Scroll to Top
Dari Sumba: Selamat Hari Tani Nasional!
Posted by Heinrich Dengi on 23rd September 2015
| 1500 views
Tia, anak Mama Eti [Foto: Heinrich Dengi]
Tia, anak Mama Eti [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Entah kenapa perasaan saya siang ini campur aduk antara terharu, senang dan bangga mendegar cerita tiga orang ibu yang sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sudah beberapa waktu terakhir ini menanam dan merawat sayur organik di lahan mereka.

Konteksnya begini, pada umumnya di Sumba Timur warga yang memiliki lahan untuk bertanam selain padi, hanya memanfaatkan lahannya untuk di taman jagung hanya pada musim hujan antara Desember sampai Maret, setelah itu lahan dibiarkan nganggur, tidak ditanam apapun sampai Desember berikutnya warga tanam jagung lagi dan panen di Maret, ini jadi siklus dan berluang setiap tahun.

Beberapa tahun lalu dimulai dari acara Ayo bertani Organik di Radio Max FM Waingapu muncullah keinginan dari beberapa warga yang juga pendengar setia radio Max FM Waingapu untuk bisa belajar tentang pertanian organik, maka mulailah pertemuan intens saya dan tim Radio Max FM dengan warga yang tergabung dalam kelompok tani organik dan ada di beberapa kecamatan di Sumba Timur.

Siang ini 3 Ibu rumah tangga yang juga petani organik menceritakan dengan gembira pengalaman tanam dan panen sayur organik dengan penuh percaya diri.

Mereka juga boleh dikata mewakili pendengar Radio sekaligus petani yang mendapat manfaat dari bertani organik yang dimulai dari acara Ayo bertani Organik di Radio Max FM Waingapu kemudian dipraktekkan di kebun.

Mama Eti  [Foto:Heinrich Dengi]
Mama Eti [Foto:Heinrich Dengi]

Mama Eti salah satu anggota Kelompok Tani Organik Kalu mengatakan selama ini dirinya mengunakan pupuk kompos buatan sendiri juga pupuk cair organik bio slurry yang dibuat di Max FM untuk keperluan pemupukan sayur di kebunnya.

Heinrich : Sudah pernah pakai Bio Slurry ( Pupuk Cair Organik )?
Mama Eti : Sudah pernah pakai.
Heinrich : Bagaimana, bagus tidak hasil panennya?
Mama Eti : Bagus.
Heinrich : Pupuknya untuk sayur apa saja?
Mama Eti : Untuk pitsai, bawang, pak coy, sayur mie, kol, bunga kol, tomat, lombok.
Heinrich : Cara pakainya?
Mama Eti : Cara pakainya satu minggu satu kali saja saya.
Heinrich : Hasilnya bagaimana?
Mama Eti : Hasilnya mantab, bagus memuaskan
Heinrich : Dapat uang berapa selama ini
Mama Eti : Dua juta.

Tambah Mama Eti, selama ini jika dirinya menjual sayur hasil penjualan sayur ditabungya sedikit sedikit di bank, dan terakhir sudah lebih dari 2 juta yagn di tabung selain uang dipakai untuk keperluan lainnya. Lanjut Mama Eti, uang hasil jual sayur juga dipakainya untuk beli keperluan sekolah anak-anaknya.

Mama Pina [Foto: Heinrich Dengi]
Mama Pina [Foto: Heinrich Dengi]

Selain Mama Eti, Mama Pina dari Kecamatan Kanantang juga senang dengan hasil panen dan penjualan sayur organiknya.

Heinrich : Mama pina pakai Bio Slurry ( Pupuk Cair Organik )? Bagaimaan Pupuk Bio Slurry, bagus?
Mama Pina : Bagus, tanaman subur, sayur hijau
Heinrich : Sayur apa saja?
Mama Pina : Sayur ini apa, pitsai hanya itu saja.
Heinrich : Cara siramnya bagaimana?
Mama Pina : Cara siramnya dilakukan sore hari, ini pupuk 4 tutup jerigen 5 liter dicampur air 5 liter, kalau air masih jernih saya eok begini, kalau masih jernih saya tambah pupuk cair.
Heinrich : Siram pupuknya bagaimana?
Mama Pina : Siram pupuknya 1 minggu 2 kali, kalau 2 kali minggu saya liwat satu minggu, baru siram lagi pupuk.
Heinrich : Hasil sayurnya besar-besar?
Mama Pina : Ia to, besar-besar sayurnya.
Heinrich : Jual berapa sudah?
Mama Pina : Lima ribu 1 pohon pitsai.

Tambah Mama Pina saat bercerita siang tadi Rabu (23/09/2015), selama dirinya tanam sayur pitsai dan panen sdalam 2 bulan terakhir yang sudah dijula lebih dari Rp800ribu selain yang dimakan keluarga. Masih kata Mama Pina, selama ini lahan di sekitar rumahnya hanya dibiarkan saja setelah panen jagung, tetapi sekarang setelah tahu menanam sayur organik yang baik dirinya tidak lagi membiarkan lahan di sekeliling rumahnya nganggur.

Kata Mama Pina lagi, uang yang didapat dari jual sayur digunakan juga untuk bayar beras murah, selebihnya untuk beli beras serta dipakai putar beli kopi dan tembakau untuk dijual lagi.

Mama Eon, Memberikan Penjelasan Kepada Anggota Kelompok Tani Dari Kec. Kahunga Eti [Foto: Heinrich Dengi]
Mama Eon, Memberikan Penjelasan Kepada Anggota Kelompok Tani Dari Kec. Kahunga Eti [Foto: Heinrich Dengi]

Cerita yang lain datang dari Mama Eon, salah satu anggota Kelompok Tani Organik Kalu, kata Mama Eon selama ini kebiasaan keluarganya membiarkan lahan kosong tanpa ditanam setelah panen jagung.

“Lepas dari musim hujan tidak pernah tanam apa-apa, dari tahun 2010 waktu itu, yang kami dengar dari radio ada acara ayo bertani organik itu, ya dari situ kami mulai menanam, sekarang saya tanam ada tomat, pitsai, bawang, letus, ada letus, ada lombok, bunga kol, kacang panjang, ketimun dan buncis,” kata Mama eon di kebunnya siang tadi Rabu (23/09/2015).

Tambah Mama Eon uang yang diperoleh dari hasil panen sayur di kebunnya sudah lebih dari Rp2juta selain sayur yang dimakan keluarga ada juga sayur yang dipersembahkan di gereja sebagai sebagai bentuk ucapan syukur atas berkat Tuhan bagi keluarganya.

Bagi banyak orang mungkin ini hanya cerita biasa saja, tapi bagi saya ini suatu proses perubahan yang sedang terjadi di masyarakat untuk menghargai tanah yang dimiliki dan memanfaatkan tanah untuk diolah dan menghasilkan panen melimpah.

Ekpresi kegirangan karena hasil panen melimpah dari ke tiga ibu sekaligus petani sayur ini, membangkitkan semangat, harapan bagi banyak petani lain di Sumba dan Indonesia untuk bangkit dan menghasilkan hasil panen melimpah untuk kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan produk lokal yang tersedia melimpah dan mudah didapatkan.

Selamat Hari Tani Nasional!

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons