Scroll to Top
Stop Bakar Hutan dan Padang Sumba!
Ditulis oleh maxfm on 11th Oktober 2014
| Dilihat 1168 kali
Salah satu bagian di sekitar Taman Nasional Laiwanggi Wangga Meti
Salah satu bagian di sekitar Taman Nasional Laiwanggi Wangga Meti

MaxFM, Waingapu – Hari cukup siang saat kami meluncur ke Desa Ramuk Sumba Timur menggunakan mobil, recananya perjalan akan kami tempuh dalam 5 jam dan saat berangkat  cuaca Waingapu cukup menyengat tidak mampu dilawan pendingin mobil.

Dari Waingapu mobil meluncur ke Kawangu berbelok ke kanan di depan Puskesmas Kawangu menuju ke arah Selatan dengan Rute, Waingapu-Kawangu-Laindeha-Tana Rara-Lai Ronja Wangga Meti-Katiku Wai dan Ramuk

Perjalanan ini sudah lama kami rencanakan untuk mengikuti Festival Masyarakat 3 gunung di Sumba yakni masyarakat Gunung Wangga Meti di Sumba Timur, Gunung Tana Daru di Sumba Tengah dan Gunung Yawila di Sumba BaratPasola Sebagai Ungkapan Syukur Penganut Marapu Di Sumba. Read more ... » Daya yang juga dikenal dengan Festival Wai Humba.

Saya sendiri sudah menyiapkan diri beberapa hari sebelumnya dengan mengatur pakaian, jaket tebal, syal motif Sumba karena salah satu syarat ikut Festival Waihumba minimal menggunakan selendang motif daerah dan beberapa keperluan lain seperti 2 lampu led 3 watt, aki besar, inverter dan yang bisa menyalakan beberapa lampu kalau saja di sana tidak  ada penerangan.

Saat kami berangkat, semuanya ceria, senda gurau serta berbagi cerita lucu sehingga perjalan ini  menyenangkan.

Suasana senang dan lucu mulai berubah menjadi galau  saat kami memasuki daerah Laindeha, karena mulai terlihat bekas rumput terbakar, warna hitam keabuan di padang rumput terlihat begitu jelas sebagai tanda daerah ini baru saja terbakar atau padangnya dibakar. Kendaraan makin maju ke arah Tana Rara makin terlihat kobaran api memerah membara datang dari arah lembah padang rumput menuju ke bagian atasnya mendekati jalan yang kami lewati. Jalan yang kami lewati persis ada  di ketinggian punggung bukit dan tidak ada pilihan lain selain kami harus menjauh dari tempat padang terbakar ini kalau tidak mau kendaraan disambar api. Rekan seperjalan saya ke Desa ramuk  dari HIVOS Adi Lagur menyampaikan kegalauannya tentang situasi ini, “ Kebakaran tahun ini sangat memprihatinkan, telah merambah hampir sebahagian besar padang di pulau Sumba yang terbentang dari Barat hingga ke Timur,” kata Adi Lagur.

Adi Lagur melanjutkan “Bahkan hutan Tana Daru dan Wanggameti yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat Sumba dan sumber air utama bagi Sumba juga dilalap si Jago Merah.” Masih kata Adi Lagur, “Kebakaran padang seperti ini hampir saja meruntuhkan niat sucinya untuk ikut serta membangun Sumba dan memelihara lingkungan hidup Sumba,”  bagaimana tidak kata Adi Lagur niat masyarakat lain menanam pohon dan memelihara hutan, hangus sekejap karena dilalap api yang tidak pernah diketahui penyebabnya.

Salah satu sisi bukit di Laindeha
Salah satu sisi bukit di Laindeha

Di perjalan dari Laindeha ke Tana Rara di beberapa lokasi di kiri dan kanan jalan ada bekas terbakar yang parah, tidak lagi terlihat bekas pohon atau alang-alang, semua tinggal debu, beberapa pohon di lembah tetap berdiri  tanpa daun, dan alang-alangpun habis terbakar, susana di mobilpun terasa makin galau karena setelah lewat Tana Rara mobil mulai mengarah ke Taman Nasional Lai Wanggi Wanggi Meti suasana di luar mulai gelap dan makin terlihat api menyala terang di padang yang ada di sekitar jalan yang kami lewati, terlihat padang yang ada di belakang kami, di samping kanan dan kiri menyala karena disambar api.

Suasana malam membawa perjalanan kami hanya tertuju pada jalan yang disorot lampu kendaraan dan gelap menutupi pandangan  padang dan hutan yang kami lewati di daerah Lai Ronja, Wangga Meti, Katiku Wai dan Ramuk.  Dalam kegelapan malam topic bicara beralih ke jalan yang rusak yang kami lewati hamper 5 jam. Di perjalan ini hampir sulit ditemukan jalan mulus sekira 100 meter saja, aspal yang terkupas besar membelah jalan dan lubang di tengah atau samping jalan sudah lumrah belum lagi jalan batu yang sudah terlepas dari badan jalan yang harus diantisipasi berkilometer. Beruntung tidak terlalu ada soal dengan kendaraaan selama perjalanan ini.

IMG_0200Melihat infrastruktur jalan yang rusak seperti ini, saya jadi mengaminkan keinginan masyarakat Sumba Timur untuk memekarkan wilayahnya agar layanan publik termasuk jalan dan jembatan bisa dilihat dan diperbaiki dengan lebih cepat oleh Pemerintahan Kabupaten yang baru, kasihan masyarakat setempat yang daerahnya penghasil kemiri, kopi, rotan sulit membawa hasil buminya ke Waingapu karena jalan yang rusak.

Saat malam, Purnama menghiasi gelap kami di Desa Ramuk, udara malam naik agak hangat, tidak seperti cerita banyak kawan yang pernah ke Ramuk yang mengatakan udara di sini dingin sekali. Malam itu kami berkumpul di salah satu rumah yang sudah disediakan Panitia lokal untuk para undangan merebahkan badan beristirahat.

Di beberapa rumah warga Ramuk listrik sudah dinikmati  yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya, masing-masing rumah dijatah 3 buah lampu 5 watt sudah cukup untuk menerangi rumah warga.

Malam makin naik beberapa kawan langsung tertidur karena kelelahan tapi cukup banyak juga yang tidak bisa tidur salah satunya saya, tetap terjaga dan berbagi dengan beberapa kawan sampai dini hari. Di sana sini sudah  terdengar dengkuran keras yang bersautan seakan ingin menemani malam. Tinggal kami bertiga yang tidur di rumah panggung  bagian depan, yang lain sudah masuk ke bagian dalam rumah dan mencari tempat yang paling nyaman untuk tidur. Akhirnya badan ini tidak bisa melawan alam dan tertidur juga beralaskan tikar.

Saya tidur menggunakan jaket ditemani  kaos kaki, kawan saya yang satu menggunakan kain tebal serta yang seorang lagi dengan jaket tebal dan beralaskan kasur tipis. Menjelang pagi dingin menusuk mulai terasa, mungkin udara dingin ini yang dibicarakan banyak kawan yang pernah ke Ramuk, dinginnya menusuk sampai ke sumsum dan belangsung sampai sekitar pukul 8 pagi.

Suasana Malam di Desa Ramuk
Suasana Malam di Desa Ramuk

Desa Ramuk masuk dalam kawasan Taman Nasional Lai Wanggi Wangga Meti di ketinggian 800 mdpl, Yahya Ndula Rimu ( 60 th ) warga Ramuk mengatakan di desa ini tumbuh baik tanaman kemiri, kopi, kelapa dan rotan, “sekitar 300 rumah tangga tinggal di sini, saat awal nenek moyang kami tinggal di sini mereka biasa berladang dengan tebas bakar itu terjadi sampai tahun 1980-an, sejak tahun 1984 ada pendampingan dari LSM Tananua, masyarakat dibimbing untuk tidak merusak hutan dan mulai berubah cara olah lahan, dari tabas bakar ke mengolah lahan dengan cara tera sering dan tidak lagi berladang berpindah-pindah.” Tambah Yahya Ndula Rimu “Sejak tahun 2001 masayarakat sudah mulai mengembangkan hutan keluarga, masyarakat setempat menanam anakan pohon mahoni, gamalina, induwatu dan pohon lokal lainnya di tanah sendiri dan sekarang pohonnya sudah besar dan bisa dipanen.” Sekarang lanjut Yahya Ndula Rimu tidak sembarang lagi masyarakat menebang pohon dan membakar hutan, warga dega sudah ikut menjaga hutan.

“Mulai Tananua mendampingi warga untuk piara anakan baru lakukan penanaman, biasa juga kami terima anakan dari pemerintah kita terima anakan, kita tanam, kadang  masyarakat juga usahakan sendiri anakan untuk ditanam, 5 tahun lalu kami juga sudah punya hutan rakyat seluas 25 hektar dan  dirawat oleh 25 orang anggota kelompok saya sendiri yang ketua kelompok danhasilnya bagus,” tegas Yahya Ndula Rimu.

Saat akan pulang ke Waingapu dari desa Ramuk hari masih terang, di sepanjang perjalanan kami kami masih bisa melihat dengan jelas situasi Taman Nasional yang membentang dari Ramuk hingga Desa Wangga Meti

Saat belum sampai 500 meter  dari desa Ramuk mata kami mulai disuguhkan  situasi hutan yang menyedihkan, di sana sini terlihat jelas bekas api membakar, debu bekas terbakar terlihat hitam keabuan, terlihat pohon-pohon bekas ditebang hanya tinggal sekitar 20 cm dari tanah, di bagian kiri ke atas gunung ada bekas pohon di tebang di bagai kanan di lembah dan gunung berikutnya terlihat warna coklat bekas bakar dan banyak areal yang sudah tidak ada hutannya, tinggal hanya beberapa pohon tegak terlihat dari kejauan, bekas-bekas api yang membakar terlihat jelas, perasaan haru biru bercampur cemas membuat pikiran melayang jauh.

LSM Burung Indonesia pada 2007 lalu pernah mengeluarkan data tentang luas tutupan hutan di yang diperkirakan tersisa 6,5% padahal di  tahun 1927, luas tutupan hutan di pulau Sumba diperkirakan masih sekitar 50 % dari luas daratan. Masih dari data Burung Indonesia hasil analisa foto udara menunjukan bahwa pada tahun 1997 tutupan hutan tersisa 10 % dan di akhir tahun 2000 dari analisa Burung Indonesia  terlihat penurunan, luasan tutupan hutan menjadi sekitar 6,5 % saja. Padahal secara ideal, dibutuhkan luas hutan sebanyak 30 % dari luas daratan suatu pulau.

Salah satu bagian di wilayah TN Lai Wanggi Wangga Meti yang terbakar
Salah satu bagian di wilayah TN Lai Wanggi Wangga Meti yang terbakar

Melihat situsi hutan di TamanNasional Lai Wanggi Wangga Meti yang terbakar beberapa hari lalu saya memperkirakan luas tutupan hutan di Sumba pada 2014 pasti lebih kecil dari 6,5%, dan kalau tidak ada penanganan untuk mencegah pembakaran hutan atau pencegahan hutan terbakar maka tidak butuh waktu lama lagi untuk habisnya hutan di Sumba dan itu berarti ancaman yang  nyata bagi masyarakat sumba ada didepan mata, yang paling saya takutkan adalah hilangnya sumber air untuk Sumba selain kemungkinan buruk lainnya.

Tidak terbayangkan kalau Hutan Wangga Meti di Sumba Timur , Hutan Tana Daru di Sumba Tengah dan Hutan Yawila di Sumba Barat Daya makin berkurang dengan cepat, ancaman penggurunan yang pernah dibicarakan 4 tahun lalu akan menjadi nyata dan makin lengkaplah penderitaan masyarakat Sumba.

Tentang ancaman penggurunan di Sumba pernah di ungkap oleh Dosen Undana Kupang DR. L Michael Riwu Kaho yang ditulis mediaindonesia.com pada 3 Maret 2010. Michael Riwu Kaho mengatakan Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu.

“Kami mengambil sampel penelitian pada Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 100-200 meter di atas permukaan laut dengan formasi vegetasi asli adalah padang rumput savana,” kata Riwu Kaho.

Lanjut Riwu Kaho, dikutib dari mediaindonesia.com “”Kondisi menuju penggurunan ini sedang terjadi di Sumba Timur, sehingga kemungkinan terjadinya proses penggurunan di wilayah timur Pulau Sumba itu bisa saja terjadi. Ini semua terjadi akibat aktivitas manusia yang juga dipengaruhi oleh variasi iklim.”

Hari makin gelap saat  perjalan melewati Desa Lai Ronja menuju ke Tana Rara, dari kejauhan di padang terbuka mulai tampak api membakar padang sekaligus di beberapa titik, kami hanya bisa menatap dari kejauhan, dan menyesali situasi ini tanpa dapat berbuat apa-apa. Diskusi di perjalan terus seputar kebakaran hutan, kebakaran padang.

Yang kami tidak kira ketika menjelang masuk kota Waingapu dari ketinggian Laindeha terlihat api membakar padang yang ada di bagian Timur di sekitar translok Maubokul, api merah membesar dalam kegelapan malam tanpa mampu dipadamkan.

Meski badan capek dan mata terasa berat untuk terbuka segera saja saya hidupkan laptop untuk mengirim beberapa gambar di media social dan responnya dari :

Maddi , “Kasian sekali om Hein, kemarin saya liat fotonya di twitter, beta setuju ada gerakan anti api tak bertanggung jawab, kerjasama dengan teman2 peduli lingkungan di Sumba, Beta tau ada anak-anak muda yang peduli lingkungan, kasian.”

Ada juga komentar dari Rambu : saat musim kemarau kok hobinya membakar, kasihan!

Mami Koga di Jepang, “Kapan terjadi kebakaran ini? Dimana di Sumba? Sudah apinya dipadamkan? Kebakaran begini sering terjadi di Sumba?, iya sangat sedih, kebakarannya oleh sebab tanahnya kering?”.

Umbu Hunga Meha Tarap dari Jakarta juga menanggapi:  “Heran banget deh….kenapa orang-orang tidak  sadar-sadar ya, bahwa membakar padang baik disengaja ataupun buang puntung rokok sembarangan sangat merugikan kita semua, kok tidak  ada bedanya degan 40 tahun lalu yang mayoritas generasi tidak  sekolah?”

Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah padang dan hutan ini terbakar atau sengaja di bakar serta apa yang kita bisa lakukan secara bersama untuk ikut mengatasi kebakaran padang dan kebakaran hutan di Sumba? ( Heinrich Dengi )

#stopbakarhutansumba

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close