Scroll to Top
Waktunya Panen
Posted by maxfm on 29th Agustus 2015
| 1621 views
Hasil Panen Bawang Merah dari Bedeng Mama Eti
Hasil Panen Bawang Merah dari Bedeng Mama Eti

MaxFM, Waingapu – Mama Eti begitu biasa kawan anggota kelompok memanggilnya, panen bawang merah di kebun Kelompok Tani Organik Kalu di Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Sumba Timur, NusaTenggara Timur NTT.

Mama Eti memanen bawang merah satu bedeng dengan luas sekitar 0.2 are sore ini, beruntung saya mendapat bagian yang diantar ke rumah.

“Bawang merah ini ditanam sekitar 3 bulan lalu dari bibit yang berbentuk biji kecil dari jenis Tuk-Tuk, biji bibit bawang merah disemai di polibag yang terbuat dari daun pisang,” kata Mama Eti Sabtu (28/08/2015)

Lanjut Mama Eti untuk persiapan bibit membutuhkan waktu agak lama, sampai bibit bawangnya mengeluarkan daun halus sebesar jarum dibutuhkan waktu sampai 10 hari, sedangkan semaian siap dipindahkan ke kebun pada usia semai sekitar 45 hari sesudah semai.

Hasil Panen Bawang Merah dari Bendeng Mama Eti
Hasil Panen Bawang Merah dari Bendeng Mama Eti

Mama Eti menambahkan selama menanam bawang merah dirinya menggunakan Pupuk Organik Cair Bio Slurry produksi Radio Max Foundation dengan cara pemberian ke bawang merah dilakukan sekali dalam 1 minggu dengan takaran 1 tutup botol POC Bio Slurry dicampurkan ke air 1 liter kemudian disiramkan ke tanamanan.

Masih kata Mama Eti, selama ini tanaman bawang merahnya sehat dan tidak terserang penyakit.

Dari pantauan di kebun Kelompok Tani Organik Kalu selain menanam bawang merah Mama Eti juga menanam sayur Pak Coy ada 2 bedeng, Pitsai 2 bedeng. Selama ini sudah beberapa kali dirinya panen Pak Coy juga Pitsai, dan tidak ada kesulitan untuk menjualnya, biasanya kata Mama Eti pembeli sayur langsung datang ke kebunnya dan memilih sendiri sayur mana yang mau dibeli. Uang yang didapatnya dari hasil menjual sayur tambah Mama Eti digunakan seperlunya untuk membeli keperluan sekolah anaknya dan sebagian disimpan di tabungan, meski yang ditabung tidak banyak dirinya cukup senang karena hasil keringatnya bisa ditabung.

Sayur Kol hasil Panen dari Bedeng Mama Eon
Sayur Kol hasil Panen dari Bedeng Mama Eon

Sementara itu dibagian kebun yang lain Mama Eon yang menanam tomat juga sudah panen tomat beberapa kali, pembeli kata Mama Eon biasanya datang sendiri di kebun, kadang ada yang beli 10 Kg tomat, meskpiun ada juga yang beli Tomat perbuah untuk dibuat sambal tomat.

Selain tomat Mama Eon juga sudah panen Kol dan bunga Kol, harga Kol kata mama Eon bagus, untuk sayur kol yang beratnya 2 Kg lebih harga Rp15 ribu, sayur Kol yang kecil biasanya harga Rp10 ribu dan sekarang kata Mama Eon dirinya panen sayur Kol yang kedua. Selain Kol dan Tomat, Mama Eon juga panen sayur Pitsai dan Pak Coy dan semuanya tidak ada masalah dengan penjualan. Untuk pupuk selain kompos yang dibuatnya sendiri juga menggunakan POC Bio Slurry produksi Radio Max Foundation.

Untuk tanam sayur, ketersediaan air menjadi sangat penting, karena bila air kurang maka hasi panen bisa gagal.

Kincir Air Produksi Lokal
Kincir Air Produksi Lokal

Di Kelompok Tani Organik Kalu, selama ini menggunakan air dari Sungai Payeti yang dialirkan ke kebun dengan jarak sekitar 250 meter dari bantaran sungai, air dialirkan melalui pipa pvc. Air disedot dari sungai payeti menggunakan mesin sedot air (bbm dari bensin) dimasukkan ke dalam bak penampung kemudian dialirkan ke kebun.

Dalam 2 bulan terakhir selain meyedot air menggunakan mesin sedot air berbahan bakar bensin, kelompok tani mendapat pasokan air dari Sungai Payeti menggunakan kincir air produksi lokal dengan kapasitas memompa air yang tidak terlalu besar sekitar 7 kubik perhari tetapi sudah cukup membantu memompa air ke bak penampung.

Pompa Barsha dari Belanda di Sungai Payeti
Pompa Barsha dari Belanda di Sungai Payeti

Dalam seminggu terakhir Kelompok Tani Organik Kalu melalui Radio Max Foundation mendapat pinjam pakai satu buah kincir air dengan nama Pompa Barsha yang mampu memompa air 15 ribu liter per hari, Pompa Barsha bisa digukanan kelompok Tani Organik Kalu atas bantuan HIVOS yang bekerja sama dengan aQysta pembuat pompa air Barsha. Dengan tambahan Pompa Air Barsha ini otomatis mesin sedot air ber bahan bakar bensin tidak dipakai lagi karena kebutuhan air tercukupi dengan Pompa Barsha dan kincir air lokal.

Pompa Barsha tidak memerlukan BBM untuk memompa air, cukup Pompa Barsha di taruh di sumber air bergerak dan tenaga gerak air yang memutar Pompa Barsha di air untuk memompa air. Pratap salah satu penemu pompa Barsha mengatakan untuk situasi optimal melihat banyaknya air dan kecepana air secara maximal Pompa Barsha bisa memompa air sampai 30.000 liter per hari dan bisa memompa air sampai di ketinggian 15 meter.

Bak Air dukungan BNI
Bak Air dukungan BNI

Mewakili anggota kelompok tani saya Heinrich Dengi dari Max FM Foundation menyampaikan terima kasih kepada dokter Rani, LIFE Jepang, BNI lewat dana sosialnya, HIVOS, aQysta, Pak Alfons, dokter Rudi Ibrahim  dan banyak pihak lainnya yang sudah membantu dalam proses memanfaatkan lahan tidur di Kelompok Tani Organik Kalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email