo, saudara – sodara, keratuan – keraton, lakuan – lakon, ijauan – ijon (3 vokal dilebur), buruan – buron..

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons