Scroll to Top
Susur Utara Sumba Timur
Ditulis oleh maxfm on 6th September 2015
| Dilihat 1635 kali

MaxFM, Waingapu – Sudah agak siang hari itu kami berangkat dari Waingapu. Saya bersama Jurnalis Surat Kabar Harian Pos Kupang Alfons Nedabang sudah janjian sehari sebelumnya  mau ke wilayah Utara Sumba Timur.

Bagian Utara Sumba Timur yang akan kami tuju adalah Kecamatan Haharu, di kecamatan ini ada beberapa desa yakni Desa Kadahang, Desa Wunga, Desa Napu, Desa Mbatapuhu dan beberapa desa lainnya, di daerah ini terkenal sebagai wilayah paling kering di Sumba Timur, dalam setahun rasanya beruntung bila hujan sampai empat bulan di sana.

Siang itu menggunakan motor dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang, ditemani udara panas yang menguap naik dari aspal jalan dan batu karang di sepanjang perjalanan, kami meluncur ke Utara Sumba Timur dengan rute Waingapu – Kampung Baru – Kanatang – Maudolung – Hambapraing –  Puru Kambera – Mondu – Kapunduk – Kadahang – Wunga pergi pulang.

Bertemu Stefano

Stefano [Foto:Heinrich Dengi]
Stefano [Foto:Heinrich Dengi]
Saat memasuk wilayah Hambapraing dari jauh terlihat seorang anak laki-laki duduk di pinggir jalan memegang baju Pramukanya seraya melambaikan tangan meminta kami berhenti, “Om berhenti dong, tolong muat saya di motor, mau pulang rumah, sudah dari tadi tidak ada yang muat Om” begitu kata anak laki itu saat motor mendekati dirinya, “Om bisa saya ikut di motor ko Om?” lanjut dia. Saya persilahkan dia naik di motor, saat motor berjalan, dengan cepat dia meminta kami untuk berhenti bebrapa meter ke depan untuk minta tumpangan bagi kakak perempuannya yang juga akan pulang ke daerah Puru Kambera.

Dari cerita selama perjalan di motor, saya jadi tahu nama lengkap adik ini yakni Stefano Sakarias Nenobais. Stefano setiap hari harus berjalan kaki 6 KM pergi pulang Sekolah. Saat ini Stefano duduk di kelas 4 SD Katolik Maulihi, kakak perempuannya kelas 6 SD.

Setiap hari kata Stefano dirinya memberanikan untuk menahan motor yang lewat saat  menuju ataupun saat pulang sekolah. Kalau tidak dapat tumpangan tidak ada cara lain selain harus berjalan, “orang tua saya hanya petani, jadi kami tidak ada uang naik ojek atau uang bemo,” tambah Stefano.

Berkaca dari perjuangan Stefano, saya langsung terbayang masa-masa SMA dulu, sejak kelas 1 sd 3 SMA pergi dan pulang sekolah hanya bermodal jalan kaki, mau hujan atau panas ya jalan kaki. Dari Tandai Rotu ke Wangga, menyeberang sungai di Wangga ( saat ini ada jembatan gantung) tentu saja kalau lewat sungai harus buka sepatu dan kaos kaki, sampai di sebelah baru pakai kembali melanjutkan perjalanan naik gunung terus ke belakang SMA Negeri 1 Waingapu atau cara lain naik dari kali Wangga lewat Lamenggit baru naik ke arah belakang sekolah, atau jalan kaki ke jembatan Payeti, lewat belakang SMA PGRI Matawai dan naik di tanjakan Radamata bagian Timur yang kala itu belum ada rumah seramai sekarang. Mungkin saja suasana panas dan melelahkan lebih dirasakan Stefano di daerah Hamba Praing, karena kalau berjalan di sana tidak ada sedikitpun pohon untuk sekedar mendapatkan bayang-bayang pohon agar dingin sepanjang perjalanan terutama saat pulang sekolah, belum lagi perut keroncong yang tidak mau kompromi, tetapi yang pasti kami sama-sama berjuang untuk sekolah.

Perjalanan siang hari melewati Hamba Praing ke Puru Kambera selalu meninggalkan kesan asik meskipun berpanas ria, betapa tidak…… saat jalanan mulai menurun ke Purkam, warna biru menguat disertai buih-buih putih ombak kecil memecah terlihat, rasanya panas tidak panas lagi, ingin secepat kilat mendekati lautan lepas nan teduh, bahkan kalau pas waktunya pulau Flores di seberang sana terlihat dengan jelasnya, belum lagi pohon-pohon hebat yang tumbuh di celah batu karang, tahan hawa panas kering di bagian bawah yang agak datar menambah suasana magis nan asik. Kawan saya Pak Iskandar Saher tiap melewati bagian tertentu jalan menurun agak tajam dari Hamba Praing ke Puru Kambera selalu bilang ingin buat Vila di ketinggian sini, mantap pemandangannya.

Pasar Sorong Mondu

Mama Loda Nangi di Pasar Sorong Mondu [Foto: Heinrich Dengi]
Mama Loda Nangi di Pasar Sorong Mondu [Foto: Heinrich Dengi]
Tidak afdol rasanya jika akan ke Wunga jika tidak singgah sebentar di Pasar Sorog Mondu. Dari arah Waingapu pasar ini ada di sebelah kanan jalan. Berhenti di Pasr Sorong Mondu sama seperti saat mau ke Sumba BaratPasola Sebagai Ungkapan Syukur Penganut Marapu Di Sumba. Read more ... » kita berhenti di Langga Liru untuk istirahat.

Pasar Sorong Mondu letaknya tidak begitu jauh dari Jembatan Mondu, di pasar ini biasanya para pedangang menjual berbagai hasil dari kebun yang ditanam, seperti sayur Pitsai, sayur putih, bawang merah, bunga pepaya, pisang, tembakau, ruput laut, kacang goreng dan tidak lupa jagung pulut serta masih banyak produk lainnya.

Dalam beberapa kali perhentian di Pasar Sorong Maudolung yang paling saya incar adalah jagung pulut rebus. Rasa jagungnya khas, lembut di mulut dan menambal rasa lapar cocok bila dimakan bersama kacang goreng yang biasanya dijual 5 Ribu rupiah per kemasan. Jagung pulut dihargai 5 buah 5 ribu rupiah.

Mama Loda Nangi salah satu penjual sayur di Pasar Sorong Mondu mengatakan hampir semua jenis sayur dan keperluan lain yang di jual di pasar ini ditanam warga setempat. “Saya tanam bawang merah, sayur pitsai, lombok, tomat dan sayur lain di kebun, di dusun Lainjori dekat sungai Mondu,” kata Mama Loda Nangi. Tambah Mama Loda Nangi, warga setempa hanya jual berbagai produk sayur di Pasar Sorong Mondu belum terpikir untuk bawa jual ke Waingapu. Selama ini lanjut Mama Loda Nangi dirinya dan keluarga hanya kuat tanam dengan luasan yang sedikit di Mondu, karena tidak kuat timba air tiap pagi sore untuk siram sayur padahal luasan lahannya cukup luas.

Pasar Sorong Mondu [Foto Heinrich Dengi]
Pasar Sorong Mondu [Foto Heinrich Dengi]
Siang itu di Pasar Sorong Mondu yang jadi perhatian saya adalah ikan jenis Tape yang sudah kering dan digantung siap di jual, sudah lama saya tidak melihat gantungan ikan tape seperti ini, saat saya kecil ikan tape kering juga jadi penambah protein kami sekeluarga, kalau sudah dibalik tomat atau digoreng kering kemudian diulik di lumpang sampai hancur dan dicampur dengan tomat serta lombok sudah jadi menu istimewa keluarga kami,   meskipun jenis ikan Tape bukan ikan primadona warga Waingapu.

Selain ikan Tape yang jadi perhatian saya di pasar ini adalah jantung pisang. Jantung pisang bagi saya langsung saya hubungkan dengan Nutrisi Jantung Pisang, yang bila diberikan ke ternak bisa meningkatkan napsu makan dan mengurangi bau kotoran ternak. Resep sederhana Nutrisi Jantung Pisang begini: 1 bagian jantung pisang diiris kecil-kecil masukkan wadah bersih ( toples plastik), kedalam wadah yang sudah terdapat jantung pisang yang diiris dimasukkan 1 bagian gula sabu atau gula lainnya dengan berat sama, dicampur merata dan ingat jangan ditambah air. Tutup mulut wadah (toples) dengan kain bekas bersih dan diikat dengan karet dibagian mulutnya, campuran ini disimpan di tempat kering selama empat hari atau sampai keluar bau harum dari campuran ini. Bila sudah keluarbau harum dari campuran ini, peras campuran dan simpan air perasannya. Air perasan ini siap diberikan ke ternak. Nutrisi jantung pisang diberikan sehari 1 kali saja, 1 tutup botol Nutrisi Jantung Pisang dicampurkan ke makanan ternak, silahkan mencoba.

Sedih

Paling sedih tiap kali meluncur ke arah Haharu adalah saat bertemu dengan warga yang menenteng senjata, kadang ada yang bawa dua bahkan lebih senjata, sudah pasti senjata ini akan digunakan untuk menembak burung atau atau babi hutan yang ditemui diperjalanan. Dalam sekali perjalanan ke Haharu bisa jadi kita akan ketemu dengan beberapa motor yang pengedara dan yang digonceng masing-masing membawa sejata.

Warga Bawa Senjata Angin [Foto : Heinrich Dengi]
Warga Bawa Senjata Angin [Foto : Heinrich Dengi]
Mengherankan sekali bahwa sesama warga tidak ada yang berani melarang  warga lain membawa sejata dan menembak burung di wilayah RT, RW Desa atau Kecamatan  setempat. Padahal burung merupakan salah satu bagian penting dalam rantai makanan di kehidupan ini.

Setahu saya di daerah Haharu ada jenis burung yang dilindungi seperti Burung Puyu (Coturnix ypsilophora  ), Burung Tekukur (Streptopelia chinensis ) dan beberapa jenis burung lainnya. Kalau warga boleh dengan bebas membawa senjata dan menembak burung yang ada di alam ini, entah berapa lama lagi burung Puyu, Tekukur masih dapat kita liat di alam Sumba. Jangan-jangan di generasi berikutnya burung-burung ini tidak akan terlihat lagi oleh anak cucu kita.

Kalau saja di Desa ada aturan sendiri yang melarang siapapun membawa senjata memasuki wailayah Desa kecuali TNI dan Polri, paling tidak menjadi salah satu alternatif untuk menyelamatkan burung-burung di alam Sumba.

Hal lainnya yang membuat jengkel saat meluncur ke arah Haharu adalah sampah yang dibuang sembarang dalam jumlah banyak dipinggir jalan.

Lokasi Sampah [ http://mapcarta.com/15617320/Map}
Lokasi Sampah [ http://mapcarta.com/15617320/Map}
Sampah-sampah ini ada di beberapa titik, anatara lain di gambar no.1, 2 dan 3. Kalau dilihat darijumlah sampah yang menumpuk pastilah sampa-sampah ini tidak dibuang oleh warga setempat, karena terlihat jelas dari jenis sampahnya sepeti dos, botol plastik, plastik, botol kaca, bekas pan telur dalan jumlah banyak dan sampah lainnya. Perkiraan saya sampah-sampah ini dimuat di kendaraan dan sengaja di buang disini oleh warga dari Waingapu, entah siapa ya?

Selain meninggalkan pemandangan yang tidak enak dilhat, tentu saja sampah mengeluarkan  bau tidak sedap dan sampah-sampah ini jadi bahan makanan hewan yang setiap hari lewat di lokasi ini untuk sekedar mencari makan atau minum air di pantai dan kembali memakan rumput di padang.

Paranggang Kadahang

Susana Kadahang ramai sekali siang itu, tentu saja karena pas hari Paranggang di Kadahang. Hari Sabtu sudah jadi tradisi Paranggang atau pasar bagi Warga Haharu. Kalau Sabtu kemarin Parangang di Kadahang maka Sabtu depang pasarnya di Kapunduk Ibu Kota Kecamatan Haharu.

Saat Paranggang, biasanya terjadi pertemuan antara pejual dan pembeli, penjual biasanya datang dari Waingapu dengan membawa berbagai kebutuhan harian warga, bertemu pembeli yang datang dari berbagai desa di Haharu. Ada sembako, siri, pinang dan keperluan rumah tangga lainnya yang habis pakai tidak lupa penaraci juga ada.

Siang itu di Paranggang Kadahang kami bertemu ketua kelompok Tani Organik Wai Molung di Desa Kadahang Julius Ndakajawal. Julius menjelaskan saat ini sedang belajar pertanian organik didampingi pendamping dari Radio Max Foundation.

Pompa Barsha di Sungai Kadahang [Foto: Heinrich Dengi]
Pompa Barsha di Sungai Kadahang [Foto: Heinrich Dengi]
“Kami yang belajar di kelompok ini sekitar 35 anggota dan sudah mulai belajar mengolah lahan yang baik, menyemai beberapa bibit sayur seperti Pak Coy, Pitsai, Kol, Semangka dan beberapa jenis bibit sayur lainnya, ada juga yang sudah mulai di tanam di bedeng seperti Ketimun,” kata Pak Julius Ndakajawal.

Tambah Ketua Kelompok Tani Organik Wai Mulung Julius Ndakajawal kelompoknya juga mendapat bantuan 1 unit pompa Barsha.

“Pompa Barsha diberikan HIVOS  lewat Radio Max Foundation untuk digunakan warga memompa air ke kebun belajar, air dialirkan lewat pipa dari sungai ke kebun total jarak sekitar 400 meter, air ditampung di profil tank juga dipakai siram langsung ke semaian dan bedeng, sesekali anggota kelompok menggunakan alat yang berputar-putar kalau kena air dari pompa Barsha untuk menyiram sayur.”

Masih kata Julius Ndakajawal sejak alat ini dipasang pertengahan Agustus lalu samapai sekarang sistim pompa Barsha berjalan baik apa lagi alat ini untuk memopa air sama sekalai tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak BBM dari Fosil.

Sumur Wunga Timur

Sumur di Wunga Timur sudah menggunakan Pompa Air [Foto: Heinrich Dengi]
Sumur di Wunga Timur sudah menggunakan Pompa Air [Foto: Heinrich Dengi]
Selepas dari Kadahang kami meluncur ke Wunga di siang bolong itu, panas menyengat, kiri kanan jalan menanjak ke Wunga dari kadahang terlihat jelas. Tidak ada lagi warna coklat tebal muncul dari celah karang, yang tersisa warna hitam, tanda rumput baru terbakar dan yang tinggal bekas terbakar dan batukarang menghitam.

Musim panas begini yang paling sulit untuk Warga Wunga dan sekitarnya bukannya masalah makan, karena stok makanan biasanya mereka sudah siapkan. Karena  saat panen jagung dan ubi warga setempat memastikan produk dari kebun ini tidak akan dijual, karena akan disimpan sebagai lumbung makan warga disaat paceklik. Meskipun terkadang sesekali kalau terpaksa dan medesak stok makan ini dijual juga.

Yang paling sulit adalah masalah air. Sudah sejak nenek moyang kata orang Wunga mereka sulit air. Sumba air yang paling dekat dan bisa dijangkau adalah di desa tetangga desa Napu atau di Wunga adanya di Lindi.

Sumber air di Lindi selama ini menjadi sumber air utama Warga Wunga bagian Timur. Untuk sampai ke Lindi dari warga bisa berjalan sekira 3 M pergi dan 3 KM pulang bahkan ad ayang lebih jauh jaraknya. Setelah sampai di tebing batu, untuk samapi ke Lindi warga setempat harus menuruni tebung batu dengan kemiringan ekstrim, melewati dua tangga yang dibuat dari kayu hutan dengan ukuran kecil dan diikat dengan tali hutan dan kedalaman sekitar 150 meter. Setiap hari warga paling sekdit 2 kali ke Lindi untuk mengambil air untuk kebutuhan domestik.

Sejak pertengahan 2012 situasi sulit air ini sedikit berubah meski tidak merubah 100%, karena tahun itu penggalian 1 sumur di rumah keluarga Matius Turanjanji di Wunga Timur berhasil mendapatkan air. Penggalian sumur dilakuan secara manual menggunakan linggis, hamar dan betel oleh tim kerja Radio Max.

Untuk pengerjaan sumur ini, tim kerja Radio Max didukung dana dari perpuluhan beberapa kawan salah satunya dari Pak Iskandar Saher. Sumur yang digali manual selama lebih dari tiga bulan berhasil mendapatkan sumber air dan bisa dimanfaatkan oleh paling sekikit 30 sampai 40 Kepala keluarga.

Matius Turanjanjdi di SUmur Wunga Timur  Latar Belakang Sisitim Pembangkit Listirk Tenaga Matahari [Foto Heinrich Dengi]
Matius Turanjanjdi di  Latar Belakang Sisitim Pembangkit Listirk Tenaga Matahari [Foto Heinrich Dengi]
Matius Turanjanji mengatakan walaupun di musim kering air masih ada di sumur.

“4 tahun sudah kami pakai air di sumur ini, dan sudah bebererapa tahun melewati musim kering, air masih ada di sumur meskipun debet airnya berkurang, kadang ada warga yang sekali datang pake motor bawa pulung 30 liter atau 6 jerigen air, ada juga yang bawa pulang air lebih banyak,” kata Matius Turajanji.

Tambah Matius, saat ini di sumur yang ada di lokasi tanahnya sudah menggunakan pompa air yang sumber listriknya dari tenaga matahari.

“Sekarang kami tinggal tekan tombol pompa air hidup dan air naik ke profil, sehari kami pompa air pagi dan sore, kadang sekali pompa bisa dapat sampai seribu liter dalam 1 jam, tetapi saat seperi sekarang musim kering air yang bisa dipompa dari sumur paling tidak 200 liter cukup membantu untuk kebuthan harian keluarganya juga beberapa keluarga lain yang datang mengambil air di sumur ini.

Saatnya Pulang ke Waingapu

Matahari mulai condong ke Barat dan sudah waktunya pulang ke Waingapu. Ditemani angin laut kencang menerpa badan, motor diarahkan ke Timur dari jalan lintas utara Sumba.

Mungkin tidak akan lama lagi jalan lintas Utara Sumba akan terhubung mulus, menghubungkan 4 kabupaten di Sumba, mengikuti alur pantai Utara Sumba yang suatu saat nanti akan jadi primadona pariwisata Sumba, kita tungu saja karena embrionya sudah mulai muncul. [Heinrich Dengi]

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close